
“Mama pergi dulu, sayang. Yang pinter di rumah, ya!” Anna mengelus kupluk yang dikenakan di kepala Azzam.
Alan melakukan hal yang sama, pria itu mengecup kening dan pipi si kecil kemudian kembali merangkul istrinya berjalan menuju ke depan.
“Aku biar sama Andra aja ke kampusnya. Ini kan udah agak siang, nanti kamu telat ke kantor kalau harus nganterin aku dulu,” ucap Anna.
“Aku yang mengantarmu, Anna. Andra hanya diperlukan ketika aku nggak ada di rumah.” Alan membukakan pintu mobil yang sudah bertengger di depan rumah.
Anna mengangguk dan masuk ke mobil.
“Ingat, nanti di kampus kamu pakai lift aja kalau mau naik atau turun. Jangan ngelewatin tangga. Kamu bisa kecapekan.”
Anna mnegangguk lagi.
“Jangan beli makanan di kantin, nggak sehat, dan belum tentu higienis. Nanti kalau Andra nganterin makanan ke kampus, kamu harus habisin.”
“Aku bukan anak kecil, Mas Alan.”
“Iya, tapi kamu itu istriku. Jangan ngebantah.”
Lagi-lagi, Anna mengangguk. Setelah semua yang dilalui, Anna kini mengerti betapa Alan sangat menyayanginya. Pria itu rela mengantarnya ke kampus terlebih dahulu sebelum ke kantor. Dari hal sesepele itu, jelas terlihat Alan sangat memperdulikannya.
Mobil berhenti tepat di depan gedung kampus. Anna mencium punggung tangan Alan dan mengucapkan salam.
“Tunggu!” Alan menarik lengan Anna ketika Anna hendak turun.
“Ya? Kenapa?” Anna menoleh.
“Ada yang ketinggalan.”
“Apa?”
Alan maju dan mencium bibir Anna. “Jangan tinggalkan kebiasaan kita.”
Anna memaku di tempat. Sejak kapan ciuman menjadi kebiasaan mereka?
“Aku turun.”
“Kamu juga, jaga diri.”
Alan tersenyum.
“Belajar yang baik biar cepet wisuda. Bentar lagi kuliahmu selesai. Jangan genit sama senior, junior, seangkatan apalagi sama dosen.”
Dasar Alan, kumat edannya. Pesannya selalu berisi hal-hal berbau posesif. Anna tidak mau menanggapi. Ia balik badan lalu turun, melambaikan tangan pada Alan. Langkahnya gontai menuju ke lantai atas. Masih ada lima belas menit sebelum kelas dimulai, Anna memilih duduk santai di atap gedung sambil membaca buku. Sepoi-sepoi angin membelai jilbab dan pakaiannya yang panjang.
Anna mengangkat wajah saat menyadari ada yang duduk di sisinya.
“Joli?” Anna tersenyum.
“Boleh gabung?”
“Sejak kapan mesti nanya gitu Cuma buat duduk bareng?” Anna menggeser duduk memberi tempat pada Joli.
Joli menghempaskan tubuh di sisi Anna.
“Gimana hubungan lo sama Rafa?” Anna mengusir sunyi. Manik matanya melirik ke wajah Joli.
“Ya gitu, deh.” Joli malas membahas Rafa. “Antara iya dan enggak.”
“Sabar aja.” Anna mengerti maksud dari sikap Joli, bahwa Rafa tidak mencintai Joli. Tapi pria itu masih mau jalan bareng Joli. Begitulah pria yang hanya ingin mengambil manfaatnya saja.
Joli tersenyum tipis lalu memalingkan pandangan ke bawah.
***
Alan berhenti mengetik tuts-tuts keyboard laptopnya. Entah kenapa kepalanya terus-terusan memikirkan Anna. Bukan hal baru, karena bukan dari sekarang saja Alan mencintai Anna, sudah sejak lama ia mendambakan sosok Anna, wajar ia bersikap demikian saat sudah memiliki Anna seutuhnya. Pesona Anna seperti membuatnya mabuk kepayang, ia tak pernah jemu pada apa saja dalam diri Anna.
Alan meraih ponsel dan melakukan video call, Anna tidak menjawab. Alan melirik jam di pergelangan tangan. Ia menduga Anna masih ada kelas. Sudah tidak sabar ingin segera melihat kecantikan istrinya. Alan sudah memerintah Anna supaya mengenakan cadar, namun Anna menolak dengan alasan akan kesulitan saat makan di tempat umum. Dia juga belum yakin bisa istiqomah.
TBC