
Alan meletakkan gelas ke atas meja. Kondisinya sudah semakin membaik. Ini adalah hari keempat ia dirawat di rumah sakit. Ia sendirian saja karena Anna sedang pulang ke rumah William untuk menjemput beberapa dokumen yang Alan pinta untuk dibawa ke rumah sakit.
Alan mendongak saat melihat sosok wanita memasuki ruangan. “Cepet banget, sayang?”
Alan terkejut melihat gadis yang ia kira Anna, ternyata adalah Cintya. Gadis itu kini berdiri di hadapannya. Keduanya bersitatap untuk beberapa saat lamanya. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
“Alan!” Cintya akhinya memilih memulai. Ia berjalan mendekati Alan hingga jarak keduanya begitu dekat.
“Terima kasih kamu udah bersedia menjengukku.”
“Lebih dari itu. Kedatanganku kesini untuk membicarakan banyak hal, tentang kita.”
Alan mulai tidak nyaman, tatapan gadis itu terlihat sangat menuntut, terluka dan penuh dengan kesedihan. Alan sadar dialah biang dari kesedihan yang Cintya tanggung. Dia telah membuat Cintya bertahan dalam hubungan yang tak pasti selama bertahun-tahun lamanya dan berakhir dengan kata putus. Ingin rasanya Alan mengusir Cintya, namun rasa kemanusiaan membuatnya hanya diam. Sungguh keji jika ia melukai gadis itu untuk kesekian kalinya, biarlah ia mengalah untuk mendengarkan keluh kesah gadis itu setelah beberapa hari yang lalu ia menggoreskan luka di hati Cintya dengan memutuskannya.
“Alan, percayalah padaku, sumber berita yang mengatakan kalau kamu dan aku ada hubungan di media bukanlah aku.”
“Kamu bicara begini bukan karena udah tidur dengan Anna, bukan? Kamu ninggalin aku bukan karena perasaanmu udah berubah ke dia, kan?” Mata Cintya sudah berair.
“Cintya, Semuanya telah berubah.”
“Andai saja kamu nggak mencintai Anna, alasan ini nggak akan menjadi penghalang hubungan kita. Aku yakin kamu akan tetap mempertahankanku. Kamu yang selalu membujukku untuk tetap bertahan dan bersabar menunggumu, kamu yang minta aku untuk tetap menemanimu, kamu yang bilang akan menikahiku saat aku bosan menunggumu terlalu lama. Dan sekarang, begitu mudahnya kamu hancurkan impianku.”
“Keadaan telah mengubah segalanya. Aku nggak bermaksud menghancurkan impianmu, tapi perilakumu membuatku semakin ingin menjauhimu. Kau berikan sesuatu dalam minumanku hingga akhirnya aku merasa menginginkanmu. Kau ingin hidup denganku dengan cara serendah itu.”
Alan ingat, ia sempat meminum segelas kopi yang disediakan untuknya saat terakhir kali ia datang ke rumah Cintya. Mendadak tubuhnya terasa panas dan sangat menginginkan pelepasan. Alan tidak kuasa menahannya hingga tanpa sadar ia sudah berada di kamar dan melakukan perbuatan terkutuk, untung saja ia sempat sadar dan melepaskan Cintya sebelum semuanya berujung fatal. Dering ponsel menyadarkannya dan menghentikan kegiatannya.
“Aku sama sekali nggak menaruh apapun di minumanmu, Alan. Aku bahkan nggak menyuruh pembantu untuk menyediakan minuman itu untukmu. Pembantuku berinisiatif memberikan minuman itu tanpa kuperintah, bukankah kau udah tau persis dengan pembantuku itu? Dia gercep dan sangat mengerti dengan pekerjaannya, dia menyediakan minuman untuk tamu tanpa diperintah. Itu yang dia lakukan setiap kali kamu datang ke rumahku bukan? Aku bahkan ada di hadapanmu sejak kedatanganmu sampai kau pergi, lalu kapan aku menaruh sesuatu di dalam minumanmu?”
Tbc