Holy Marriage

Holy Marriage
Si Pengganggu



“Jangan tegang gitu juga kali. Kita nggak mungkin telat. Ini kita pasti juga cepet nyampai.”


Anna akhirnya tersenyum. Alan selalu mampu membuatnya merasa tenang. Bahkan disaat batinnya gelisah pun spontan berubah damai hanya dengan mendengar kata-kata yang sebenarnya tidak berbobot.


Tepat pukul sembilan, Alan dan Anna sampai di rumah Herlambang. Suasana sudah ramai, dipadati tamu undangan. Dekorasi seperlunya tampak menghias sesederhana mungkin. Herlambang menyambut kedatangan Anna dan Alan dengan suka cita.


Anna menyampaikan permintaan maafnya karena datang agak telat dan ia tidak bisa ikut rombongan mertuanya yang sudah duluan hadir di sana. Herlambang memahami mengingat situasi menantunya yang memang sibuk.


Di ruangan luas yang sudah dipenuhi tamu undangan, ijab qobul berlangsung. Collin begitu tenang saat mengucapkan kalimat sakral yang akan menentukan masa depannya. Sejurus pandangan terfokus pada dua insan yang kepalanya disatukan oleh sehelai kain putih. Saat seluruh hadirin mengucapkan satu kata serentak ‘sah’, Collin tampak melepas napas lega. Seluruhnya mengucap hamdallah. Dilanjutkan dengan Angel yang mencium punggung tangan Collin yang kini sudah sah menjadi suaminya. Kilatan kamera bertubi-tubi diarahkan ke Collin dan Angel yang kini tampak begitu ceria dan mengumbar senyum bahagia.


Anna menyenggol lengan Alan sambil tersenyum. “Jadi keinget pas kamu ngucap dulu,” bisiknya.


“Kenapa emang? Apa aku gemeteran? Padahal aku udah sembunyiin serapi mungkin kegugupan itu, apa masih keliatan juga?”


“Orang-orang mungkin nggak tau, tapi aku tau.” Anna berusaha meledek dan Alan hanya memutar mata.


“Aku ngerti banget apa yang dirasakan Collin sekarang. Dia pasti panas dingin.”


Anna tertawa kecil sembari memberikan cubitan kecil di lengan suaminya. Mereka memberikan ucapan selamat pada Angel dan Collin. Setelah itu Herlambang dan kedua putri lengkap dengan dua menantu mengabadikan momen spesial itu dengan bidikan kamera.


Acara berlangsung sangat sederhana, namun khidmat.


***


“Sampai jumpa next time. Selamat siang!” Dosen menutup kelas dan melenggang keluar ruangan.


Anna mengemas buku ke dalam tas dan bangkit berdiri, detik kemudian terduduk lagi ketika merasakan kepalanya mendadak pusing. Rasanya nyut-nyutan. Efek belum sarapan, ia juga salah satu penderita anemia akut. Pernah jatuh pingsan saat upacara bendera sewaktu SMA dulu. Sekarang gejala anemianya kambuh lagi. Apa lagi semalam ia hanya tidur dua jam, organ tubuh yang seharusnya butuh istirahat cukup pun terganggu. Sempurnalah penderitaan anemia yang menyerangnya.


Anna menggelengkan kepala berusaha memulihkan rasa pusing. Setelah merasa sedikit lebih baik, ia berjalan keluar kelas beriringan dengan yang lainnya. Langkahnya terhenti ketika pandangannya mendapati sepasang kaki di depannya. Pandangannya naik ke atas dan mendapati wajah Rafa tersenyum lebar. Anna mendengus. Dia lagi. Apa tidak ada makhluk lain yang lebih menyenangkan selain dia? Sudah berkali-kali diusir dan diingatkan supaya jangan menganggu kehidupan Anna, tapi dia masih saja mengejar-ngejar terus. Anna memutar bola mata jengah. Ia berjalan melewati samping Rafa.


Tak mau dicuekin, Rafa mengikuti Anna seperti anak ayam. Anna hampir tidak mendengar omongan Rafa yang sejak tadi berkicau entah mengatakan apa. Anna lebih fokus merasakan sakit kepalanya. Ia berhenti ketika pandangannya menjadi buram. Rafa ikut berhenti dan masih bicara panjang lebar.


“Hei, lo Rafa, kan?” Stefi yang muncul dari arah samping, menatap Rafa dengan pandangan tak bersahabat.


“Ya. Dan lo?” Rafa menaikkan alis.


“Stefi.”


“Ooh.. Adik iparnya Anna, kan? Lebih tepatnya, adiknya Alan.”


“Hm. Gue cuma mau ngingetin agar lo jangan ngedeketin Kak Anna lagi.”


TBC