
Clarita dan Stefi tampak antusias menyambut kehadiran Anna, sebagai kakak ipar. Mereka bahkan berkali-kali menawarkan Anna agar manambah nasi. Mereka juga memaksa Alan menyuapi Anna di hadapan mereka sebagai bentuk rasa sayang Alan terhadap istrinya, dan Alan menuruti, menyuapi Anna. Terpaksa Anna membuka mulut ketika sendok berisi nasi sudah berada di depan mulutnya dan langsung disambut tepuk tangan riuh oleh Clarita dan Stefi.
Astaga, Anna benar-benar semakin grogi menjadi pusat perhatian keluarga Wiliam.
***
Anna berjalan mondar-mandir di depan Alan yang kini duduk di sisi ranjang.
“Duuh... Aku tadi malu-maluin nggak, sih?” Anna mengusap-usap telapak tangannya di depan wajahnya. Ia takut tampil tidak sempurna di mata keluarga Alan, setidaknya ia ingin Alan merasa senang. “Tapi tadi mereka semua keliatan seneng kok sama aku. Itu artinya aku keliatan baik di mata mereka, iya kan?”
Merasa tidak direspon, Anna berhenti mondar-mandir dan menoleh ke arah Alan yang kini tampak terpaku menopang dagu dengan tatapan mengarah ke ponsel yang dipegangi dengan satu tangan. Sementara jempol tangannya menggeser-geser layar ponsel.
“Mas Alan!” Anna duduk di samping Alan, menggenjot spring bed dan tubuh Alan terayun sebentar.
“Hm?” Alan menoleh.
“Dari tadi kok nggak ngerespon aku?”
“Aku pusing.” Alan memegangi pelipis.
“Keluargamu yang rame tadi masih ada di bawah, ya?”
“Mereka udah pulang, kok. Makasih Anna, kamu udah perduli dengan keluargaku. Itu artinya kamu perduli denganku.”
Alan tersenyum kaku dengan kening mengerut kuat. Anna menatap aneh pada senyuman itu, senyuman yang dibalut kesedihan. Senyuman terpaksa, kelihatan rancu dan buruk sekali.
“Kamu kenapa?” tanya Anna seraya meneliti wajah di hadapannya. “Apa aku ada salah?”
Alan menggeleng. Biasanya Alan akan tersenyum setiap kali mengangguk dan menggelengkan kepala ketika menjawab pertanyaan Anna, tapi kali ini gerakan itu tidak diiringi dengan senyuman. Anna turut bersedih melihat itu. Kenapa dengan perasaan Anna? Kenapa ia harus ikut bersedih ketika melihat Alan bersedih?
“Mas Alan, ada apa, sih?” Anna mengelus lengan Alan.
Alan menghela napas berat. Ia benar benar terlihat frustasi. Tidak pernah sebelumnya Anna melihat ekspresi Alan sesedih itu.
“Aku nggak pa-pa.” Alan meletakkan ponsel ke spring bed dan berjalan memasuki kamar kecil untuk menghindari banyak pertanyaan dari Anna.
Kenapa Alan mendadak frustasi? Anna kebingungan sendiri. Sejak tadi Alan baik-baik saja. Lalu kenapa tiba-tiba berubah sedih begitu? Gara-gara didera rasa penasaran tinggi, Anna meraih ponsel Alan. Mungkin saja ia akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu melalui ponsel Alan. Untung saja ponsel Alan belum terkunci kembali. Layarnya masih menyala hingga Anna dengan mudah membukanya, dan langsung tampak puluhan chat di aplikasi WhatsApp, tak lain chat antara Alan dan Cintya yang saling balas. Tepat Hari ini pukul 07.00 pm, tak lain tanggal 02 April. Itu artinya Alan bersedih setelah melihat chat dari Cintya.
Anna menggulir pesan ke bawah demi mendapatkan jawaban yang sejak tadi menyerang. Belum sempat membaca teks, terdengar suara pintu terbuka di belakangnya. Anna buru-buru meletakkan ponsel ke tempat semula dan menoleh pada Alan yang baru saja keluar dari kamar kecil. Muka Alan masih sama seperti tadi, kusut dan terlihat sangat frsutasi.
Alan meraih ponsel dan mengantonginya ke saku kemeja. Terdengar suara napas berat yang lepas dari mulut Alan.
TBC