
Anna berbaring di ranjang, di kamar tempatnya dulu sering jungkir balik akibat tidurnya yang jumpalitan. Sudah lama ia tidak merasakan kasur empuk yang dibalut alas bergambar boneka panda. Anna memang penggemar boneka, sampai sarung bantal dan alas kasur pun harus bergambar boneka.
Stefi langsung pulang ketika Herlambang menuntun Anna memasuki taksi saat di rumah sakit.
Anna mengusap alas kasur melepas kerinduannya pada kasur lama. Ah, ia jadi kayak flashback, kembali ke masa kecil. Yang suka berguling bebas di kasur itu.
Herlambang memasuki kamar dan menyerahkan segelas air mineral. Dengan degupan keras, Anna meneguk isi gelas yang diberikan.
“Alan sudah tahu kejadian ini belum?” tanya Herlambang.
“Belum. Jadi gini ceritanya Yah, niatnya malem ini Anna mau nginep tempat Ayah. Anna kangen sama Ayah. Anna nungguin Alan tapi Alan belum pulang juga sampai larut malem. Ayah kan tau Alan itu sibuk banget. Ya udah, Anna pergi sendirian aja. Tapi dalam perjalanan, Anna malah jatuh dari motor. Ayah jangan kasih tau Mas Alan, ya. Anna nggak mau Mas Alan cemas. Lagian, Anna nggak kenapa-napa, kok. Nggak ada yang berbahaya. Cuma luka luar aja.” Anna mengelus lututnya yang dibalut perban.
Herlambang tersenyum. “Alangkah lebih baik Alan tau kondisimu. Dia kan suamimu. Besar kecil yang terjadi diantara kalian, harus sama-sama tau.”
“Anna nggak mau Mas Alan cemas, Ayah. Mas Alan tuh suka lebay kalau pas lagi cemas. Pokoknya, Mas Alan nggak usah dikasih tahu.” Terpaksa Anna berkata demikian supaya Ayahnya tidak curiga kalau sebenarnya ada masalah dalam rumah tangganya. Karena jika Ayahnya tahu Alan sudah dikabari tapi tidak mau datang, tentu Anna yang malu. Lebih baik ia bicara begitu.
“Tapi kamu udah ijin Alan kalau pulang kemari, kan?”
“Ya udah. Istirahatlah.” Herlambang menyelimuti Anna dan melenggang meninggalkan kamar.
Anna melepas nafas lega karena akhirnya Ayahnya mempercayainya. Ia memejamkan mata. Sebenarnya ia sangat mengharapkan kehadiran Alan di sisinya. Di saat sedang terluka luar dalam, satu-satunya yang ia harapkan hanyalah sosok yang dicintai. Ia ingin menjatuhkan kepalanya di dada Alan, ingin mengeluh bagian mana saja yang sakit, ingin bermanja dan diperhatikan. Tapi kenyataannya Alan tidak datang menemuinya. Padahal Anna mendengar dengan jelas ketika tadi Stefi menelepon dan memberitahukan kecelakaan pada Alan. Tapi sampai detik ini Alan tidak juga muncul untuk menemuinya. Alan tidak datang ke rumah Herlambang setelah Stefi mengirim pesan kepada Alan bahwa Anna pulang ke rumah Herlambang.
Ayo dong, Alan! Pliis... jenguk aku! Minimal telepon aku dan tanyakan kabarku. Apa kamu memang nggak sayang aku? Anna merutuk dalam hati sambil menatap hape-nya yang sepi. Tidak ada dering telepon dan tidak ada chat masuk. Berkali-kali ia membuka kontak dan melihat nama ‘My Husband’ di daftar kontak. Kemudian membuka koleksi foto-foto Alan di galeri.
Ya ampun, Anna sangat merindukan suaminya. Jari-jainya mengelus wajah Alan di foto itu. Ia benar-benar ingin menelepon Alan, tapi rasanya percuma jika Alan masih marah padanya. Buktinya, Alan tidak mau datang meski tahu Anna baru saja kecelakaan. Artinya Alan masih sangat marah padanya. Mungkin Alan butuh waktu untuk menyendiri. Tapi benarkah Alan sendiri? Ataukah dia sedang memadu kasih dengan Cintya? Kenapa pikiran tentang Cintya terus mengganggu kepalanya?
Anna meringis, demi menjaga perasaan orang lain, ia harus mengorbankan perasaannya sendiri, dan merelakan hatinya tersiksa dililit kerinduan.
***
TBC.