
“Kak Angel nggak mungkin menikah dengan lelaki pilihan ayah. Ayah tahu sendiri kondisi Kak Angel bukan? Anna juga tahu kondisi ayah harus diselamatkan.”
“Kenapa harus kamu yang mengorbankan diri?”
“Karena Anna sayang sama Ayah dan Kak Angel. Jangan sampai timbul masalah antara ayah dan Kak Angel gara-gara masalah ini. Karena jelas Kak Angel sangat mencintai Kak Colin dan sulit menerima perjodohan ini, Yah. Anna ingin keluarga kita tetap utuh.”
“Anna...” Herlambang tidak sanggup melanjutkan. Ia merasa bersalah melihat pengorbanan bungsunya, yang rela melepas masa depan dengan pernikahan di usia dini.
“Apa keluarga William nggak akan menerima jika calon mempelai wanitanya diganti? Yang penting kan masih keturunan ayah,” celetuk Anna sekenanya. Entah kalimat asal nyeplos itu diterima ayahnya atau tidak.
Herlambang mengesah. Untung saja, Wiliam tidak pernah menunjuk Angel ataupun Anna yang akan menjadi menantunya, Wiliam hanya menunjuk salah satu putrinya harus menjadi menantunya. Artinya Herlambang tidak salah jika mengganti calon istri Alan.
“Kamu yakin, Anna?” Herlambang menatap Anna dalam-dalam.
“Yakin, Yah.” Anna menjawab dengan anggukan mantap.
“Baiklah, Ayah akan bicarakan masalah ini ke Pak William. Semoga tidak akan menjadi masalah. Pak William dan putranya memang belum tahu putri yang mana yang akan ayah nikahkan.”
Melihat Anna percaya diri dan penuh semangat, Herlambang merengkuh bahu Anna dan membawa ke pelukannya.
***
Entah kenapa jantung Anna rasanya tidak nyaman sejak Herlambang membawanya ke sebuah restoran mewah. Mungkin karena sebentar lagi ia akan dipertemukan dengan calon suaminya.
Apa? Calon suami? Lah, kok Anna malah jadi kaget sendiri menyadari dia sebentar lagi akan menikah. Rasanya seperti mimpi. Lalu apa jadinya kelak setelah ia menjadi istri seorang pengusaha kaya?
Anna melirik Herlambang yang duduk di sisinya. Wajah Ayahnya tak kalah gugup, mungkin ayahnya takut William akan menolak Anna.
Sampai detik ini Anna masih tidak yakin jika dirinya akan menikah. Dan mendadak gugup bukan main.
Sekilas bola mata Anna mengedar memperhatikan kemewahan restoran. Bahkan meja yang telah dipesan oleh William dan kini ia tempati itu tampak sangat istimewa.
Tak lama sepasang suami istri muncul mendekat ke arah mereka. Pria tengah baya itu menjabat tangan Herlambang. Penampilan pria itu jelas jauh berbeda dengan Herlambang. Dia mengenakan jas biru, dasi warna senada serta kemeja putih dipadu sepatu mengilap. Satu lagi, rambutnya rapi oleh minyak rambut. Tak lain William. Laura menemani di sisinya. Sepasang suami istri itu duduk berseberangan dengan Herlambang.
“Putra kami menyusul. Dia bawa mobil sendiri,” tukas William.
“Ooh.. Tidak masalah.” Herlambang mengangguk berusaha mengusir kegugupan. “Kenalkan, ini Anna putri saya.”
“Gadis ini yang akan menikah dengan putra saya?” tanya William tersenyum menatap Anna.
“I iya,” Jawab Herlambang sedikit cemas, takut William akan menolak Anna yang terlihat masih sangat belia.
“Tidak salah jika putraku akan menikah dengan gadis cantik ini,” tutur William kagum. Laura tak luput memperhatikan kecantikan Anna.
Yang ditatap semakin gugup dan salah tingkah. Jantung Anna berlarian saat melihat seorang pria muda menarik kursi tepat di sisinya sambil mengangguk patuh pada Herlambang. Penampilannya tak kalah rapi dari William.
TBC