
Tiba-tiba sepasang lengan kekar memeluk Anna dari belakang. Anna yang sedang duduk di lantai sambil memegangi kursi pun tersenyum.
“Mas Alan?” Tanpa menoleh, Anna sudah tahu siapa pemilik lengan kekar itu. aroma tubuh Alan sangat ia kenal. Kecupan mesra mendarat di telinga Anna yang saat itu tidak mengenakan jilbab.
“Aku kangen, sayang.”
“Hmm… terus aja bilang kangen. Sehari udah berapa kali kamu bilang kangen. Saat video call tadi udah bilang kangen, saat mau berangkat kerja juga udah bilang kangen.”
“Aku rindu.” Alan mengubah kalimatnya, masih terus memeluk Anna dari belakang sambil meletakkan kepala di caruk leher Anna.
Anna tersenyum, kalimat sakral lagi yang diucapkan Alan. Sungguh, Anna tersanjung setiap kali mendengar kalimat yang kesannya lebai, namun membuat hatinya berbunga-bunga.
“Mas Alan, jangan peluk terus, malu diliat Azzam.”
“Azzam kan belum ngerti.”
“Pergi mandi sana!”
“Nggak mandi juga udah wangi. Bukannya kamu paling suka aroma tubuhku? Kenapa mesti menyuruhku mandi, hm? Ciumi aja badanku yang belum mandi ini.”
“Yieek… Jorok iiih…”
Azzam langsung melepas kursi yang sejak tadi menjadi mainannya saat pandangannya tertuju pada papanya itu. Ia merangkak dan mendekati Alan sambil tertawa girang. Kemudian ia menjadikan tubuh Alan sebagai pegangan untuknya berdiri. Dengan girangnya, Azzam menggelayuti tubuh Alan.
Alan segera menyambar pipi gemil Azzam dengan kecupan, di pipi dan di kening.
“Iya iya. Aku mandi. Jadi pulang pulang suamimu ini dikasih tugas ngejagain anak gitu?” Alan bangkit berdiri dan membiarkan Azzam memegangi kakinya untuk bocah itu berpegangan.
Anna tersenyum ikut berdiri. Ia melepas dasi di leher Alan. Membuka kancing kemeja pria itu.
“Celananya nggak usah. Aku bisa lepas sendiri. Entar kamu kepingin lagi.” Alan tersenyum mengoda, membuat Anna membelalak sambil nyengir.
“Papa mandi dulu, sayang. Nanti kita main, oke?” Alan memperlihatkan telapak tangannya di hadapan Azzam dan langsung disambut oleh Azzam dengan menempelkan telapak tangan kecilnya hingga menimbulkan suara cas.
Alan melepas tangan Azzam yang memegangi celananya, lalu bergegas masuk ke kamar mandi.
Azzam yang kecewa ditinggal oleh Alan, segera merangkak mengejar Alan. Ia berdiri dengan berpegangan pintu kamar mandi sambil merengek, mengisyaratkan kalau ia ingin segera berada di dekat Alan.
“Tunggu ya sayang, papamu mandi dulu.” Anna meraih tubuh Azzam, kemudian ia menuju lemari mencari pakaian Alan sambil menggendong Azzam. Bocah aktif itu tidak akan diam, Anna takut Azzam menggelinding jika ditinggal main sendirian tanpa pengawasannya.
Azzam akhirnya menangis sambil memanggil-manggi Papa saat ia merasa tidak sabar karena Alan mandi terllau lama.
Mendnegar tangisan Azzam di luar, Alan di dalam kamar mandi melakukan kegiatannya dengan terburu-buru hingga hampir terpeleset saat keluar dari bathtub. Sengaja ia merendam tubuh supaya penat di tubuhnya menghilang, tapi tangisan Azzam membuatnya segera bangkit dari bathtub dan menyiram tubuh dengan air melalui shower.
“Mas Alan, lama banget sih mandinya? Apa aja yang digosok sampe selama itu? Azzam keburu nggak sabar nih.” Anna kuwalahan menggendong Azzam. Bocah itu memberontak dalm gendongannya sambil meraung menunjuk pintu kamar mandi.
“Iya, sayang. Sebentar ya!” Alan keluar mengenakan handuk. Lalu menyambut Azzam meski bertelanjang dada.
TBC