Holy Marriage

Holy Marriage
Janji s2



Anna langsung menuju ke nakas. Ia melihat ponsel alan kedip-kedip. Pertanda ada pesan masuk. Ia meraih ponsel dan membuka layarnya. Ada tiga panggilan tak terjawab dari nama yang sama, Dhani. Kemudian pesan dari nama yang sama juga. Anna tidak berani membuka pesan karena takut akan ketahuan sedang mengoreksi ponsel Alan dengan membuka-buka pesan di ponsel itu. Ia cukup membacanya di layar luar tanpa membukanya sehingga notifikasi pesan belum dibaca masih tertera di sana.


Dhani


Jangan lupa kita ada janji.


Untung saja isi pesan memang singkat, sehingga anna bisa membaca isi pesan keseluruhan. Anna mengernyit membaca pesan tersebut. Janji? Siapa Dhani sebenarnya? Anna kembali meletakkan ponsel setelah mengingat-ingat nomer yang dinamai Dhani tersebut.


Tak lama kemudian Alan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang, dan sudah keramas. Pria itu kemudian duduk di sisi ranjang. Ia meraih ponsel dan melihat-lihat isinya.


Anna melirik Alan berusaha menarik kesimpulan dari ekspresi wajah yang ditampilkan suaminya.


“Oh… Ya ampun.” Alan kemudian buru-buru mengenakan pakaian yang disediakan oleh Anna. “Aku pergi. I love you.” Alan mengecup singkat kening Anna kemudian melenggang keluar dengan langkah tergesa-gesa.


Anna mengernyit heran. Kemarin Alan mesti sampai harus bersembunyi ke balkon hanya untuk sekedar menerima telepon dari Dhani, dan sekarang ia terburu-buru pergi sesaat setelah membaca pesan dari Dhani. Ada apa sebenarnya? Kenapa Anna jadi kepo sekali? Ini akibat ketidakjujuran Alan, akhirnya Anna pun berpikiran yang tidak-tidak terhadap suaminya sendiri.


Anna bergegas keluar kemudian mengeluarkan mobil dari garasi. Dengan kecepatan tinggi, ia mengejar mobil yang dikendarai oleh Alan di depan. Setelah jarak mereka tidak begitu jauh, Anna sengaja mengurangi kecepatan mobil supaya ia tidak dicurigai.


Lima belas menit kemudian, Anna menepikan mobil saat mobil yang dikendarai Alan berhenti di depan, tepatnya di sebuah rumah tingkat dua. Anna sengaja menghentikan mobil di jarak yang cukup jauh. Ia masih terus memantau, namun hingga satu jam lamanya, Alan tak kunjung keluar.


Anna kemudian turun dari mobil, ia menuju ke sebuah toko yang ada di dekat sana. Sambil pura-pura membeli pena, Anna bertanya pada penjaga toko. “Mbak, rumah cat putih tingkat dua yang itu milik siapa ya?”


“Yang mana, Mbak?” balas penjaga toko.


“Yang itu!” Anna kembali menunjuk rumah yang dimaksud.


“Ooh… Itu rumah Dokter Amira. Kenapa, Mbak?”


“Enggak apa-apa.” Anna tertegun sejenak. Dokter Amira? Anna baru mendengar nama itu. Ngapain Alan kesana? “Apa dokter Amira buka praktik di rumahnya ya?”


“Setahu saya sih enggak. Soalnya beliau ada buka praktik di tempat lain, Mbak.” Kemudian penjaga toko itu menyebutkans ebuah alamat.


“Dokter gigi.”


Weh… apa Alan sakit gigi ya? Atau jangan-jangan selama ini Alan ompong dan pakai guigi palsu semua makanya dia rahasiain hubungannya dengan dokter Amira? Supaya aku nggak tahu kalau sebenernya dia itu nggak punya gigi? Elah, mikir apaan sih?


Anna melenggang pergi setelah membayar pena yang harganya hanya seribu perak. Jawaban si penjaga toko benar-benar tidak memuaskan. Tingkat penasaran Anna masih tinggi dan belum terjawab. Anna melihat mobil Alan di depan sudah tidak ada. Anna kemudian membeli kartu baru dan menelepon nomer Dhani. Mungkin nama Dhani akan menjawab pertanyaan di kepalanya.


“Halo, selamat pagi! Dengan siapa?” Tanya suara di seberang. Dan itu ternyata adalah suara seorang wanita. What? Ada ya nama Dhani berjenis kelamin laki-laki?


“Pagi, apa benar ini dengan Dhani?”


“Iya, benar saya sendiri.”


“Ini perempuan kan?”


“Iya, kenapa ya, Mbak? Ini salah sambung apa gimana?”


“Oh enggak, maaf apa ini Dhani yang profesinya sebagai tukang servis elektronik?” Anna ingin mengoreksi dan mencari tahu siapa wanita yang bernama Dhani itu.


“Bukan.”


“Loh, jadi ini Dhani yang mana?”


“Maaf, mungkin Mbak ini salah sambung. Saya tutup teleponnya.”


“Eh tunggu!”


Thuth thuth… Sambungan telepon diputus sepihak. Ya ampun, kok rasanya nelangsa banget pas lagi bicara kemudian sambungan teleponnya diputus. Awas aja, kalau ketemu nih bocah jangan harap aman dari amukan salto-saltoku.


TBC