Holy Marriage

Holy Marriage
Resiko



“Kita dijodohin dan berakhir jadi suami istri adalah keinginanmu. Aku nggak tau kenapa kamu sampai harus macarin Cintya sementara udah sejak lama kamu suka sama aku. Apa perlu mengorbankan perasaan Cintya demi bisa ngebuat aku mencintaimu?”


Alan memalingkan wajah ke samping berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah dan memanas. Kata-kata Anna membuatnya merasa malu. Apa yang ia sembunyikan, harus diketahui istrinya melalui orang lain. Saking merasa malu, tanpa sadar gelas di tangannya sampai terlepas dan meluncur ke bawah. Tapi tidak pecah, Anna berkelit begitu cepat menangkapnya.


“Jika memang kamu cinta sama aku, jangan lagi ada orang ketiga diantara kita.”


Alan menatap mata Anna lekat-lekat. Mata itu begitu indah. Lalu menangkupkan kedua telapak tangannya ke kedua pipi sitrinya itu. Dengan perasaan cinta yang mengisi seluruh ruang hatinya, Alan berkata, “Harus ada yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu. Untuk mengukur kedalaman perasaan seseorang, dia harus disakiti terlebih dahulu.”


“Cukup sudah. Aku tersakiti dan kedalaman cintaku ke kamu udah terukur. Aku mencintaimu.”


“Anna, jangan permainkan aku.”


“Apa aku kelihatan main-main? Aku sayang kamu!” Anna menyentuh tangan Alan yang sampai saat ini masih membingkai pipinya.


Alan terpaku mendengar kata cinta dari bibir mungil istrinya. “Aku juga mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Anna,” balas Alan kemudian menarik tubuh Anna dan mendekapnya dengan satu tangan. Alan menciumi setiap inci wajah cantik itu. Ia tidak perlu menanyakan dari mana Anna tahu tentang perasaannya yang memang sudah sejak lama mencintai Anna. Saat ini ia hanya mau satu hal, meluapkan perasaan cintanya yang meluap. Ia berhenti ketika menemukan bibir Anna.


“Aku nggak akan mendekati Cintya lagi. Aku udah mutusin dia, tapi dia belum bisa menerima keputusanku.”


“Gengsimu terlalu gede. Begitu berat mengungkapkan cinta dan rela memendamnya dalam-dalam, bahkan membuat skenario serumit ini hanya demi menyadarkanku untuk bisa mencintaimu. Bahkan kamu tega memperalat Cintya. Dia pasti terluka atas permainanmu. Minta maaflah padanya.”


“Aku putuskan dia dalam kasus berbeda, alasan memutuskannya cukup kuat dan membuatnya berada di posisi yang salah.”


“Tapi dia tetap akan berharap padamu.”


“Semoga enggak. Aku udah kasih banyak harta untuknya, semoga itu bisa jadi penawar.”


“Kamu pikir perasaan bisa dihargai dengan materi?”


“Bukankah kebanyakan yang diinginkan wanita adalah uang? Mungkin pengecualian untukmu.”


“Mungkin dia nggak akan memaafkanku kalau tau yang sesungguhnya.”


“Itu resiko.”


“Apa kamu tega membuat suamimu dipersalahkan?”


“Resiko orang bersalah memang harus dipersalahkan. Kamu bener-bener edan.”


“Baru sadar punya suami edan?” Alan tersenyum. Kebahagiaan melalui ekspresi wajahnya terlihat begitu jelas. Alan tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi, dan Anna menangkap kebahagiaan yang menguar di wajah suaminya. Sama seperti dirinya, yang berbahagia seperti pengantin baru.


Alan mengecup pucuk kepala Anna yang dibalut jilbab.


“Boleh kubuka?” tanya Alan sembari menyentuh jilbab Anna.


“Jangan! Ini di rumah sakit.”


Alan tersenyum. “Baiklah, aku hanya ingin menciummu.” Alan kembali mendaratkan ciuman di wajah dan bibir Anna. “Ini yang kulakukan ketika kamu tertidur di vila.”


Anna membelalak. Itu artinya kejadian di vila waktu itu bukan hanya sekedar mimpi. Alan telah mencuri keperawanan bibirnya. Pantas saja Anna merasakan seakan mimpi itu benar-benar nyata. Ia bahkan merasakan bibirnya basah.


Bulu halus di sekujur tubuh Anna meremang merasakan setiap sentuhan lembut bibir Alan.


***


TBC