Holy Marriage

Holy Marriage
Sosok Penyayang



Tok tok…..


Anna tersenyum mendengar suara ketuk pintu. Mungkinkah Alan kembali lagi? Ah, kenapa Anna gembira jika Alan membatalkan pertemuan dengan Cintya?


“Boleh masuk?” tanya Stefi yang kepalanya sudah menyembul masuk lewat pintu yang ia buka.


Anna mengangguk tersenyum, meski sesungguhnya hatinya kecewa. Bukan Alan yang datang, tapi Stefi. Mustahil Alan masuk kamar mesti ketuk pintu dulu.


Stefi memasuki kamar, ia tidak sendirian. Clarita menyusul di belakangnya. Keduanya tampak cerah bersahaja.


“Hai, Kak Anna!” Clarita langsung duduk di sisi Anna.


“Hai!” jawab Anna.


“Loh, Kak Alan mana?” Stefi memutar kepala mencari-cari keberadaan Alan.


“Mm… Mungkin lagi nyari angin di belakang rumah, atau di ruang kerjanya, atau entahlah. Katanya tadi mau minum susu gitu ke bawah,” jawab Anna. Terpaksa ngibul.


“Padahal kami ke sini mau ngobrol sama Kak Anna juga Kak Alan,” ucap Clarita. “Ngobrol bareng pengantin baru pasti seru, dong.”


“Anna, eh Kak Anna, lidahku rasanya jadi rada kaku manggil kamu Kak, kita kan seumuran. Kita juga kuliah di kampus yang sama,” ujar Stefi sambil tertawa girang. Ia bahagia sekali bisa mengobrol dengan Kakak Ipar. “Gimana rasanya punya keluarga baru?”


“Bahagia. Karena keluarga baruku menyambutku dengan sangat hangat. Semoga semuanya nggak akan berubah.”


“Yess, pasti, dong. O ya, kamu jangan heran sama Kak Alan ya, dia tuh orangnya cool banget. Kayak es balok. Jadi jangan kaget kalo dia suka nggak nanggepin apa yang kita omongin, tapi sebenernya dia nyimak, kok.”


“Justru Kak Alan itulah sosok Kakak yang perhatian.” Clarita menyahut. “Dia lebih milih keluarga dari pada harta. Disaat dia lagi ada urusan penting soal kerjaan, disisi lain aku masuk rumah sakit, dia rela ninggalin kerjaan demi ngeliatin kondisiku. Padahal udah ada Stefi dan Mama yang ngejagain aku. Tapi Kak Alan bersikukuh ngejenguk aku demi mastiin kalo aku nggak pa-pa. Katanya uang bisa dicari, tapi kalo keluarga nggak ada duanya. Duuh aku terharu kalo inget itu.”


“Liat deh itu!” Stefi menunjuk brankas di sudut kamar. “Itu berisi barang-barang berharga milik Kak Alan. Nggak Cuma dokumen penting aja yang disimpen di sana. Sertifikat tanah, surat-surat berharga dan bahkan foto masa SMA-nya juga disimpen di sana. Termasuk foto masa kecilku dan Clarita ada di sana. Berarti berharga banget kami di matanya.”


Anna terpaku mendengarnya. Benarkah Alan seperhatian itu? Tapi kenapa Alan yang ia kenal tidak seperti yang Clarita dan Stefi ceritakan? Alan menikah atas alasan materi. Demi harta, Alan rela mengorbankan kekasihnya, bahkan berencana menikah siri dengan Cintya asalkan harta dan jabatan ada dalam genggamannya. Jika Alan adalah lelaki yang mengutamakan kasih sayang, seharusnya Alan menolak perjodohan dan memilih Cintya demi alasan kasih sayang. Soal akhlak Cintya, tentu bisa dibentuk seiring berjalannya waktu. Tapi kenapa Alan malah memilih perjodohan yang dipenuhi dengan kepura-puraan ini hanya atas alasan tidak mau miskin?


Stefi dan Clarita tidak henti-hentinya menceritakan betapa Alan adalah sosok Kakak sulung yang mengutamakan kasih sayang. Dan Anna menanggapi dengan senyum.


***


TBC