Holy Marriage

Holy Marriage
ugh...



Anna hanya takut, Alan marah lalu melampiaskan kekesalannya dengan menemui Cintya. Apa yang sedang Alan lakukan sekarang? Benarkah ia sibuk? Atau pikiran negatifnya tentang Cintya benar?


“Non Anna, capek, ya? Ini saya buatin susu.” Rina muncul dari dapur dan meletakkan segelas susu ke meja depan Anna.


“Tau aja kamu. Makasih.” Anna menyambar gelas tersebut dan meneguknya hingga tinggal separuh. Susu buatan Rina benar-benar mampu membuat perutnya sedikit lebih tenang setelah hampir seharian ia tidak makan.


“Non, makan, ya! Sejak tadi saya belum ngeliat Non makan. Nanti Non sakit lagi,” tutur Rina tampak mencemaskan majikannya.


“Belum laper. Lagian kamu baru aja ngasih aku susu. Gimana bisa makan kalau perut udah keganjel susu. O iya, Mas Alan tadi pulang, ya?”


“Iya, Cuma narok vitamin itu ke meja, trus pergi lagi.”


“Dia nggak pesen apa-apa?”


“Nggak ada, Non. Diem aja.”


Anna mengangguk dan tidak mau bertanya lagi. Ia kembali meraih gelas dan meneguknya hingga habis.


“Hati-hati Mbak minum susu buatan Rina, bikinnya pakai jampe-jampe, bisa mengandung racun,” celetuk Andra yang tiba-tiba muncul dari pintu depan.


“Sembarangan!” balas Rina dengan mata melotot.


Dua makhluk jadi-jadian di depan Anna itu memang selalu berantem, dan keributan mereka malah menjadi hiburan buat Anna. Tanpa mereka, rumah terasa sepi dan menjenuhkan.


“Lha iya, kamu bikinnya aja sambil ngomong tadi. Ludahnya muncrat. Bahaya itu, mengandung enzim racun lebih bahaya dari bisa ular,” lanjut Andra sengaja membuat Rina semakin gondok.


“Jangan ngawur!” Rina cemberut.


“Kalau setelah ini Mbak Anna ketiduran, berarti bener susunya mengandung racun. Wkwk…”


“Hus! Pergi sana! Ngelantur mulu dari tadi. Kalau Non Anna bisa tdur, itu artinya lagi ngantuk.”


“Tunggu tunggu, ngomongin soal ngantuk, gue ada teka-teki nih.”


“Apaan?” tantang Rina.


“Kenapa orang di dalam mobil bisa ngantuk dan kemudian ketiduran? Hayooo… jawab!”


Pertanyaan Andra membuat Anna tanpa sadar ikut-ikutan berpikir memikirkan jawabannya.


“Salah.”


“Karena dia nggak nyetir mobil, kalau nyetir mana bisa ketiduran,” sahut Anna yang seperti terhipnotis hingga ikut-ikutan nimbrung.


“Salah juga, Mbak.”


Rina menggeleng setelah cukup lama berpikir. “Tauk, ah. Apaan, sih?”


“Karena bannya bulat. Kalau petak, mobilnya gejumplangan. Hahaaaa…” Andra terbahak sendiri. Membuat Anna dan Rina ikutan tertawa.


Beruntung Anna memiliki supir dan asisten rumah tangga seperti Andra dan Rina yang bisa menghiburnya setiap saat.


“Ada lagi, nih. Teka-teki keren.”


“Apa?” tantang Rina bersemangat.


“Bayangin, ya! Warnanya bisa putih, item atau cokelat. Bentuknya panjang, elastis dan lemes, setelah diemut bisa jadi tegang, gede dan mengeras. Apa coba?”


“Hus, apaan itu? Jorok, ah!” pekik Rina sembari mengusap wajah Andra dengan telapak tangannya.


“Jangan ngebayangin yang neggak-enggak, dong! Pikiran lo aja yang ngeres,” tukas Andra pada Rina sambil cengar-cengir, kemudian ia menatap Anna penuh rasa segan dan berkata, “Maaf, Mbak. Ini nggak jorok, kok. Namnaya juga teka-teki.”


“Nggak tauk, ah,” jawab Rina malas berpikir.


“Mau tau?” Andra mengayunkan alis. “Balon. Gitu aja mikirnya udah aneh-aneh.”


“Itu mah diemut trus ditiup baru jadi tegang dan gede,” protes Rina.


Andra tertawa cekikikan sambil menghambur berlari ke arah dapur. Rina berlalu pergi dan mengejar Andra.


Sepeninggalan Andra dan Rina, keadaan kembali hening. Anna mengusap layar ponsel dan mencari kontak dengan nama ‘My Husband’. Ia rindu, setengah hari tak bertemu, rasanya seperti sebulan. Ia ingin memberi pengertian pada Alan, ingin menenangkan Alan. Tapi kemudian ia memilih diam dan memeluk ponsel tanpa melakukan apapun.


***


TBC