Holy Marriage

Holy Marriage
Di Vila



Hari pengumuman itu telah tiba. Seluruh siswa kelas dua belas dikumpulkan di lapangan tempat dimana diadakan apel upacara bendera setiap hari senin. Para guru berbaris rapi di hadapan murid-murid.


Dan ketika seorang guru mengumumkan melalui mikrophone, bahwa seluruh siswa dinyatakan lulus, semuanya melompat girang. Yang cewek kebanyakan bertingkah lebay dan berpelukan sambil menangis haru. Tidak tahu entah siapa yang dipeluk, yang jelas ada yang berdiri di samping langsung dipeluk. Termasuk Anna, yang spontan berpelukan dengan seseorang di sisinya. Anna mengerutkan hidung saat mencium aroma ketiak. Dan alisnya terangkat tinggi saat melepas pelukan dan ternyata orang tersebut adalah Joli.


Sama halnya dengan Joli, gadis itu terbelalak heran karena sudah asal peluk tanpa tahu siapa yang dipeluk.


Anna menjauhkan diri dari Joli dan mencari Arini. Bukan maksud sebel sama Joli, tapi demi menghindari aroma menusuk. Joli sadar satu hal, alasan Anna mendadak pergi setelah berpelukan dengannya adalah faktor alami, bau ketek. Spontan Joli mencium bagian pangkal lengannya dan berakhir dengan nyengir, asem bin pahit. Itu ketiak apa lubang closed? Wajar, tadi pagi ia tidak sempat mandi karena bangun kesiangan, bahkan tidak pakai deodoran.


Arini memeluk Anna dan meneteskan air mata penuh keharuan. Akhirnya perjuangan mereka usai sudah.


“Sst, liat, tuh!” Arini menempelkan telapak tangannya ke pipi Anna dan memaksa wajah Anna menoleh ke kanan.


Begitu menoleh, Anna terperanjat melihat Alan yang sudah berdiri menyandar di mobil. Pria itu tampak santai memainkan ponsel dekat parkiran mobil.


Ditengah perhatian para cewek yang sibuk membicarakan Alan, Anna berlari mendekati pria itu.


“Gimana, lulus?” Alan mengantongi ponsel ke balik jasnya setelah tadi terlihat sibuk menelepon.


“Iya iya, lulus. Aku seneng banget. Suer.” Anna bertepuk tangan girang.


“Oke, kita pulang sekarang? Atau, ada yang mau ditunggu lagi?”


“Nggak ada. Ya udah, kita pulang.”


Alan membukakan pintu mobil untuk Anna. Mobil melesat meninggalkan area sekolah setelah Alan menyetirnya. Mereka menghabiskan waktu dengan makan bersama di kafe, makan es krim, shoping dan berakhir di sebuah vila.


***


Anna memasuki vila yang tidak asing lagi baginya. Seluruh ruangan sudah ia jelajahi, terkecuali kamar lantai dua. Alan menarik pergelangan tangan Anna memasuki kamar. Anna terbelalak melihat kamar yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Kamar itu didesain seromantis mungkin.


“Kamu sengaja menghias kamar ini untukku?” Anna menatap bunga-bunga yang bertebaran di atas ranjang dan juga bunga yang tersusun di dinding.


Anna melirik Alan yang terlihat asik dengan barang bertekhnologi canggih itu. Apakah Cintya yang sedang nge-chat sampai-sampai Alan seasik itu dengan ponselnya?


“Kamu mau hadiah apa atas kelulusanmu?” Alan meletakkan ponselnya ke meja.


Anna merasakan sentuhan hangat di pipinya. Alan menempelkan telapak tangannya ke pipi Anna. Lelaki itu menatap Anna lekat-lekat.


Mendapat tatapan seserius itu, Anna pun gugup.


“Aku nggak minta hadiah apa-apa.”


“Yakin?”


“Kalau aku bilang pun belum tentu kamu bisa ngasih.”


“Ngeremehin Alan Wiliam? Memangnya apa yang nggak bisa kukasih ke kamu?” Alan tampak ke-Pe-De-an. “Mobil? Rumah? Intan berlian? Pulau pun bisa kubeli untukmu.”


“Nggak semua permintaan berwujud materi.”


“O ya? Jadi kamu mintanya apa kalau bukan soal materi? Minta cerai? Itu udah ada di surat kesepakatan kita, istri dilarang minta cerai. Ingat?”


Demi harta, Alan melarang Anna bercerai? Egois! Anna menghela napas.


“Istirahatlah di sini. Anggap ini hari romantis kita berdua.”


Anna nyengir kemudian berbaring dan memejamkan mata. Alan keluar menutup pintu.


“TBC