Holy Marriage

Holy Marriage
Jangan Marah



Setelah selesai mandi dan shalat, Alan keluar kamar diikuti oleh Anna.


“Mas Alan!” panggil Anna saat mereka sudah sampai di lantai bawah.


“Hm?”


“Aku mau kasih tahu kamu sesuatu, tapi jangan marah, ya!” pinta Anna dengan nada manja.


Alan menoleh menatap Anna. Ia gemas sekali melihat sikap Anna yang seperti sekarang. Wanita itu tampak bermanja kepadanya. “Kenapa?”


“Alta beberapa kali menghubungimu saat kita berada di luar negeri. Dia ingin menyampaikan mengenai pekerjaan penting. Tapi aku nggak kasih tahu ke kamu karena aku nggak mau konsentrasimu terganggu. Kita jarang bisa bersama-sama seperti saat kita berada di luar negeri. Keharmonisan kita benar-benar terasa indah saat kita berkumpul. Mengenai pekerjaan, kan bisa dihandle oleh wakilmu. Reno bisa mengerjakan semuanya dengan baik. Aku hanya takut kamu jadi cepat-cepat ingin pulang demi pekerjaan jika aku memberitahukan informasi dari Alta.”


Alan diam saja.


“Uang dan harta bisa dicari dengan mudah dan manusia tidak akan pernah bisa puas dengan harta yang dia miliki. Tapi kebahagiaan dalam keluarga, itu mahal harganya,” lanjut Anna. “Jujur aja Mas Alan, aku sangat bahagia saat kita berada di luar negeri, sebab aku seperti emndapatkan kembali suamiku yang dulu. Meskipun kamu cenderung lebih banyak diam, atpi aku tetap merasa bersyukur atas perubahanmu.” Anna melangkah maju. Kemudian melingkarkan lengan mungilnya ke tubuh Alan dari arah belakang. ia menempelkan pipinya ke punggung suaminya.


Alan menatap lengan yang melingkar di perutnya. Ia tersenyum. Lalu menoleh, namun pandangannya hanya bisa menjangkau pucuk kepala wanita itu.


Anna membelalak senang saat merasakan punggung tangannya dielus oleh Alan.


“Kamu masih sayang sama aku, kan?” Tanya Anna.


“Ya,” jawab Alan.


Mendengar jawaban singkat itu, Anna mempererat pelukannya. Meski jawbaan Alan terkesan dingin, namun ia merasa bahagia.


“Mamaaaa… Angan eluk-eluk papa! Papa iyek,” seru Azzam yang tiba-tiba muncul entah dari arah mana. Bocah itu mendadak sudah merangkul kaki Anna.


Cepat-cepat Anna melepas pelukannya dan berjongkok untuk menyetarakan pandangannya kepada Azzam.


“Mama, ayo main cama Azzam di belakang lumah. Main bola.” Azzam emnarik-narik baju lengan Anna.


“Hei ganteng, kalau main bola, Azzam ajak papa aja, dong. Jangan mama. Main bola kan enaknya sama laki-laki,” bujuk Anna.


Pandangan Azzam sontak beralih ke wajah Alan. Ia menjulurkan lidah kesal saat melihat Alan memonyongkan bibir. Pria itu sengaja melakukannya supaya Azzam tidak mau bermain dengannya.


“Aku tidak terbiasa bermain dengan anak-anak. Kamu aja gih yang main sana,” jawab Alan.


“Lalu Mas Alan mau ngapain sekarang?”


Alan mengangkat bahu.


“Ya udah, kalau gitu yuk temenin kami main,” ucap Anna.


Alan mengangguk.


“Oke, anak ganteng, kita main yuk ke belakang,” Anna mencuil ujung hidung mancung Azzam.


“Azzam ganteng ya, Ma?” Si kecil menunjuk pipinya sendiri.


“Ya ampun, gemes banget deh sama Azzam. Tentu ganteng, dong!” Anna menggandeng tangan Azzam menuju ke belakang rumah.


Alan mengikuti.


Dering ponsel membuat Alan segera menjawab telepon. Dari William.


“Ya, Pa? kenapa? Ya Tuhan, apa-apaan ini? Oke, aku akan segera ke sana.” Alan memutus sambungan telepond engan raut panik.


Anna menoleh ke arah Alan. Ia mendapati wajah suaminya yang kacau. “KEnapa, Mas? Papa kenapa?”


“Ini mengenai Stefi. Aku harus pulang ke rumah papa.” Alan mendekati Anna dan mengecup singkat kening wanita itu, trak lupa ia juga mencium kening Azzam. Lalu melenggang pergi.


“Mas Alan, aku ikut!” seru Anna membuat Alan menoleh.


Alan mengangguk.


Melihat anggukan kepala suaminya, Anna pun balik badan sambil menggandeng Azzam yang meraung dan mengamuk karena acara main bolanya dibatalkan.


TBC