
Tinggalah Anna dan Alan yang bertukar pandang. Keduanya tersenyum skeptis.
"Aku tidak bisa berkata-kata lagi selain ingin bilang, aku mencintaimu, sayang," bisik Alan dengan tatapan teduh.
Anna tersenyum.
"Apa kamu tidak mau membalas ucapan cintaku? Meski usia kita menua, kuharap kata-kata cinta diantara kita tidak akan meluntur." Alan sungguh ingin mendengar Anna mengucapkan kata cinta untuknya. Ah, dia jadi merasa seperti kembali remaja.
"Kamu nggak perlu mendengar mulutku mengatakannya, cintaku ke kamu nggak perlu diragukan. Aku hanya mencintaimu, Mas Alan."
"Rasanya aku menjadi kembali muda."
"Bukannya memang masih muda? Belum beruban kok rambutmu."
Alan tersenyum.
"Masalah ini sudah berakhir. Kuharap kedepannya kamu lebih terbuka kepadaku," ucap Anna.
"Ya," singkat Alan tanpa mau membicarakan banyak hal. Dia mengaku salah dengan rasa gengsinya yang terlalu tinggi itu. Telapak tangannya meraih kepala belakang Anna dan mendekatkan wajah cantik itu ke wajahnya. "Boleh cium?"
Anna diam saja.
Wajah keduanya sudah sangat dekat. Anna memitingkan kepala.
Ceklek.
Pintu kembali didorong dari luar, sontak Anna memundurkan wajah. Gagal maning.
Arni muncul menggendong Azzam. Bocah itu langsung meronta hendak turun saat sudah melihat Anna. Arni pun menurunkan Azzam.
Anna menyambut kedatangan Azzam dan memeluk bocah itu.
"Mama.. ayok main!" Azzam menarik-narik tangan Anna tanpa harus berbasa-basi.
"E eh, jangab main dulu, dong. Azzam kan kesini mau jenguk papa, lihat papa dulu dong. Ajak papa ngobrol sebentar, udah itu baru main," ucap Anna membujuk Azzam.
"Halo, jagoan papa! Sini sayang!" Alan merentangkan tangannya.
"Loh, kenapa Azzam nggak mau sama papa?" tanya Anna.
"Papa jahat. Papa mayah mayah. Jahat," jawab Azzam masih menggeleng-gelengkan kepala.
Alan terkesiap mendengar penuturan putranya. Ia ingat terakhir kali telah memaki Azzam beberapa hari sebelum ia terbaring di bed itu. Dan itulah pertemuan terakhir dengaj Azzam. Ternyata bocah sekecil itu menyimpan memori di otaknya begitu cepat. Kini, Alan dianggap sebagai ayah jahat oleh Azzam. Alan sangat menyesali perbuatannya, yang telah memperlakukan putranya dengan buruk. Dia khilaf, dia terbawa emosi. Sungguh Alan sangat menyesal.
"Bawa Azzam kemari!" pinta Alan sambil menjulurkan lengannya ke arah Azzam.
Anna menuruti. Menggendong Azzam dan meletakkan tubuh kecil itu ke sisi Alan. Namun sungguh tidak diduga, Azzam tidak mau lepas dari lengan Anna, dia memeluk erat tubuh Anna, menjatuhkan kepala di pundak Anna, kedua kaki melingkar di punggung Anna, persis seperti cicak nemplok, membelakangi Alan.
"Azzam, papa kangen sama Azzam. Ayo dong peluk papa sebentar aja. Azzam nggak boleh marah sama papa," bujuk Anna sembari mengelus punggung putranya.
Azzam diam saja, masih dengan posisi yang sama.
"Memangnya Azzam mau kalau papanya Azzam diambil orang? Kalau Azzam menjauh dari papa, nanti papa nangis dan diambil orang. Hayooo.." Anna masih terus membujuk.
Alan meraih paksa tubuh Azzam dari gendongan Anna. Tubuh Azzam terlepas dari pegangan Anna, bocah itu tidak lagi mempererat pegangannya hingga tubuhnya terlepas begitu saja saat Alan meraihnya.
Alan meletakkan tubuh Azzam ke atas perutnya, memposisikan tubuh kecil Azzam menelungkup di perutnya. Alan mengelus punggung putranya sambil berkata, "Maafkan papa. Papa janji tidak akan memarahimu lagi. Papa sayangbsama Azzam."
Anna terharu menatap pemandangan itu. Dia mendekatkan diri dan turut mengelus punggung Azzam sambil tersenyum.
Ini adalah hari paling bahagia bagi Anna, disamping masalah hidupnya telah clear, Alan kini bersedia untuk memperbaiki diri menjadi suami yang lebih terbuka. Sepasang suami istri memiliki kelurangan dan kelebihan, maka tugas pasanganlah yang melengkapi kekurangan pasangan, saling melengkapi.
THE END
Yey... Kisah Anna dan Alan resmi ending.
Yuk, next baca Dear Husband, lagi seru-serunya loh. Siapa di sini yang belum baca Dear Husband? hadeuh, rugiii. cek deh profilku dan pilih karyaku.
jangan lupa follow instagramku @emmashu90
aku aktif kasih info tentang novel-novelku di ig