Holy Marriage

Holy Marriage
Kebiasaan Baru



Mobil berhenti ketika sudah sampai di depan gerbang kampus.


“Aku minta uang, dong!” Anna mulai berani meminta. Tidak salah, bukan? Alan adalah suami sahnya, tempat meminta nafkah dan segalanya, hal wajar ia berkata demikian. Ya, meskipun Alan sudah sangat sering memberi Anna uang, bahkan uang yang diberikan lebih dari cukup. Rekening Anna kini membengkak akibat sering setor sisa uang pemberian Alan. Bukan tanpa alasan Anna kini bersikap manja dan kerap banyak permintaan. Ia ingin mencari perhatian Alan sekaligus menyadarkan Alan bahwa dirinya adalah istri, bukan pajangan.


Alan meraih dompet. Belum sempat membuka lipatannya, dompet sudah dirampas dan berpindah ke tangan Anna.


Sambil tersenyum, Anna mengambil semua uang yang ada di dompet itu, lalu mengibaskannya di depan wajah dan berkata, “Untukku, ya?”


Alan mengangguk tanpa ada kata protes meski isi dompetnya tidak bersisa lagi. “Aku yakin kamu akan mempergunakannya untuk kebutuhan yang baik.”


“Pastinya, dong.” Anna memasukkan uang ke tas dan mengembalikan dompet.


Alan meraih lengan Anna ketika istrinya itu akan membuka pintu di sebelahnya hingga handle terlepas dari tangan Anna akibat tubuhnya berbalik sembilan puluh derajat.


“Aku belum menciummu.” Alan memajukan tubuhnya dan memberikan ciuman singkat di bibir Anna.


Anna tersentak dan tidak berkutik setiap kali Alan melakukan itu. Kalau Alan memperlakukannya begini terus-terusan, perasaannya tentu kian membuncah. Jika saja urat malunya sudah putus, tentu ia akan memeluk Alan dan menunjukkan kalau ia menginginkan lelaki itu. Meski kenyataannya Alan adalah suaminya yang tentunya sangat wajar Anna bersikap seperti apa yang ia inginkan, tapi Anna sungguh jauh dari kata agresif. Sebab ia tahu, Alan tidak mencintainya. Alan mencintai gadis lain.


Tuhan, ijinkan Anna untuk bisa meraih kebahagiaannya? Jika Tuhan memberi satu permintaan yang pasti akan dikabulkan, maka Anna meminta supaya Tuhan membuat hati Alan jatuh cinta padanya.


Anna turun dari mobil setelah Alan kembali duduk di bagian kemudi dengan rapi.


***


Anna berdiri menyandar di tiang lobi kampus, sorot matanya fokus ke ponsel. Stefi dan Arini duduk di kursi besi sisi Anna. Dua gadis yang baru kenal itu tampak akrab dan saling sahut membicarakan topik asik. Stefi yang suka bergurau, langsung terlihat dekat dengan Arini hanya dalam hitungan minggu.


“Gimana kalau kita ngejus di kantin?” ceplos Stefi saat mulai jenuh.


“Gue kenyang. Perut udah nggak muat diisi apapun. Kalian aja, deh,” celetuk Arini sambil memegangi permukaan perut.


“Oke, deh. Kalau gitu gue sama Stefi aja yang ke kantin.” Anna memasukkan ponsel dan duluan berjalan menuju kantin.


“Baay, Arini!” Stefi melambaikan tangan dan mengikuti Anna.


Sesampainya di kantin, Anna dan Stefi memilih salah satu meja dan duduk di sana. Jus jeruk menjadi pilihan. Stefi tampak sibuk berselfi ria, menjepret wajahnya yang ditempelkan ke pipi Anna dengan ekspresi aneh, menjulurkan lidah, merem, hidung mengkerut, mangap dan lain sebagainya. Anna tertawa saat kamera membidik mengenai wajahnya. Setelah itu, foto-foto itu terpampang di akun sosial media milik Stefi.


“Gue ke toilet dulu.” Stefi berlalu pergi sebelum Anna sempat mengiyakan.


Anna tersenyum melihat kepergian Stefi, gadis itu sangat menghiburnya. Dia lucu dan unik. Suka ngebanyol dan menyenangkan.


TBC