
“Boleh duduk?”
Anna menoleh ke sumber suara di sebelahnya, Rafa duduk manis di sana sebelum Anna sempat menjawab. Masih berani cowok mesum itu muncul di hadapannya? Dada Anna mendadak sesak. Bukan karena marah, tapi muka Rafa mengingatkannya pada closed sekolah yang paling jorok. Soalnya Rafa sering dihukum membersihkan closed itu waktu SMA dulu.
Setelah sekian lama bosan mengganggu, inilah pertama kalinya Anna menatap wajah cowok itu lagi.
“Anna cantik pake hijab.” Rafa mulai meluncurkan gombalan ala-ala kekinian. Tapi malah membuat Anna jadi eneg.
“Rafa, gue nggak suruh lo duduk.” Anna kesal.
“Tapi gue pengen ngomong penting sama Anna.”
Anna menarik napas dalam-dalam mencoba mencari kesabaran. Ingin rasanya ia memegangi rambut belakang kepala Rafa erat-erat dan menjedot-jedotkannya ke dinding. Tapi Anna masih punya segelintir kesabaran yang membuatnya tidak melakukan hal-hal ekstrim yang mengerikan.
“Sepenting apa, sih? Emangnya masih ada lagi yang perlu kita bahas? Kita nggak ada hubungan apa-apa lagi, Rafa. Jangan bikin Joli cemburu. Dia sekarang pacar lo. Kalo dia ngeliat gue duduk semeja gini sama lo, dia bisa ngamuk atau bahkan ngegunjing yang enggak-enggak di kampus ini. Pasti lo yang suruh Joli kuliah di sini, biar kalian deketan. Iya, kan? Aduuuh, ngapain juga gue ngebahas itu, nggak penting.”
“Anna salah. Joli kuliah di sini karena kemauan dia. Gue sama sekali nggak tau kalau dia ternyata daftar di kampus ini. Dan lagi, Joli itu bukan pacar gue. Makan malam di kafe waktu itu hanya kebetulan, kami waktu itu rame-rame, tapi temen-temen udah duluan pulang dan hanya tinggal gue sama Joli doang yang belum selesai makan. O ya, bukannya Anna yang semangat kuliah di sini karena pengen deketan sama gue?”
“Jangan mimpi, Raf. Nggak lucu tauk. Lo pikir gue masih suka sama lo? Kampus ini adalah pilihan suami gue. Menurut Alan, ini kampus terbaik buat gue. Jangan berpikir gue kuliah disini karena pengen deketan sama lo. Udah, kan? Nggak ada lagi yang mesti diomongin. Silahkan pergi!”
“Anna, maaf kalau perkataan gue tadi nyinggung Anna. Gue Cuma ngeyakinin satu hal, kalao sebenernya Anna masih sayang sama Rafa.”
“Ya ampun, Rafa. Mau berapa kali mesti gue bilang, gue udah nggak punya perasaan apa-apa lagi sama lo. Gue cintanya cuma sama Alan, Alan, dan Alan. Dia baik, setia, perhatian.”
Rafa tersenyum sinis. “Anna yakin Alan itu lelaki setia?”
Anna terpaku mendengar pertanyaan Rafa, seakan-akan Rafa justru jauh lebih mengenal siapa Alan.
“Memangnya Anna udah mengenal Alan? Hanya seujung kuku yang Anna kenal dari sosok Alan. Justru gue tau banget siapa Alan. Dia cowok tajir. Nggak ada yang nggak bisa dia beli. Hidupnya adalah untuk bersenang-senang. Dan satu-satunya yang membuat lelaki senang adalah perempuan. Ya, Alan suka main perempuan, tentunya **** dengan wanita yang dia sukai. Tanyakan itu pada Cintya, atau sekretarisnya, atau….” Rafa tersenyum lagi. Sengaja membuat Anna penasaran. Sampai-sampai leher Anna tercekat saat akan menelan saliva. “Atau sahabatmu sendiri.”
Anna sempat terkejut saat Rafa menyebut nama Cintya. Bagaimana bisa Rafa mengenal nama itu?
TBC