
“Ini malam, bukan siang. Banyak pria jalanan yang bisa aja ngegangguin kamu. Disaat kamu pulang dalam keadaan menangis karena sudah digangguin preman jalanan, apa kata ayahmu? Aku yang menjemputmu, Anna. Dan aku nggak memulangkanmu dalam keadaan baik-baik aja. Kamu mengerti maksudku, kan?” ucap Alan.
Anna mengangguk.
“Pintar. Ayo, ikut aku!”
Kata-kata Alan membuat Anna merasa seperti anak kecil. Anna bangkit berdiri mengikuti Alan. Langkahnya kemudian terhenti. Alan menoleh menyadari Anna yang menghentikan langkahnya. Ia menaikkan kedua alis.
“Jangan-jangan kamu mau bawa aku ke rumahmu, aku nggak mau,” rengek Anna. “Sekarang kamu bilang mau nganterin aku pulang. Tau-tau, mobilnya justru menuju ke rumahmu.”
“Anna, aku bukan anak kecil. Aku nggak suka main-main. Kamu pikir aku suka dengan cara yang kamu bilang itu?”
Alan berjalan mendekati Anna. Baru saja mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu, ponselnya berdering membuatnya segera merogoh ponsel di kantong.
William menelepon.
Sekilas Alan menatap Anna kemudian menjawab telepon.
“Ya, Pa? Maaf, aku nggak bisa pulang sekarang. Dan maaf, Anna nggak bisa ikut acara dinner malam ini.”
“Loh, kenapa? Tapi Herlambang bilang kamu sudah menjemput Anna dan kalian sedang dalam perjalanan?”
“Ini darurat. Anna nggak bisa datang ke situ, Pa.”
“Tapi kenapa?”
“Nanti kujelasin di rumah.”
“Apa-apaan kamu ini? Semuanya sudah menunggu. Kamu jamin malam ini bisa mengajak Anna, tapi kenapa begini? Kasian mereka yang sudah menunggu sejak tadi, mereka ingin berkenalan dengan calon menantu pertama Papa, bukan?” William berbisik supaya suaranya tidak terdengar oleh yang lainnya. Rumahnya yang megah sudah dipadati keluarga besar, mulai dari nenek dan kakek Alan, empat pasang paman dan bibi, tiga belas keponakan, serta kerabat lainnya hadir di sana.
“Sekarang juga aku akan mengantar Anna pulang. Papa dan yang lainnya mulai aja dinnernya.”
“Kamu tau, tujuan dinner malam ini apa? Untuk memperkenalkan Anna pada semuanya.” William kecewa.
“Maaf, Pa. Maaf.” Alan menutup telepon. Ia menatap Anna lalu berkata, “Kamu dengar?”
Anna mengangguk. Kini ia yakin Alan akan memulangkannya.
Anna mengiringi langkah Alan. Mereka berjalan bersisian. Keduanya membisu.
“Itu dia!” Anna melompat menunjuk gerobak mie ayam yang didorong Mang Ucup.
Pandangan Alan tertuju ke gerobak yang ditunjuk. Maksudnya apa Anna menunjuk gerobak bertuliskan mie ayam itu?
Mang Ucup sesekali mengetuk-ngetuk mangkuk dengan sendok hingga menimbulkan dentingan nyaring.
“Itu mie ayam kesukaanku, Mie Ayam buatan Mang Ucup. Beli, yuk!”
Alan hanya diam menatap Anna yang merengek sambil menghentak-hentakkan kaki, tak lupa gadis itu menempelkan pipinya ke lengan Alan. Pandangan Alan kini terarah ke tangan Anna yang menggelayut di lengannya.
“Makan mie ayam dulu pokoknya ya, pliiiis...!”
Alan mengangguk.
Melihat kepala Alan terangguk, Anna langsung menggeret Alan menyeberangi jalan menuju ke gerobak mie ayam.
“Mang... Mang Ucup! Beli mie ayamnya.”
Alan membiarkan Anna berlari mengejar Mang Ucup.
Pria tengah baya bertopi bundar itu menoleh dan menghentikan dorongannya. Ia tersenyum kemudian menepikan gerobak ke trotoar.
“Ketemu lagi kita, Neng Anna,” ucap Mang Ucup dengan wajah berbinar. Ia sangat mengenal Anna, pelanggan mie ayam setiap kali ia melintas di depan rumah Anna.
“Mamang kok jarang lewat depan rumah sekarang?”
“Di sana udah sepi, Neng. Mamang mah jualannya keliling di sekitaran sini aja, lumayan pendapatannya. Makan di sini apa dibungkus?”
“Makan sini aja, Mang.”
TBC