
Artinya, Anna hanya akan menjadi boneka pajangan di hadapan Alan selama menjadi istri lelaki itu? kalau begitu caranya, kapan Anna akan hidup bahagia dengan lelaki pilihannya sementara ia dilarang bercerai dengan Alan? Anna mengerutkan dahi memikirkan jawaban. Semoga secepatnya Alan menyelesaikan urusannya dengan Cintya, sehingga Anna bisa segera bebas menentukan pilihan.
Andai ia mengijinkan Alan menikahi Cintya, artinya ia telah menghindarkan dua insan dari zina. Mungkin akan lebih baik begitu. Karena selayaknya istri sah, akan menjadi dosa besar baginya bila membiarkan suaminya terang-terang berpacaran dengan wanita lain. Karena jika Alan telah mengikrarkan janji suci dalam ikatan ijab qobul, maka apapun yang dilakukan Alan dan Cintya akan menjadi halal. Lagi pula Anna tidak memiliki perasaan apapun terhadap Alan, baginya Alan hanyalah batu loncatan untuk bisa melumpuhkan Rafa. Tidak ada salahnya ia mengijinkan Alan menikahi Cintya, dari pada ia harus memupuk dosa dengan membiarkan suaminya bermain gila dnegan perempuan lain.
Ya ampun, kenapa hidupnya kini justru serumit ini? Ia sudah terlalu jauh mengambil langkah, tentu harus jauh pula mengambil resiko.
“Oke. Tapi dengan syarat, kuberi waktu selama tiga tahun untukmu dan Alan menikah siri. Selama itu tentu kalian udah cukup mengambil kekayaan Mertuaku untuk biaya hidup kalian. Dan kalian bisa bersenang-senang dengan semua itu. Kalau kita ngomongin harta, Alan satu-satunya anak laki-laki di keluarga Wiliam. Jadi jangan cemas, dia pasti dapet harta dua kali lipat dari saudara perempuan lainnya.”
Cintya tampak berpikir, kemudian menjawab, “Ya udahlah, yang penting sekarang aku udah mendapatkan restumu. Setelah itu, urusan gampanglah.” Kembali Cintya bercerita tentang Alan.
Lagi-lagi, Anna menanggapi dengan senyum. Saat itu ia hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan cerita Cintya yang terlihat begitu antusias. Banyak hal yang Cintya ungkapkan tentang Alan. Bahkan sampai hal-hal romantis yang Alan berikan kepada Cintya pun menjadi topik hangat saat itu, dan itu cukup membuat Anna merasa iri diperhatikan oleh seorang kekasih. Sementara dalam percintaan yang Anna jalani, ia harus merasakan patah hati.
Ditengah-tengah obrolan santai, seorang office Boy memberikan dua gelas jus sesaat setelah Cintya menelepon dan meminta dihidangkan minuman tersebut.
Tidak lama kemudian, Alan memasuki ruangan itu setelah sebelumnya menelepon Cintya menanyakan dimana keberadaannya.
“Hai sayang, kalian akrab banget?” Alan duduk di sisi Cintya.
“Iya nih, aku lagi ngobrolin banyak hal sama Anna. Kamu nanti pasti juga akan seneng dengernya.” Cintya tampak girang, kemudian ia menyentil pipi Alan dengan telunjuknya.
“O ya? Ngobrolin apa?”
“Nanti aja kuceritain.”
“Oke.” Alan sekilas melihat arlojinya dan kemudian berkata. “Kalau gitu kuanter kamu pulang.”
“Sekarang? Tapi kita kan belum sempet jalan-jalan, sayang.” Cintya memegang tangan Alan.
“Nanti malem kita bisa jalan-jalan.”
“Iya iya. Nanti malem aku jemput kamu dan kita jalan.”
“Nah, gitu, dong.”
Anna menatap kemesraan di hadapannya. Alan dan Cintya lupa jika ada orang lain selain mereka berdua. Hingga saat Anna pura-pura batuk, Cintya dan Alan menoleh ke arah Anna dan seperti baru menyadari kalau sejak tadi Anna dikacangin.
“Ya udah, sekarang kuanter kamu pulang. Anna pasti juga udah laper.” Alan tersenyum menatap Anna.
“Nggak usah, aku bisa pulang sendiri. Kamu bawa Anna pulang aja sekarang. Kasian dia,” ucap Cintya.
“Sungguh?” Alan meyakinkan Cintya, tidak ingin gadis itu kenapa-napa.
“Sungguh. Aku biasa pulang sendiri setiap kali dateng ke kantormu, kan? Ya udah, kamu hati-hati, ya!”
Cintya melenggang pergi.
Pandangan Alan kini tertuju ke wajah Anna, tepat pada saat Anna juga tengah menatap mata elang pria itu.
“Sekarang kita makan, yuk,” ajak Alan.
Anna mengangguk kemudian bangkit berdiri. Alan melingkarkan tangan kekarnya di bahu Anna.
Sekilas Anna melirik tangan di bahunya tanpa protes. Tebak Anna, Alan melakukan hal itu demi menarik perhatian orang-orang di sekitar sana, supaya rumah tangganya terlihat harmonis.
***
TBC