Holy Marriage

Holy Marriage
Holy Marriage



“Risoles yang tadi mana?” tanya Alan saat melihat kantong bekas risoles yang pertama ia beli, sudah kosong.


“Udah habis.” Anna tersenyum lebar.


Alan garuk-garuk kepala meski tidak gatal. Nyatanya risoles yang kata Anna jumlahnya sangat banyak, ludes dimakan sendirian tanpa cabe. Lalu kenapa harus memerintah Alan nyariin cabe? Alan tidak mau melontarkan pertanyaan itu, cukup ditelan dalam hati saja.


Sekarang istri Alan seperti orang kelaparan yang sudah tiga hari tidak makan. Anna melahap risoles yang baru diberikan Alan dengan olesan cabe.


“Anna, kamu jangan makan cabe banyak-banyak, entar mules, kasian debaynya.”


Anna tersenyum. “Abisnya, enak, sih. Udah ini, aku minta dibikinin teh hangat, ya! Rasanya badanku jadi agak dingin setelah minum cendol tadi.”


Alan tidak protes dengan sikap Anna yang aneh-aneh. Anna kini lebih manja dari sebelumnya. Dan Anna bangga melihat Alan yang menuruti kemauannya.


“Mas Alan, aku pengen…”


“Apa?” potong Alan. Alisnya mengerut, takut Anna akan menganiayanya dengan permintaan aneh-aneh lagi. Sebenarnya tidak aneh, tapi tingkahnya yang aneh.


“Kalau aku sembuh nanti, aku pengen kita refreshing kemana gitu.”


Alan tersenyum. “Kirain kepengen makanan lagi.”


“Kamu nggak ikhlas ya aku mintain tolong nyariin makanan?” tuding Anna sambil menunjuk muka Alan.


Alan menangkap jari telunjuk yang disodorkan ke arahnya dan menggenggamnya erat. “Ikhlas. Oke, kita akan refreshing. Kamu maunya kemana? Ke Hongkong, ke Itali, ke Paris, New York, Singapura, London, Israel? Kemana?”


Anna menyukai gaya antusias Alan. Ia pun mulai berpikir. “Ke Israel mau ngapain? Perang?”


Spontan Alan tertawa. Istri hamil malah ditawari jalan-jalan ke negara konflik.


“Ya udah kamu maunya kemana?” tanya Alan.


“Ke Bali.”


Alis Alan berkedut, heran. Setelah ia menawarkan tempat-tempat yang semuanya adalah luar negeri, Anna memilih di negara sendiri.


“Aku kangen Bali. Aku pengen mengenang masa pernikahan kita yang dilangsungkan di Bali.”


“Ooh..” Alan mengangguk. Ternyata Anna menghormati pernikahan mereka.


“Mas Alan.”


“Ya? Ada lagi yang mesti kubantu?”


“Aku hanya ingin kita menjaga pernikahan ini. Pernikahan ini suci, sayang.”


“Ya, tentu.”


“Jangan ada noda, jangan ada dusta, jangan ada pertikaian yang membuat kita saling membenci satu sama lain. Kalaupun ada masalah, kita harus bicarakan baik-baik. Aku ingin kita tetap saling mencintai sampai tua nanti. Terlalu keji jika sampai merusak ikatan suci pernikahan kita.”


Perkataan Anna membuat Alan terpaku. Anna begitu serius mengucapkan kata-kata itu hingga Alan merasa tertuntut. Tatapan mata Anna yang begitu dalam membuat Alan balas menatap intens.


“Pasti,” bisik Alan.


“Bagaimana dengan Cintya? Kapan kita akan menemuinya? Kapan kamu selesaikan masalahmu dengannya?”


Alan terdiam.


Anna mulai gelisah menatap Alan yang hanya diam. “Apa kamu emncintainya?”


“Aku mencintaimu.”


“Aku menanyakan Cintya, apa kamu mencintainya?” ulang Anna. “Apa kamu sembunyi-sembunyi masih sering menemuinya?”


“Enggak.”


“Kapan terakhir kali kamu ketemu dia?”


“Mmm… Tadi.”


Anna mengesah kecewa. “Kamu bilang nggak lagi menemuinya, tapi kamu juga mengaku tadi menemuinya.”


“Ya, aku ke rumahnya untuk mencarimu,” jawab Alan.


“Untuk apa aku ke rumah Cintya?”


“Ah, sudahlah, Anna. Jangan bahas Cintya. Aku janji akan selesaikan semuanya, tapi beri aku waktu.” Alan tak mungkin mengatakan kalau ia mencurigai Anna bersembunyi di rumah Rafa.


Anna menghela nafas, malas berdebat.


***


Tbc