
Rafa mengerutkan dahi merasa tidak senang dengan teguran Stefi. Baginya Stefi tidak punya hak melarang dirinya untuk dekat dengan siapapun. Sikap Stefi yang tegas membuat Rafa merasa terintimidasi. Dan ia tidak menyukai cara yang Stefi lakukan.
“Masalah buat lo?” balas Rafa tak kalah sengak.
“Gue nggak suka ngeliat Kak Anna dikuntitin cowok selain suaminya.”
“Yang punya badan aja nggak protes, kenapa lo yang ngerasa dirugiin?”
“Kak Anna itu nggak suka sama lo, jangan ngebet, dong! Wajar gue ngomong gini karena gue ngebelain kehormatan keluarga gue. Kak Anna udah jadi bagian keluarga gue. Dan keluarga gue adalah keluarga terhormat. Bisa ngerusak reputasi keluarga gue kalau lo terus-terusan ngedeketin Kak Anna.”
“Gue ini mantannya Anna.”
Stefi sempat kaget mendengar penjelasan itu. Tapi kemudian ia berkata, “Mantan itu masa lalu, dan itu udah berlalu. Kak Alan itu masa depan Kak Anna. Jangan ganggu masa depan Kak Anna. Lo hanya masa lalu. Ngerti?”
Anna tidak begitu jelas mendengar perdebatan antara Rafa dan Stefi. Kepalanya semakin pusing dan rasanya berat sekali. Seperti ada besi yang beratnya berton-ton menggelayuti kepalanya. Sudah sejak tadi ia merasakan sakit di kepalanya, tapi ia tidak perduli. Dan ternyata ketidakperduliannya mengakibatkan kejadian sefatal ini.
Perdebatan antara Stefi dan Rafa terhenti ketika akhirnya terdengar suara gedebuk. Tubuh Anna sudah jatuh di lantai ketika Rafa menoleh ke sumber suara.
“Kak Alan, itu Anna dibawa Pak dosen ke rumah sakit. Cepetan ikutin, Kak!” seru Stefi menyadarkan Alan yang masih terbengong. Entah apa yang membuat Alan membeku di temapt saat menatap pemandangan itu.
Alan yang masih memegangi kunci mobil tampak enggan bergerak. Ekspresi wajahnya sulit ditebak.
“Kak, kok malah diem aja. Anna pingsan dan dibawa Pak Aldi ke rumah sakit,” jelas Stefi membuat Alan membalikkan badan dan mengikuti Aldi.
Alan seperti sedang shock bercampur kaget. Tapi ia hanya memendam semua yang ia rasakan tanpa bisa meluapkannya. Stefi mengikuti Alan berjalan menuju rumah sakit yang terletak di seberang kampus.
Langkah Aldi yang begitu cepat membuat Alan tidak bisa menjangkaunya. Anna sudah dibawa masuk ke kamar pasien saat Alan menginjak lantai rumah sakit.
Kini Alan berdiri di depan pintu dimana Anna sedang diperiksa dokter. Sesekali matanya beradu pandang dengan Aldi yang berdiri menyandar di dinding dekat pintu dan hanya berjarak satu meter saja dari posisi Alan. Sumpah serapah dan segala makian bertaburan dalam hati Alan saat bertuk ia pandang dengan Aldi. Ingatannya terus terbayang pada peristiwa saat Anna berada dalam gendongan Aldi. Kenapa harus Aldi yang mendapat kesempatan untuk menggendong istrinya?
Alan yang menjadi suami Anna, tapi kenapa Aldi yang mengurusi Anna bahkan sekarang menunggui Anna seakan melebihi suami? Panas sekali rasanya dalam dada Alan. Baginya, tidak ada yang lebih berhak selain dirinya atas apa yang sudah menjadi miliknya. Apapun itu. Seluruh organ tubuhnya terasa mengeras dan menegang. Ia sedang ingin menonjok, memukul dan menghajar apapun. Tapi yang sekarang ia lakukan hanya diam menahan segala yang bergejolak dalam dada.
TBC