Holy Marriage

Holy Marriage
Dikacangin



Antara Anna dan Alan terikat pernikahan tanpa rasa cinta, dan bahkan Anna sangat menginginkan perceraian setelah waktu yang ditentukan. Di mata Cintya, tentu itu sudah cukup menjadi alasan baginya untuk mendekati Alan di depan Anna.


Alan sudah menunggu di sebuah meja. Anna menarik kursi dan duduk di depan Alan. Dilihatnya Cintya yang menarik kursi di samping Alan dan merapatkan kursi itu hingga tidak berjarak dengan kursi Alan.


Anna tidak mendapati Rafa dan Joli ketika mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Sepertinya mereka pergi lewat pintu samping.


“Hei hei... Kamu pesenin ini buat aku?” Cintya takjub melihat pelayan meletakkan seporsi makanan ke hadapannya. “Kamu paling tau ini tuh makanan kesukaanku.”


“Pasti, dong. Kamu sering pesen itu kalau makan sama aku,” jawab Alan.


“Makasih, sayang!” Cintya mencium singkat pipi Alan.


Anna menahan nyeri di dadanya. Pemandangan di depan matanya benar-benar menusuk.


Alan tampak kaku setelah mendapat ciuman singkat itu, sepertinya Alan memang tidak setuju dengan gerakan menyerobot ala nyosor seperti yang baru saja Cintya lakukan. Terbukti Alan sedikit menggeser kursinya agak menjauh dari Cintya.


Seorang pelayan meletakkan tiga gelas minuman ke atas meja. Anna tidak memesan kopi vietnam, tapi minuman itu disediakan pelayan untuknya. Jujur, Anna memang sangat menyukai minuman itu.


Sepanjang makan, Cintya dan Alan mengobrol sambil tertawa riang. Lagi-lagi, Anna merasa dikacangin. Alan dan Cintya sepertinya lupa jika ada orang lain selain mereka di meja itu. Anna hanya bisa menonton saat melihat Alan menyuapi Cintya. Dan yang lebih mengenaskan, ia terkejut saat melihat gelas minuman yang disuguhkan untuknya sudah kosong. Sejak tadi, tanpa sadar Alan berkali-kali menyesap minuman milik Anna setelah isi dalam gelas milik Alan sudah habis.


Tenggorokan Anna terasa kering. Duduk di dalam kafe ber-Ac tapi seperti berdiri di tengah-tengah padang pasir. Rupanya pemandangan di depan mata yang membuatnya merasa lemas dan kehabisan tenaga, tenggorokan pun mengering.


Ugh, entah kenapa Anna dongkol sekali melihat pemandangan itu. Ia ingin berteriak supaya Alan menjauh dari Cintya. Tapi apa ia punya hak? Bukankah sejak sebelum pernikahan, justru Anna yang membuat benteng bahkan perjanjian gila supaya Alan tidak bisa memiliki Anna seutuhnya?


Alan dan Cintya benar-benar terlihat bahagia sampai-sampai mereka tidak menyadari kepergian Anna dari meja itu.


***


“Anna, kok aku dipunggungin?” Alan konsentrasi menyetir. Sekilas menatap rambut Anna yang tergerai bebas di punggung.


Anna diam saja menatap ke luar. Menatap rintik hujan yang mulai turun membasahi jendela, membuat pandangannya menjadi kabur.


Lima belas menit Anna tetap pada posisinya, tidak mau bicara bahkan memunggungi Alan. Mobil berhenti di lampu merah.


“Anna!”


Sedikitpun Anna tidak bergerak untuk membalikkan badan.


“Anna, ada apa denganmu?”


“Nggak ada apa-apa,” sewot Anna.


“Lalu kenapa dari tadi nggak mau ngeliat aku?”


“Penting buatmu?”


“Anna!” Alan menarik bahu Anna hingga tubuh gadis itu berbalik menghadapnya. “Apa masalahmu?”


Anna menatap mata cokelat Alan. Mendadak kepalanya dipenuhi dengan bayang-bayang kejadian beberapa waktu yang lalu, ketika mata cokelat Alan berada sangat dekat beberapa centi saja di depan wajahnya, ketika bibir hangat Alan menyentuh bibirnya, ketika pandangan mereka bertemu di jarak yang hanya sekian senti, ketika tubuh besar itu berada sangat dekat darinya. Ya Tuhan, Anna tidak kuat menatap mata Alan.


TBC