
“O ya, tidak lama lagi Kakakmu menyusulmu. Dia akan menikah dengan Colin. Doakan semuanya lancar, ya!”
“Tentu, Yah.”
“Yah, itu Anna, ya? Sini Angel mau ngomong!” Terdengar suara Angel di dekat Herlambang. Kemudian suara di seberang berganti menjadi suara Angel.
“Halo, adik paling cantik! Kakak kangen!”
“Sama, jelek!”
“Diih… Tega ngatain Kakak jelek.”
Anna tertawa renyah.
“Kayaknya mulai sekarang Kakak mesti banyak-banyak nanya mbah google dan baca buku gimana supaya bisa jadi istri yang baik. Kakak deg-degan plus cemas saat menjelang pernikahan gini. Deg-degan menyambut hari bahagia, cemas karena takut jadi manusia durhaka sama suami.”
Anna termenung sesaat, sebegitu besar keinginan Kakaknya untuk menjadi istri yang baik. Sementara dirinya?
Angel menyudahi perbincangan dan Anna meletakkan ponselnya ke ranjang. Sekarang yang ia lakukan hanya duduk di dekat pintu kaca lantai balkon. Jadi jika ia menoleh ke kanan, akan langsung bisa menangkap pemandangan di lantai halaman bawah sana yang diterangi lampu taman. Angin malam membelai ujung jilbabnya melalui pintu kaca yang sedikit terbuka.
Kepala Anna melongok melihat sekelebat bayangan di bawah, terlihat melintasi pintu gerbang dan memasuki halaman rumah. Sorot mata Anna terus mengawasi mobil itu dengan seksama, Anna kini yakin bahwa yang ia lihat adalah mobil Alan. Seketika itu juga, Anna menghambur meninggalkan kamar menuju ke halaman.
Saat Anna sudah melintasi pintu depan, dan kini sudah berdiri di teras, Alan terlihat berjalan meninggalkan mobil yang diparkirkan di depan rumah menuju ke arah pintu, dimana Anna kini sedang berdiri. Anna tersenyum melihat Alan yang terlihat sangat rapi mengenakan jas hitam.
“Mas Alan!” panggil Anna.
Tidak ada jawaban, Alan sepertinya sedang kebanyakan pikiran. Terbukti wajahn pria itu terlihat kusut dengan dahi berkerut hingga panggilan Anna yang sekeras itu tidak terdengar.
Alan menyerahkan koper kepada Anna dan langsung menjawab telepon sesaat setelah ponselnya berdering hingga Anna yang sudah membuka mulut pun tidak jadi bicara. Padahal Anna sedang ingin mengutarakan banyak hal pada Alan, tentang perasaannya, tentang hatinya, tentang semua yang ia rasakan, tapi Alan malah sibuk sendiri. Meski begitu, Anna tidak bisa protes. Resiko menjadi istri seorang CEO yang ownernya adalah Papanya sendiri.
Anna mengikuti Alan yang berjalan ke ruang makan. Lelaki itu tampak kerepotan mengambil piring yang menelungkup di meja akibat hanya bekerja dengan satu tangan, karena tangan kirinya memegang ponsel yang menempel di pipi. Masih sambil bicara soal pekerjaan, Alan menyiduk nasi ke piringnya. Akibat gerakan tangannya yang sulit, sebagian nasi berceceran ke meja.
TBC