
Ugh... itu pasti sakit. Anggap saja sebagai hukuman. Sayatan di badan pasti tidak sebanding jika dibandingkan dengan sayatan di hati. Perihnya luar biasa. Sebenanrnya Anna tak tega melihat Alan tak berdaya.
“Pergilah, Anna. Mereka nggak akan melepaskanmu meski cincin itu kamu serahkan,” rintih Alan.
Anna membulatkan mata. Dalam sepersekian detik ia berpikir, kemudian ia memilih melarikan diri. Pria-pria sangar itu berteriak mengumpat dan Anna tidak mau menoleh.
Sebenarnya bisa saja Anna menukar keselamatan Alan dengan cincin yang diinginkan para bandit itu, tapi rasa sakit dalam hatinya membuatnya lebih memilih untuk kabur. Ia berusaha untuk tidak perduli lagi dengan Alan. Rasa sakit membuat hatinya membeku. Lagi pula, para bandit itu pasti tidak akan berani melenyapkan Alan. Mereka hanya menginginkan cincin, bukan kematian.
Anna berhenti saat sudah berbelok cukup jauh, tepatnya kini berada di tepi jalan raya, jalan yang dipadati dengan kendaraan lalu-lalang. Sesaat ia berpikir, bagaimana jika para preman itu benar-benar melukai Alan? Bagaimana jika mereka benar-benar nekat karena marah?
Guyuran hujan begitu deras dan Anna mengusap wajah yang dibasuh air hujan. Anna berbalik dan berlari menuju ke tempat dimana para preman itu membekuk tubuh Alan.
Dari ujung gang, Anna tidak mendapati siapapun. Seharusnya Anna sudah bisa melihat keberadaan Alan dan preman-preman itu jika mereka masih ada di sana. Tapi mereka sudah pergi. Anna berdiri tepat dimana warna merah terinjak oleh kakinya, dalam hitungan detik cairan merah itu melebur bersama air hujan yang menggenang.
Andai saja Alan terluka dan tidak bisa bangkit, pasti dia masih ada di sana. Tapi Alan sudah pergi, artinya dia masih bisa berjalan dan semoga baik-baik saja.
Setengah hati Anna menyesal lebih memilih cincin dari pada keselamatan Alan. Sebenarnya cincin itu sama sekali tidak berharga di matanya, jauh lebih berharga diri Alan dari pada cincin yang tak bernyawa itu. Tapi sayatan perih di hatinya membuatnya bersikap demikian.
***
Anna mencuci piring usai makan mie goreng jumbo hasil masakannya, bersama Herlambang ia makan berdua. Seharian tidak makan membuat Anna berhasil menghabiskan mie dalam porsi banyak. Mengingat video yang terus membayang dalam memori kepala benar-benar telah menguras pikirannya. Ia berusaha terus melupakan, tapi kejadian itu terus menempel di kepalanya. Menyebalkan.
“Oke, Ayah,” jawab Anna tanpa menoleh. Mana mungkin Anna memberi tahu Alan akan keberadaannya, sebisa mungkin ia menghindari, lalu bagaimana mungkin ia malah memberitahukan dimana posisinya sekarang kepada pengkhianat itu.
Anna menyusul ayahnya ke ruang tamu usai merapikan piring dan gelas ke rak.
“Ayah, Anna berkunjung ke sini karena kangen sama ayah.” Anna menggelayut manja di lengan Herlambang.
“Kemarin kan kamu baru saja dari sini. Jangan sering-sering ke sini, biar ayah saja yang menjengukmu ke sana.”
“Lebih baik yang muda yang menjenguk yang tua bukan? Tapi aku selalu sendirian setiap ke sini. Ayah kan tau sendiri Mas Alan orangnya tuh sibuk banget.”
“Ayah mengerti soal itu.”
“Anna sering kepikiran ayah, lihatlah ayah sendirian di rumah, nggak ada yang ngejagain ayah.”
Herlambang tersenyum. “Ayah kan masih sehat, masih kuat. Apa yang perlu dikhawatirkan?”
TBC