Holy Marriage

Holy Marriage
Dijemput Alan



“Dih, tuh anak aneh. Udah salah, bukannya minta maaf, eh muka sewot lagi,” celetuk Arini seraya menyenggol lengan Anna.


Kok malah Arini yang gedeg?


Anna menyambar tas di laci mejanya. Saat kepalanya terangkat, ia mengernyit heran melihat anak-anak yang terburu-buru menghambur keluar kelas, layaknya melihat air yang tersedot ke satu titik, begitulah para siswi yang Anna lihat kini. Bahkan Arini juga sudah tidak ada di sisinya. Sahabatnya itu ikutan berlari bersama yang lain.


Pikiran Anna sedang terfokus ke Rafa, sampai-sampai ia tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya. Bahkan ia tidak mendengar jeritan anak-anak di sekitarnya yang begitu histeris membicarakan sesuatu.


Bodo amat. Anna tidak suka dengan sesuatu yang heboh. Ia melenggang keluar kelas, di sisinya sudah tidak ada lagi seorang pun yang melintas. Semua orang sudah berada di depannya sana, tepatnya di area dekat gerbang.


Sebenarnya apa yang membuat anak-anak seheboh itu? Anna bertanya-tanya. Ia melintasi serombongan cewek alay yang tengah berkumpul sibuk membahas sosok tampan seseorang, seketika itu juga pandangan Anna mengikuti arah pandang para cewek alay tersebut. Dan pertanyaan yang sejak tadi mengganduli kepalanya akhirnya terjawab ketika pandangan matanya bertemu dengan mata elang milik Alan.


Wagelas? Kenapa cowok yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu bisa nyasar ke sekolah? Oh... Ternyata ini yang membuat anak-anak terkagum-kagum.


Alan terlihat sangat sempurna dengan penampilannya sekarang. Rambut kelimis, wajah putih bersih, badan gagah dibalut jas hitam dan dasi warna merah. Ditambah lagi lamborghini yang menemaninya.


Sejak awal kedatangan Alan ke sekolah dengan statusnya sebagai mentor, anak-anak sudah menaruh simpati pada kharismanya yang luar biasa. Bagaimana tidak? Jarang-jarang ada pria se-perfect itu masih berstatus lajang. Sudah tampan, bodi keren, tajir melintir lagi. Sedangkan yang berstatus suami orang saja masih banyak wanita yang melirik jika potongannya seperti Alan, apalagi ini yang jelas-jelas jomblo.


Alan berjalan mendekat ke arah Anna. Membuat Anna bingung menentukan sikap.


Gue mesti gimana ini? Anna meremas tali tas yang menggantung di bawah sikunya. Fix, kini Anna hanya bisa memaku di tempat, persis kayak patung. Seperti ada paku alam yang membuatnya membeku tak bergerak. Hingga Alan sudah berdiri dengan jarak selangkah di hadapannya, ia masih diam di tempat.


Anna membelalak mendengar kata-kata Alan bernada memerintah itu. Jadi benar, tujuan Alan ke sekolah untuk menjemputnya?


“Kemana?” tanya Anna gugup.


“Ke suatu tempat.”


“Sekarang?”


“Sekarang.”


Anna masih diam saat Alan sudah balik badan dan dua langkah meninggalkannya. Begitu banyak pertanyaan menyerang benaknya, membuat otaknya tidak bisa bekerja sama dengan tubuhnya. Hingga ia tersadar saat merasakan sentuhan hangat di pergelangan tangannya. Ia terseret mengikuti Alan. Matanya menatap ke tangan kokoh yang menggenggam pergelangan tangannya.


Kasak-kusuk terdengar dengungan anak-anak yang heboh di sekitar sana. Anna tidak mendengar apa yang mereka katakan. Kepalanya terlalu penuh dengan banyak pertanyaan sehingga tidak menangkap suara-suara di sekitarnya.


Orang-orang yang berjalan di depan, memberi akses jalan pada Alan yang menggandeng Anna menuju lamborghini yang bertengger di dekat gerbang. Alan membukakan pintu mobil. Anna malah diam, terkesiap memandang Alan. Ia merasa diperlakukan dengan sangat hormat sebagai wanita. Rasanya tidak pantas. Memangnya dia siapa? Level Alan terlalu tinggi jika harus memperlakukannya seperti itu.


TBC