Holy Marriage

Holy Marriage
Rasa Cinta Masih Sama



Tidak ada jawaban dari Alan, pria itu diam saja.


“Mas Alan, katakan satu hal saja supaya aku bisa memahamimu, supaya aku bisa mengerti dengan perubahanmu. Jika hanya sebatas bosan, aku masih belum bisa menerimanya. Apa ada wanita lain?” lirih Anna. Dia terus menempelkan pipinya ke dada bisang Alan, dia merasakan irama detakan jantung Alan yang begitu cepat.


“Jika memang ada wanita lain, lantas kenapa? Bukankah pria dibolehkan menikah lebih dari satu kali?”


Pertanyaan itu membuat hati Anna mencelos, sakit sekali. Tapi kali ini Anna tidak sedang ingin menganiaya Alan dengan tonjokan atau tendangan kecil. Entah kenapa, meski hatinya sakit atas pernyataan Alan, tapi dia merasa sangat nyaman di dalam pelukan suaminya, sehingga dia lebih memilih berdamai.


“Adil adalah salah satu syarat untuk memperistri banyak wanita. Apa kamu yakin akan bisa adil? Kamu mesti ingat satu hal, bahwa yang bisa adil hanyalah Tuhan yang Maha Kuasa. Apa pun ceritanya, manusia nggak akan pernah bisa berlaku adil. Bahkan hukum yang disebut dnegan pengadilan saja tetap belum bisa adil seperti keadilan milik Tuhan, apa lagi kamu yang hanya manusia. Apa kamu pikir memiliki banyak istri itu mudah? Pertanggung jawabanmu bahkan jauh lebih besar nantinya. Jujur saja, aku kecewa sekali dengan pertanyaanmu ini, seakan-akan kamu benar-benar ingin mencari wanita lain karena bosan denganku.”


Alan memejamkan matanya. Dia sedih sekali mendengar pengakuan Anna. Tanpa sadar, dia mempererat pelukannya.


“Jangan sedih, sayang. Ini hal wajar dilakukan para lelaki. Itu yang sering kudengar di kalangan teman-teman sepekerjaku. Mereka memiliki banyak uang, mereka bisa membeli apa saja, kehidupan mereka bebas karena sering mengaku beerja ke luar kota padahal sedang bersama dnegan istri yang lain. Mayoritas teman-temanku memilki istri lebih dari satu.”


“Dan kamu ingin mencobanya?”


“Aku tidak katakan begitu. Aku hanya bertanya saja.”


“Tapi itu melukaiku, seakan-akan kamu memiliki niat untuk memperistri wanita lain setelah kamu bilang bosan dengan kehidupanmu sekarang.” Anna masih saja memaku di tempat, bahkan ia membalas pelukan Alan.


Ya Tuhan, kenapa perasaan cintanya terhadap Alan masih utuh meski disakiti begini? Jangan biarkan dia menjadi melo dan lemah.


“Aku tidak mengajak siapa-siapa, aku tidak pergi ke sana, wakilku saja yang pergi ke sana.”


Anna menarik sudut bibir, mengulas senyum. “Jadi kamu membatalkannya?”


“Ya.”


Anna menggerakkan tubuh hendak melepaskan pelukan karena kakinya yang menggantung di udara sudah mulai pegal, namun kedua lengan kokoh Alan yang melingkar di tubuh Anna justru mempererat pelukannya itu. “Jangan pergi, Anna. Kamu mau kan begini sampai pagi?”


Entah bagaimana Alan bisa bicara begitu? Meski dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuat dirinya menjadi kejam di mata Anna, namun hati kecilnya tidak bisa dibohongi. Dia tidak tega menyakiti Anna. Bahkan kini, Alan memeluk Anna dengan perasaan membuncah. Dia tidak tahu, apakah suatu saat nanti dia masih akan bisa memeluk Anna seperti ini lagi atau tidak.


Anna akhirnya menuruti permintaan Alan, dia membiarkan tubuhnya berada di dalam pelukan suaminya meski kakinya sudah semakin pegal, pahanya kesemutan karena posisinya kini benar-benar tidak menguntungkan. Separuh tubuhnya berada dalam pelukan Alan yang terbaring, sementara separuh bagian bawah tubuhnya yang menjuntai ke bawah itu terayun begitu saja.


Anna mempertahankan posisinya demi memberi waktu kepada Alan untuk bisa tertidur pulas, sampai akhirnya dia mendengar suara keras nafas Alan yang beraturan, dan dia menyadari kalau suaminya itu sudah pulas. Anna pun mengubah posisi tidurnya, dia naik ke atas ranjang dan menyusup masuk ke selimut dan berbaring di sisi Alan, lalu melingkarkan lengan pria itu ke tubuhnya seperti posisi semula.


Mata Anna terpejam.


***


TBC