
“Malam, Om!” sapa pria itu terdengar sangat tegas dan wibawa.
What? Nggak salah? Itu kan cowok yang muncul di sekolah waktu itu. Ah ya, maksudnya motivator itu. Anna kalang kabut sendiri. Kesan pertama pertemuannya dengan Alan sangat buruk. Anna bahkan dicap sebagai siswi yang predikat kedisiplinannya sangat buruk. Dimata Alan, Anna pasti sangat menyebalkan. Pertemuan pertama saja sudah membuatnya sebal. Dan satu lagi, apakah Alan akan menerima gadis bau kencur sebagai istri? Jelas-jelas Alan pernah melihat Anna mengenakan seragam putih abu-abu? Waduh... Bisa berabe, nih.
Anna menundukkan wajah dan sibuk berkutat dengan pemikirannya sendiri. Ia bahkan tidak mendengarkan obrolan yang dibicarakan antara William, Laura dan Herlambang. Dan Alan? Pria itu juga tidak kedengaran suaranya.
Sesekali mata Alan melirik ke arah Anna untuk mencuri pandang calon istrinya. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya saat menangkap wajah Anna yang menunduk.
“Maaf, Om. Bisa saya bicara dengan putri Om sebentar saja?”
Nah, kali ini Anna yakin itu suara Alan. Tapi untuk apa Alan mengajak Anna bicara? Jantung Anna berpacu semakin cepat.
“Silahkan! Kalian tentu perlu bicara,” jawab Herlambang.
Yaaaah... si ayah kenapa diijinin sih? Gimana kalo anakmu ini ditoyong jidatnya dan dikatain nggak level sama si Alan? Aduh.. kenapa Anna negatif thinking mulu?
Alan berdiri. Satu langkah, ia berhenti menunggu Anna yang masih diam mematung.
Sadar sedang ditunggu, akhirnya Anna bangkit berdiri dan mengikuti Alan menuju entah kemana. Yang jelas ia terus mengikuti sepasang kaki di depannya.
Perasaan Anna semakin gelisah saat sendal di kakinya tidak mau diajak kompromi. Rasanya heel sebelah kiri akan lepas, sudah goyang-goyang seperti gigi akan copot. Dan astaga, ia terkejut saat menatap sendal high heels yang ia kenakan. Ternyata yang ia pakai sekarang adalah sendal Bik Rusni, tetangga yang sering main ke rumah dan pelupa tingkat akut. Datang pakai sendal, pulang nyeker alias tanpa sendal. Warna sendal butut di kakinya itu sudah sangat mengenaskan. Kebesaran lagi. Efek terburu-buru, ia pun salah pakai sendal yang tadinya diletakkan Bik Rusni di ruang tamu. Kenapa ia tidak menyadari sejak tadi?
Satu hal yang membuat Anna jantungan, ia harus menubruk punggung Alan saat pria itu berhenti gara-gara kepala Anna menunduk terus sampai-sampai tidak menyadari Alan di depannya sudah ngerem.
“Remnya blong,” lirih Anna membuat alis Alan terangkat.
Tanpa memprotes, Alan menarik kursi dan mempersilahkan Anna duduk di kursi yang ia tarik. Suer, Anna merasa dihormati sebagai wanita.
Alan kemudian duduk berseberangan dengan Anna. Tepatnya kini mereka duduk berhadapan.
Di posisi begitu, tentu saja kegugupan Anna kian menerjang. Ia ingin pingsan saja, atau Alan yang pingsan sehingga kondisi yang ia alami sekarang langsung terhenti.
“Kamu gadis yang akan menikah denganku bukan?” tanya Alan.
“Ya.” Anna masih menunduk.
Hanya itu yang Alan tanyakan. Pria itu kemudian mengambil ponsel dari saku kemejanya dan sibuk dengan benda pipih tersebut.
Seorang pelayan datang dan meletakkan dua gelas jus. Entah kapan Alan memesan minuman itu.
Lima menit berlalu dan Alan hanya diam saja. Anna mulai berani mengangkat wajah secara perlahan. Ia menatap cowok berambut semi perak yang menjadi idola sekolahnya itu. Lelaki ganteng berpostur tinggi yang sedang menyesap jus itu tampak tenang dan rileks. Sedikitpun tidak tampak kegalauan dari raut mukanya meski berada di ambang perjodohan.
TBC