
“Merokok itu banyak mudhorotnya. Sesuatu yang lebih banyak mudaratnya ketimbang baiknya itu nggak boleh dilakukan, dan yang nggak boleh dilakukan itu dosa. Bukan cuma ngerugiin kamu aja, tapi juga ngerugiin orang lain. Kalau aku sesak napas atau kena kanker gara-gara asap rokokmu, itu sama aja kamu udah zolim sama aku.”
Alan mengangkat alis saja. “Tapi dalam surat Al Baqarah ayat 29 diterangkan bahwa Allah menjadikan segala yang ada di bumi untuk manusia, artinya segala sesuatu yang diciptakan Allah di atas bumi ini halal, termasuk tembakau yang digunakan untuk bahan baku rokok.”
Anna cukup salut pada Alan, pria yang jarang menyentuh Al Quran itu ternyata memahami isi Al Quran.
“Jadi **** juga halal? Binatang itu juga diciptakan Allah di muka bumi, kan?”
Skak matt. Alan kalah.
“Jangan menelan ayat mentah-mentah. Segala sesuatu yang diciptakan Allah hukumnya tidak halal kalau mengandung hal-hal yang merusak dan membahayakan tubuh. Sementara rokok mengandung ribuan racun yang secara kedokteran terbukti ngerusak dan sangat membahayakan kesehatan tubuh. Bisa merusak jantung, penyebab batuk kronis, mempersempit aliran darah dan bahkan dapat membunuh si perokok secara perlahan. Surat Al Baqarah ayat 195, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Kurasa ayat ini cukup membuatmu mengerti.”
“Anak Pak Haji, aku salut padamu.”
“Jangan lakukan lagi. Larangan merokok juga ada di surat kesepakatan kita. Ingat itu!”
“Oke. Ini artinya kamu perduli sama aku karena kamu nggak mau aku dapet dosa?, atau sekedar perduli dengan kesehatanmu sendiri?”
“Dua-duanya. Karena kamu suamiku. Aku nggak mau kena seret-seret ke neraka cuma gara-gara nggak menasihati suami soal ini. Entar gosong badanku dibakar di sana.”
Alan tersenyum.
Akhirnya Anna dapat melihat senyuman itu lagi setelah cukup lama pria itu tampak frustasi.
“Kamu bisa banget bikin aku ketawa ya.” Alan berdiri dan meraih lengan Anna. Dengan gerakan cepat, bibirnya mencium bibir Anna. Sementara kedua tangannya mengelus punggung Anna.
Anna membeku di tempat. Ia tidak menolak, membiarkan pria itu mencium sepuasnya. Alan memeluknya erat, semakin erat hingga ia merasaka seluruh tubuh Alan menempel di tubuhnya.
Alan tidak memperdulikan panggilan Anna.
“Mas Alan!” ulang Anna memukul lengan Alan kuat-kuat hingga Alan mengaduh dan melepas pelukan.
Alan menaikkan alis tinggi-tinggi. “Kamu harus sering-sering ingetin aku. Aku suka kebablasan kalau soal itu.”
Anna termenung mendengar pernyataan itu. Suka kebablasan? Jadi bagaimana jika Alan bersama Cintya? Tapi sepertinya Alan bukan tipe lelaki yang doyan menyentuh lawan jenis sebelum menjadi muhrimnya.
“Ayo, turun! Kita sarapan dulu!” ajak Alan. “Nanti biar kuantar kamu ke kampus.”
Anna berlari mengikuti Alan turun ke lantai bawah. Mereka memasuki ruang makan. Semua orang sudah menanti di sana. Wiliam, Laura, Stefi dan Clarita. Masing-masing sudah berpenampilan rapi. Wiliam dan Laura tentunya mengenakan pakaian kerja. Stefi mengenakan gaun. Sedangkan Clarita seragam sekolah.
Anna dan Alan menyantap sarapan setelah menyapa seperlunya kepada semua yang mengelilingi meja makan.
Clarita dan Stefi lebih dulu meninggalkan meja makan. Kemudian Laura pergi setelah meninggalkan kebiasaan lama, mencium pipi suaminya. Ia sempat mengelus lengan Anna saat berpamitan. Sementara Wiliam tidak beranjak dari kursi setelah selesai sarapan.
Anna bangkit berdiri meninggalkan meja setelah meneguk susu dan berpamitan pada mertuanya.
“Tunggu aja di depan,” ucap Alan sambil mengunyah makanannya.
Anna mengangguk dan berlalu pergi.
TBC