Holy Marriage

Holy Marriage
Pancing Terindah



Apakah Anna sedang memancingnya? Alan bingung menilai-nilai Anna. Tangannya bergerak mengambil gelas dari tangan Anna dan kembali meletakkan ke meja, sorot matanya masih tertancap ke mata Anna yang juga menatapnya.


Tangan Alan kini bergerak meraih belakang kepala Anna.


“Jangan macam-macam!” Anna mendorong dada Anna dengan seulas senyum.


“Hanya satu macam, Anna.” Alan bangkit kemudian memposisikan kedua lututnya ke sofa, menjepit kedua kaki Anna.


Anna hendak berdiri namun Alan mengunci tubuh Anna dengan kedua tangannya yang dipasang di kiri dan kanan lengan Anna.


“Mau kemana? Kamu udah berani memancingku. Biarkan aku ngelanjutin dan menyelesaikannya.” Tatapan Alan tampak memburu.


Kali ini Anna tampak rileks, tidak ketakutan seperti biasanya setiap kali Alan akan mesum. Ia tenang menatap Alan.


“Apa itu salah? Aku hanya akan bersikap romantis dan sedikit nakal pada pria halal yang mencintaiku.” Anna mengalungkan tangannya ke leher Alan.


Alan membeku di tempat. Secara langsung Anna mengungkit kalau Alan pernah mengungkapkan cinta pada Anna. Dan itu membuat Alan tak bisa berkata-kata.


“Kamu mencintaiku, bukan? Katakan sejujurnya!” Anna mendekatkan wajahnya lalu mencium ke udara.


Alan menatap bibir Anna kemudian menelan.


“Bicaralah! Jangan bohongi dirimu sendiri! Mulutmu bisa berbohong, tapi perasaanmu nggak bisa bohong pada dirimu sendiri,” lanjut Anna.


“Lupakan! Lupakan itu!” Alan menjatuhkan tubuh Anna ke sofa hingga wanita itu terbaring di sana.


Kini Anna memasang ekspresi kesal. “Baiklah, akan kulupakan. Kalau memang diantara kita nggak punya rasa cinta, untuk apa lagi rumah tangga kita dipertahanin? Aku lebih baik berpisah darimu, dari pada ngabisin waktuku dengan pria yang nggak cinta sama aku. Kamu udah dapetin semua yang kamu inginkan, nggak ada lagi alasan untuk mempertahankan aku.”


“Luar biasa, Anna. Siapa yang mengajarimu memaksaku untuk mengungkapkan cinta?”


“Kamu. Kamu yang ngajarin aku.”


Alan maju hendak mendekatkan wajahnya ke wajah Anna namun telapak tangan Anna menahan dada Alan.


“Kamu ingin ninggalin aku, bukan? Di dalam kesepakatan kita jelas tertulis larangan istri meminta cerai, tapi kamu akan melakukannya. Artinya kamu udah melanggar kesepakatan kita. Sekarang aku juga akan melanggar larangan yang kamu buat. Aku ingin melakukannya denganmu,” tegas Alan.


“Jangan lakukan apapun!”


Alan terdiam.


“Aku akan lupakan surat kesepakatan kita dengan satu syarat, ada cinta diantara kita. Hanya orang yang mencintaiku yang boleh menyentuhku. Dan hanya kepada orang yang kucintai akan kuserahkan kesucianku.”


“Aku akan berikan padamu, kalau kamu mencintaiku.”


“Anna, kamu….”


“Entah sejak kapan aku mulai mencintaimu, tapi perasaanku mengatakan begitu. Katakan Mas Alan, apa kamu juga mencintaiku? Aku ingin mendengarnya sekali lagi.”


Alan menatap Anna lamat-lamat, kemudian kepalanya mengangguk. “Aku mencintaimu.”


Anna tersenyum.


Alan menggendong tubuh Anna ke ranjang. Dengan sigap, ia membuka jilbab Anna.


“Tunggu!” Anna menghentikan gerakan tangan Alan.


Alan mengangkat alis.


“Apa kamu akan ngelanjutin poligami ini? Apa kita nggak bisa hidup tanpa ada orang ketiga? Apa Cintya akan tetap menjadi istrimu?” berondong Anna.


“Jangan memikirkan hal lain selain kita. Itu masalahku.”


“Jangan egois. Kamu ingin bersenang-senang sendiri diatas penderitaan kami sebagai wanita yang dimadu? Bagaimana bisa kamu mencintai dua wanita di waktu yang bersamaan?”


“Lalu maumu gimana?”


“Aku nggak kuat hidup dimadu.”


“Cintya adalah urusanku. Jangan bebani dirimu dengan persoalan itu.”


“Dia bukan hanya urusanmu, aku menjadi bagian dalam urusanmu sekarang.”


“Jangan bicarakan itu lagi. Kita bahas nanti. Selesaikan dulu urusan kita yang ini, jangan membuatku menahannya.”


 


TBC


Karya :


Emma Shu