
Di sisi lain, Rafa setengah berlari mengejar Alan yang berjalan menuju keluar. Rafa menjajari langkah Alan dan tersenyum lebar.
“Alan!”
Alan tidak memperdulikan suara di sisinya. Langkahnya tegas menelusuri koridor rumah sakit.
“Gue adalah cinta pertamanya Anna, dan Anna juga masih mencintai gue,” ucap Rafa dengan penuh percaya diri. “Dia nikah sama lo bukan karena cinta, tapi karena memenuhi permintaan Ayahnya. Dan simpel aja, di balik pernikahan lo sama Anna, dia cuma ngejadiin lo sebagai alat untuk manas-manasin gue, untuk ngebuat gue sakit hati. Lebih tepatnya, cinta Anna ke gue masih sangat hangat. Terbukti dari setiap kali Anna menatap gue, di matanya tersimpan cinta yang Cuma gue yang bisa mengartikannya.”
“Udah ngomongnya?” tutur Alan dengan tatapan lurus ke depan.
“Jangan sok nggak perduli gitu, gue tau lo lagi panas banget. Tapi nggak pa-pa, deh. Itung-itung biar lo belajar sabar ngadepin istri yang perasaan dan hatinya tertuju ke cowok lain.”
Alan berhenti, menoleh ke wajah Rafa yang juga ikut berhenti. Kini mereka bersitatap. Wajah Alan yang tetap terlihat tenang, membuat Rafa sedikit kagum.
“Lo mau tau kenapa gue nggak ngerespon lo?” Alan tersenyum penuh cemooh. “Andai saja yang menjadi lawan gue sekarang setingkat diatas level gue, tentu gue akan seperti cacing kepanasan karena ketakutan. Tapi nyatanya yang sekarang gue hadapi nggak lebih dari seekor lalat bau. Sekali tepuk, lo itu hancur. Lo nggak tau sedang berhadapan sama siapa sekarang.” Alan menaikkan alis dan suaranya terdengar sangat tenang. Tak seorang pun tahu jika dalam hatinya terasa membara. Ia sanggup menyembunyikan segala yang berkecamuk dan membungkusnya rapat-rapat tanpa memperlihatkan ke permukaan wajah. “Gue nggak punya waktu ngelayani sampah. Sekarang pulanglah dan jaga mental baik-baik. Jangan sampai jadi gila karena nggak ngedapetin Anna. Nasib orang yang mencintai seseorang yang bukan miliknya itu sangat menyedihkan. Gue takut, remaja patah hati kayak lo ini bisa nekat bunuh diri.”
Sialan! Pekik Rafa dalam hati sembari meremas kepalan tangannya sendiri.
***
Denting jam di kamar terdengar sangat keras akibat keadaan yang sepi. Berkali-kali iris mata Anna mengarah ke jam yang jarumnya berputar dan waktu terasa begitu lambat berjalan. Sejak kejadian di rumah sakit, sampai detik ini Alan belum juga pulang. Stefi langsung pergi begitu mengantarnya pulang ke rumah.
Sudah tujuh kali bolak-balik Anna turun ke lantai bawah dan belum juga mendapati Alan setelah ia melaksanakan shalat dzuhur, kemudian shalat Ashar, shalat maghrib dan terakhir shalat isya. Yang ia jumpai hanyalah Rina dan Andra melulu yang langsung saling pandang begitu melihatnya bolak-balik seperti orang pikun.
Terakhir kali ia turun ke lantai bawah, ia menemukan sebungkus plastik berisi vitamin di meja ruang depan. Artinya Alan sempat pulang dan hanya meletakkan vitamin yang sempat Alan tebus di rumah sakit, setelah itu Alan pergi lagi. Anna menggeleng pelan dan terduduk di kursi sambil menatap plastik biru berisi tablet vitamin. Alan pergi begitu saja tanpa menemuinya, tanpa berpamitan, tanpa mengucapkan sepatah kata.
Anna sudah menelepon tapi tidak dijawab. Ia juga sudah mengirim pesan menanyakan keberadaan Alan, hanya dijawab dengan dua kata, ‘Aku sibuk’. Membaca pesan singkat itu, Anna merasa enggan untuk bertanya lagi.
TBC