
Anna memberikan tisu dan Joli mengusap pipinya dengan tisu yang diberikan. Satu hal yang teringat dalam benak Anna, selain habluminallah, ada yang namanya habluminanas, hubungan sesama manusia. Memuliakan orang baik itu biasa, tapi memuliakan orang yang jahat itu luar biasa. Dan Anna akan menjadi manusia yang mulia dengan memuliakan orang yang sudah berbuat jahat padanya. Anna ingin mencapai kemuliaan itu dengan cara yang mulia.
“Apa lo masih mau jadi temen gue?” lirih Joli tanpa menatap mata Anna, ia fokus mengelap-elap ujung hidungnya hingga memerah.
Anna mengerti Joli sungkan untuk menangkap matanya. Joli yang dulu, bukan Joli yang sekarang. Sudah banyak yang Joli lakukan hingga membuat Joli merasa tidak pantas bersenda gurau seperti dulu, seperti suasana yang Anna rindukan.
“Kenapa enggak? Gue tetep temen lo, kok,” jawab Anna meyakinkan.
Joli terharu sampai akhirnya air matanya kembali menetes sambil tersenyum. Anna bangga bisa menjadi penenang Joli di saat Joli merasa sedang terancam.
“Anna, maaf soal Rafa.” Joli menunduk. Sesekali tangannya menyangkutkan rambut yang menutup muka ke belakang kuping. “Gue juga nggak tau kenapa gue bisa suka sama dia. Yang jelas, setiap kali gue deketan sama Rafa, rasanya semua badan gue denyut-denyut. Gue beneran suka sama dia. Apa lagi, Rafa selalu bales ngegodain gue setiap kali gue ngegodain dia dan bilang kalau gue ini cantik. Lama kelamaan gue sadar, kalau Rafa juga suka sama gue. Sampai akhirnya gue beraniin ngechat dia manggil sayang, dia pun bales, kok. Tapi akhir-akhir ini Rafa berubah, dia dingin dan cuek sama gue. Rafa memang nggak pernah nyatain cinta ke gue, tapi sikapnya yang selalu mesr, gue anggep udah ngejadiin gue pacar. Bahkan Rafa juga udah perlakukan gue selayaknya pacar, buktinya lo juga ngeliat sendiri kan waktu itu?” Joli kembali menunduk saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
Sekilas ingatan Anna terbayang pada kejadian siang bolong sewaktu Joli dan Rafa sedang berbuat mesum. Yang dimaksud Joli pasti kejadian terlarang itu, dan Joli sulit mengutarakan ceritanya dengan gamblang. Anna tersenyum saja menanggapinya. Tidak ada reaksi apapun yang ia rasakan saat mengingat semua itu. Masa lalu sudah berlalu tanpa bekas berkat Alan, dan Alan membuat situasinya yang sekarang menjadi lebih indah dari masa sebelumnya.
“Sekarang Rafa kayak menjauh dari gue,” lanjut Joli. “Ketika ditanya soal kejelasan hubungan, Rafa selalu mengelak. Apa itu artinya Rafa hanya mempermainkan gue? Apa dia Cuma mau seneng-seneng doang sama gue?”
“Ehm...”
Serentak Anna dan Joli menoleh ke sumber suara batuk yang dibuat-buat. Rafa sudah berdiri di dekat Anna, satu tangannya memegangi tali ransel yang menggayut di sebelah bahu.
“Anna, bisa kita bicara?” Rafa menaikkan satu alis. Sedikitpun ia tidak mau menatap Joli.
Anna menghela napas dan sekilas melirik Joli. “Sori, Raf. Nggak bisa. Lebih baik lo bicaranya sama Joli, bukan sama gue.” Anna bangkit berdiri dan melenggang, namun Rafa memasang badan berdiri di hadapan Anna hingga langkah kaki Anna terhadang.
“Anna, hei, kenapa dingin gitu, sih? Helooow...!” Rafa melambaikan tangan ke depan muka Anna, membuat Anna memelototkan mata sebel. Emangnya dia pesawat lewat, sampai harus dilambai-lambai begitu?
TBC.