
Sepasang sepatu memasuki lift, berdiri di sisi Anna. Dia menekan nomer 13. Aroma parfum asing menyengat di hidung Anna.
“Apa yang membuatmu datang ke kantor?”
Suara yang sangat familier di telinga Anna. Tanpa perlu menoleh, Anna sudah tahu siapa pria yang berdiri di sisinya. Alan.
“Apa lagi jika bukan untuk menemuimu.” Anna menatap Alan. Pria di sisinya itu benar-benar terlihat berbeda dari biasanya. Penampilannya berbeda, cara menyisir rambutnya juga berbeda, aroma parfum pun berbeda. Bahkan mulai dari pakaian, sepatu dan dasi pun berbeda. Jika dulu Alan lebih menyukai style dengan jas berpadu kemeja, sekarang dia terlihat mengenakan kemeja dengan rompi di luarnya. Jika dulu Alan selalu memakai dasi berwarna gelap, sekarang dia memakai dasi berwarna cerah. Alan jadi terlihat asing di mata Anna. Dia hampir tidak mengenal Alan jika tidak mendengar suara pria itu.
“Kamu bisa menleponku bukan? Tidak harus mendatangi kantor tanpa sepengetahuanku.”
“Apa kamu nggak menyukai kehadiranku di sini?”
Alan diam saja.
Pintu lift terbuka, tepatnya di lantai satu. Anna membiarkannya hingga pintu kembali tertutup dan lift pun kembali bergerak menuju ke lantai 13.
“Apa maksudmu pergi meninggalkan rumah tanpa alasan? Beberapa hari terakhir kamu nggak ulang ke rumah, aku sebagai istrimu bahkan nggak tahu kamu tidur di mana?” Anna menahan kesal yang menyumpal penuh damenghela nafas lam dadanya.
Alan menghela nafas. Dia berdiri menghadap Anna. Kemudian dengan suara datar dia berkata, “Aku bosan dengan kehidupanku sekarang. Aku ingin kehidupan baru.”
Anna tercekat mendengar jawaban Alan. Kedengaran sepele sekali. Bahkan Anna pun seakan dianggap sepele oleh Alan. “Baru beberapa tahun menikah, kamu sudah bilang bosan. Kehidupan seperti apa yang membuatmu menikmati? Apa dengan cara pergi dari rumah dan bermalam entah dimana lantas kamu merasa hepi? Apakah dengan cara meninggalkan anak dan istrimu lantas kebosananmu hilang? Ini artinya kamu beranggapan kalau anak dan istrimu membosankan.”
“Aku seperti nggak mengenalimu, Mas Alan. Dimana Mas Alan yang protektif dan posesif dulu? Dimana Mas Alan yang mengejar cintaku sejak aku remaja?” Anna geleng-geleng kepala dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak pernah mengekangmu, Anna. Kamu juga bebas melakukan apa pun. Kamu bebas bepergian atau melakukan apa saja sesuka hatimu tanpa mesti meminta persetujuanku. Sama seperti apa yang kulakukan sekarang. So, ini adil bukan?”
Anna hampir tidak bisa berkata-kata mendengar perkataan Alan. Beberapa detik dia menarik nafas untuk mengembalikan kekuatan. “Keterlaluan kamu, Mas Alan. Aku sungguh nggak menyangka kamu akn berubah secepat ini. memangnya kamu anggap aku ini apa? Kamu anggap rumah tangga kita ini apa? Sampai-sampai kamu membuat anggapan agar kita bersenang-senang sendiri-sendiri tanpa memikirkan pasangan. Bukan ini yang kuinginkan, Mas Alan. Ini sama aja kita berpisah. Kamu sadar nggak dengan apa yang kamu ucapkan barusan?”
“Anna, setauku wanita itu cenderung pada sesuatu yang realistis, termasuk harta dan kekayaan. Apa itu tidak cukup untukmu?” Alan menatap Anna dingin.
“Dangkal sekali pemikiranmu terhadapku. Kamu sungguh-sungguh berubah, Mas Alan. Aku sama sekali nggak mengenalimu. Bahkan isi pemikiranmu pun seratus delapan puluh derajat berubah. Setahuku, Mas Alan yang kukenal nggak memiliki pemikiran serendah itu terhadap Anna Salsabila.”
Pintu lift terbuka di lantai 13.
TBC
.
.
.