Holy Marriage

Holy Marriage
Satu Kebodohan



“Ssst... Jangan pada teriak gitu napa! Orang-orang jadi pada ngeliatin, tuh. Malu tauk, dikira kalian kesurupan.” Anna menempelkan jari telunjuk ke bibir sambil memutar bola mata ke sekitar.


“Sori sori, abisnya kalian so sweet bangeeeeet.”


“Kapan pula lo duduk berduaan di mobil sama Alan?”


“Gaun yang lo pake cantik banget, muka lo di make up lagi.” Ica memperbesar gambar hingga gaun yang Anna kenakan terlihat jelas.


“Ya ampun, ngiri gue. Kenapa nggak gue aja yang diajakin Alan jalan-jalan? Sumpah beruntung banget nasib lo, Ann.”


Anna menghela nafas mendengar komentar-komentar yang mendengung. Mereka belum kenal saja dengan Alan, manusia es yang datarnya kayak tembok. Udah gitu, hidupnya penuh aturan. Kalau mereka tahu akan hal itu, apa mungkin mereka akan tahan hidup dalam situasi seperti yang Anna alami?


***


Anna menggeser-geser mouse, main game. Pandangannya fokus ke laptop. Malam minggu adalah malam bebas baginya, bebas dari tugas sekolah yang biasanya numpuk seabrek. Malam minggu, waktunya nyantai dan refreshing. Kalau ngurusin PR dan tugas sekolah mulu, bisa error isi kepalanya.


“Ann, gila lo ya. Kok, bisa lo ngebales chat-nya si resek itu?” Arini yang baru masuk ke kamar Anna, langsung menyemprot setelah melihat Anna yang duduk di atas kasur sambil memangku bantal.


“Resek siapa sih maksud lo?” Pandangan Anna tidak lari dari laptop.


“Rafa.”


“Maksud lo apa? Ngomong yang jelas, gue nggak ngerti.” Anna menekan pause dan menoleh ke Arini.


“Lo chat-chatan sama Rafa, kan?” Arini menghempaskan tubuh di sisi Anna, berbaring sambil menyambar roti bakar yang tersaji di atas meja lalu mengunyahnya.


“Kok, tau?”


“Taulah. Coba lo liat facebook-nya Rafa. Apa statusnya hari ini?”


“Apa emang?”


Penasaran, Anna buru-buru menyambar ponsel di sisi duduknya lalu mengaktifkan data dan langsung meluncur ke facebook.


Buset, gila juga si Rafa. Anna tersenyum bangga melihat status Rafa. Mantannya itu mengupload sesuatu yang mengejutkan, tak lain chatingan antara Anna dan Rafa. Di sana tertulis jelas kalau Rafa mengatakan masih sayang sama Anna, dan Anna hanya membalasnya dengan emoticon senyum saja.


Aksi yang Rafa lakukan membuat Anna yakin jika Rafa merasa sangat bersalah dan menyesal atas perselingkuhannya dengan Joli. Dan hanya dirinya yang disayangi Rafa.


“Elah, kok malah senyum-senyum, sih? Lo nggak jijik gitu ngeliat mantan norak lo itu posting chatingan PC lo ke sosial media?” Arini protes dengan muka sebal.


“Itu membuktikan kalo Rafa lebih sayang gue dari pada selingkuhannya. Joli pasti kayak cacing kepanasan kalo ngeliat statusnya Rafa di FB. Gue seneng aja.”


“Ya ampun, Ann. Lo masih ngarep sama Rafa?”


Anna diam menatap Arini, senyumnya lebar dengan mata kedip-kedip kayak kelilipan.


“Jelas-jelas di depan mata lo udah ada Alan yang perfect dan jauh banget kalo dibandingin Rafa, kenapa sih masih mikirin cowok resek yang jelas-jelas udah nyakitin lo?”


“Justru rasa sakit yang dia tanam, mengukur perasaan gue ke dia. Gue masih sayang sama Rafa, Rin.”


“Sumpah lo bodoh banget, Ann. Bodoh.”


“Emang. Cinta kok bisa bikin orang bodoh, ya?”


“Entah gimana caranya nyadarin lo, Ann. Kayaknya gue perlu martil buat ngetok pala lo. Boleh?”


“Kalo itu bisa bikin gue move on dari Rafa, boleh aja.”


TBC