Holy Marriage

Holy Marriage
I Love You, Baby



“Ya ampun, jangan serius banget, dong. Maaf. Maaf. Aku salah.” Anna tersenyum lebar, membuat Alan tak kuasa mendaratkan kecupan hangat di pipi Anna.


“Sekarang aku tahu seberapa besar perhatian dan kasih sayangmu ke aku,” ucap Anna.


“Jadi kamu masih meragukan itu?” Alan meletakkan kepalanya di pundak Anna.


“Aku nggak meragukannya, tapi sekarang lebih teruji.”


Alan tidak menjawab, cukup mengecup singkat pipi Anna.


“Coba rasakan detakan ini!” Alan mengambil tangan Anna dan meletakkan telapak tangan itu ke dadanya.


Anna merasakan ritme detakan jantung alan yang masih kencang. Detakan itu membuktikan keadaan yang sebenarnya, bahwa Alan tadi benar-benar panik.


“Maaf,” ucap Anna lagi. “Uluh uluuuuh… pelipismu benjol. Sakit, ya?”


“Enggak, enak banget.” Alan menyindir.


“Hehe… Ya udah, biar kucariin es untuk mengompres.”


“Nggak usah. Kamu diam di sini aja. Jangan kemana-mana. Kamu istirahat aja. Pelipisku pasti sembuh sendiri.”


“Beneran?” Anna merasa bersalah.


“Iya, beneran. Aku ke kamar kecil dulu.” Alan bangkit bangun dan turun dari ranjang.


Anna memejamkan mata. Sebentar saja, ia sudah langsung tertidur. Rasa lelah membuatnya begitu mudah terlelap.


Alan baru saja keluar dari kamar kecil ketika Anna benar-benar sudah tidur. Alan naik ke atas ranjang. Ia memeluk istrinya dari belakang.


Alan tersenyum ingin menjadikan malam ini sebagai malam spesial untuk Anna, malam yang selalu Anna rindukan nantinya. Apa lagi jika bukan mencetak sejarah di ranjang king size itu. Ia mengintip wajah Anna yang matanya sudah terpejam. Suara keras napas istrinya mengisi kesunyian.


Alan tidak tega mengganggu tidur Anna.


Oke, besok pagi saja. Begitu pikir Alan.


“I love you, Baby!” Alan mengelus perut Anna dan mulai terpejam.


Usai shalat subuh berjamaah, Alan mengambil ponsel Anna dan membuka aplikasi Al Qur’an. Hanya ponsel milik Anna yang menyimpan aplikasi Al Quran. Ia menyempatkan waktu sebentar untuk mengaji, surat Al Qamar menjadi pilihannya.


Suara Alan yang merdu membuat Anna terdiam untuk menyimak. Anna bangkit bangun dan berbaring di ranjang mendengarkan. Tak lama kemudian, Anna meraih ponsel Alan setelah melipat mukena dan meletakkan ke tempatnya, sementara telinganya masih terus menyimak bacaan suaminya.


Anna mengaktifkan ponsel Alan. Walpaper masih sama, foto kecil yang tak tahu entah siapa. Mungkin Clarita. Bibir Anna tersenyum membuka foto-foto yang ia ambil di pantai Kuta.


“Udah ngajinya?” tanya Anna menyadari Alan yang bangkit dan kini berdiri di hadapannya. Mata Anna tidak beralih dari layar ponsel Alan.


“Udah.” Alan duduk di sisi Anna dan memeluknya dari samping.


Inilah saatnya membuat sejarah baru. Pikir Alan. Ia mulai memberikan belaian di rambut Anna. Bibirnya yang lembut dan dingin mendarat di pipi Anna.


Alan mengambil ponsel di tangan Anna dan meletakkannya ke atas nakas, ia berusaha mengalihkan perhatian Anna. Biasanya Alanlah yang terlihat cuek, tapi kini gantian Anna yang cuek.


Anna tersenyum saat matanya beradu pandang dengan mata cokelat Alan.


Baru saja Alan memulai, terdengar dering ponsel yang bersumber dari ponsel Alan.


Mengganggu saja! Pikir Alan.


“Angkat!” ucap Anna saat Alan terlihat tidak memperdulikan dering ponselnya.


“Biarin aja. Paling sekretaris.”


“Kalau penting, gimana?”


Alan tidak perduli, ia meneruskan pekerjaannya.


Dering ponsel tidak berhenti sekali saja, untuk kedua kalinya ponsel kembali berdering.


“Angkat, sayang! Kalau nggak mau, biar aku yang jawab!” Anna meraih ponsel Alan.


TBC