
Alan tidak bisa memaksa karena menurutnya memakai cadar bukanlah bagian dari kewajiban, wajah bukanlah aurat wanita. Terpaksa Alan harus merasa resah dan cemburu saat Anna tidak di sisinya. Takut kecantikan wajah Anna dinikmati pria lain. Takut hidung mancung Anna menjadi objek yang ditatap terus-terusan oleh laki-laki iseng.
Alan mengulang panggilan saat satu jam sudah berlalu. Anna tidak juga menjawab teleponnya.
Kepala Alan diisi oleh berbagai pikiran negatif. Bukan tanpa alasan, sebab Aldi, dosen ganteng itu terlihat sering bersama Anna, entah kebetulan atau memang ada modus dibalik sikap Aldi. Meski Anna sudah menikah, tapi di usia yang masih dua puluh satu tahun, Anna masih terlihat sempurna. Kecantikan dan postur tubuhnya juga menarik perhatian.
Kelas pasti sudah selesai. Lalu kenapa Anna tidak mengangkat teleponnya? Sedang apa Anna sekarang? Kampus adalah tempat para pria dan wanita berbaur. Banyak mahasiswa yang suka usil menggoda.
Ah, tidak. Alan malas memikirkan hal-hal itu. Ia menyambar jas yang menyelempang di sandaran jok dan keluar ruangan sambil mengenakan jas tersebut.
“Alan, mau kemana?” Reno yang berpapasan tampak heran melihat Alan melenggang keluar ruangan.
“Keluar.”
“Berkas ini perlu tanda tanganmu.” Reno menunjukkan setumpuk kertas yang ia bawa.
“Nanti aja.” Alan menjawab tanpa menoleh. Dengan langkah lebar, Alan menuju ke lantai bawah setelah lift pribadi membawanya turun. Ia ke basemant dan menyetir mobil menuju keluar area perkantoran.
Kelajuan Lamborghini membuatnya tak perlu berlama hingga melintasi kampus Anna. Tanpa sengaja ia melihat Anna sedang mengobrol dengan Aldi di koridor kampus. Alan bergegas turun dari mobil.
Langkah lebar membawa Alan berada di tengah-tengah Anna dan Aldi. Tubuh Anna tersingkir akibat bahu Alan yang mengisi ruang kosong antara Anna dan Aldi.
“Apa masih ada yang perlu dibicarakan?” Alan mengangkat alis menatap Aldi.
“Sepertinya cukup.” Pandangan Aldi beralih ke mata Anna. “Besok bisa dilanjutkan lagi. Saya permisi.” Aldi melenggang pergi.
Melihat tatapan itu, Anna mengerti Alan sedang ingin meluapkan banyak kata-kata. “Aku sedang bicara hal penting sama dosenku tadi, jadi nggak bisa angkat telpon.”
“Sekarang kelasmu udah selesai kan?” tanya Alan tanpa merespon ucapan Anna. Ia menduga mungkin Anna sedang malas menjawab teleponnya, atau mungkin Anna sedang tidak mau diganggu karena ada dosennya.
Anna berjalan menuju mobil dan Alan mengikuti.
***
Alan dan Anna berkeliling mall.
Alan memanjakan Anna dengan mengijinkan Anna belanja apa saja.
Bak ratu dikawal, Anna tidak diperkenankan membawa barang perbelanjaan. Semua perbelanjaan dibawa oleh Alan.
“Apa yang kau perhatikan?” Alan nyolot saat ada pria yang menatap Anna intens seakan-akan sedang menikmati kecantikan Anna. Entah itu hanya prasangka Alan yang sensitif atau memang begitu adanya. Alan terlihat sangat tidak suka dengan siapa pun yang berani mengganggu Anna.
Pria yang ditegur pun berlalu tanpa menjawab.
Anna menyikut perut Alan. “Galak banget, sih?”
Alan tersenyum simpul. “Enggaklah. Aku hanya bercanda. Enak aja mereka ngiatin kamu sampe nggak kedip gitu. entar kelilipan baru tau rasa. Sepertinya aku perlu mengurungmu di rumah biar nggak digodain orang. He heeee... Setelah lulus kuliah, kamu hanya boleh mengurusiku aja. Nggak perlu kerja. Suamimu ini kaya. Uang udah banyak. Kamu hanya tinggal nungguin suamimu pulang di rumah dan melayaniku di ranjang. Udah, itu aja.”
TBC