
“Cintya, aku minta maaf. Marahlah sepuasnya. Aku akan terima, aku pantes ngedapetin itu semua.” Air mata Anna menetes menatap tangisan Cintya. “Aku memang pernah bilang ke kamu untuk minta waktu tiga tahun untuk kemudian berpisah dengan Alan, tapi aku juga sadar kalau aku pernah berjanji di hadapan Allah dan disaksikan para malaikat, bahwa aku akan menjadi istri untuk Alan. Ucapan yang pernah kusampaikan ke kamu bisa kucabut bukan? Tapi janji yang kuucapkan pada Allah, mungkin aku nggak akan bisa meralatnya. Aku tau Tuhan sangat membenci perceraian, dan aku akan mempertahankan rumah tanggaku. Maafkan kalau semua berubah.”
Cintya membuka telapak tangannya dan berkali-kali menghapus air mata yang terus merembes. “Aku berharap Tuhan memberiku keadilan. Mungkin bukan salahmu jika kau jatuh cinta pada Alan. Aku yang salah karena telah membiarkan Alan menikahimu. Wanita mana yang nggak bisa jatuh cinta pada pria sesempurna dia. Aku bahkan terlalu percaya padamu.”
“Cintya, kau cantik, fisikmu sempurna, nggak aka nada pria yang akan menolak pesonamu. Aku yakin suatu saat nanti kau akan menemukan pria yang jauh lebih perfect dari Alan. Kumohon lepasin Alan.”
“Aku berharap Alan akan secepatnya menceraikanmu. Dia mencintaiku, Anna. Dia udah tahu luar dalamku, mana mungkin dia bisa ngelepasin aku.”
Anna menelan. Apa maksud perkataan Cintya? Mengerti luar dalam?
“Kau pasti tahu kalau Alan paling nggak tahan dengan godaan wanita, apa mungkin dia tahan jalan-jalan berdua denganku hanya sebatas makan dan minum saja? Lebih dari itu, Anna. Kau tahu sendiri apa yang dilakukan pria dan wanita jika sudah berduaan, nggak akan cukup hanya sekedar berciuman bibir. Dia tahu ukuran payudaraku, dia tahu ukuran bokongku, dan…. Uuh… Kami udah sama-sama dewasa. Udahlah, aku ngggak perlu terusin. Dan aku hanya butuh keberanian Alan untuk secepatnya dia menggugat cerai dirimu.”
Hati Anna mencelos mendengar penjelasan Cintya. Rasanya nyeri.
“Kita akan lihat nanti, Alan akan jatuh ke pelukanmu, atau aku.” Cintya mengambil tasnya lalu bangkit berdiri dan meninggalkan meja.
***
Anna membuka pintu kamar. Yang pertama ia lihat tubuh Alan yang terbaring di atas ranjang dengan mata terpejam, kaki menjuntai ke bawah, masih mengenakan sepatu dan kaus kaki. Pria itu tampak sangat kelelahan hingga tidak menyadari Anna melangkah masuk.
Dering ponsel di atas meja membuat Anna menoleh ke sumber suara. Ponsel Alan berdering sudah yang ke dua kalinya.
Tak lama kemudian terdengar nada pesan diiringi getar di meja, membuat Anna mulai jengah dan ia langsung menyambar ponsel tersebut. Ia membuka pesan setelah sebelumnya membentuk pola untuk membuka kunci. Ya, tentu saja Anna sudah tahu pola kunci ponsel Alan. Sebab setelah Anna menyerahkan dirinya seutuhnya pada Alan, ia menuntut untuk tidak ada lagi rahasia diantara dirinya dan Alan. Satu lagi, surat kesepakatan yang dulu pernah sama-sama mereka tanda tangani, sudah menjadi abu setelah Anna membakarnya.
Alan, kenapa gk jwb telponku?
Aku rindu.
Aku kangen,
Kangen tawamu
Kangen godaanmu
Kangen kecupanmu
Kangen sentuhanmu
Kangen semua tentangmu.
Kapan kita bisa berpelukan lagi?
Membaca kalimat itu, hati Anna seperti ditusuk-tusuk. ID pengirim membuat Anna menutup mulut dengan telapak tangannya sendiri. Cintya. Gadis itu semakin gesit melancarkan aksinya untuk bisa mendapatkan Alan. Tidak perlu ia melihat dua panggilan tak terjawab yang baru saja berlalu, pasti dari Cintya. Anna melirik Alan yang baru saja membuka mata.
TBC