Holy Marriage

Holy Marriage
Demi Alan



“Alan cuma mau ngecek mobil bentar.” Alan terpaksa berbohong. Ia berjalan ke teras dan tidak melakukan apapun. Hanya berdiri sebentar menatap arloji kemudian kembali masuk lagi, naik ke lantai atas sambil berpikir bagaimana caranya bisa keluar rumah tanpa harus ketahuan Papanya. Mentoknya, Alan balik lagi ke kamar dan mendapati Anna yang sedang menukar pakaian dengan baju tidur. Untuk sesaat Alan menikmati pemandangan di depan matanya.


“Kamu balik lagi?” Anna merapikan baju tidurnya dan berjalan mendekati Alan.


Belum sempat menjawab, terdengar suara ketuk pintu dari luar dan Anna langsung membuka pintu kamar. Ternyata Rina yang mengantar susu untuk Anna.


“Tarok aja di meja sana, Rin!” titah Anna.


Rina menuruti, masuk ke kamar dan meletakkan segelas susu di tempat yang ditunjuk. Kemudian ia membereskan meja yang berserakan.


“Aku nggak bisa keluar rumah selama Papa memperhatikanku. Papa ada di ruang utama dan dia mempertanyakan kepergianku tanpamu,” ucap Alan.


“Bilang aja ada kerjaan,” jawab Anna sekenanya.


“Selama beberapa bulan kedepan aku dibebaskan dari pekerjaan. Artinya aku nganggur, semua ini Papa lakukan supaya aku bisa menghabiskan waktu bersamamu.”


“Padahal kamu harus ketemu Cintya malam ini, kan? Yang namanya cewek, gampang ngambek kalau cowoknya ingkar janji. Kamu mesti nemuin dia tepat waktu.” Anna tidak ingin Alan semakin bersedih jika malam ini pertemuannya dengan gadis yang sangat dicintainya itu batal. “Aku akan bantuin kamu mengalihkan perhatian Papa. Kamu lewat pintu belakang aja.”


“Mobilnya ada di garasi, mana mungkin aku pergi tanpa mobil.” Alan tampak bingung karena letak garasi ada di depan rumah, dan ia tidak bisa menjangkau mobil jika harus keluar lewat pintu belakang.


“Biar aku yang kasih kunci mobil ke supir dan suruh dia yang ngeluarin mobilmu.”


“Kenapa kamu nggak siapin satu rumah aja buat kita? Pasti di sana kamu akan bebas ngelakuin apapun, tanpa harus dimata-matain Papamu gini,” ucap Anna. Menurut Anna, untuk membeli rumah, tentu bukan hal sulit bagi Alan. Suaminya itu memiliki banyak harta.


“Papa memintaku untuk tinggal di rumah ini sampai beberapa bulan ke depan supaya keluargaku bisa mengenalmu lebih dekat.”


Anna mengangguk memahami. Alan benar-benar penurut. Apa saja yang diperintahkan Papanya, selalu dipatuhi.


Anna dan Alan berjalan keluar kamar. Seperti yang direncanakan, Alan menuju belakang rumah dan melewati kolam renang, keluar dari pagar belakang dan menunggu di luar pagar.


Sementara Anna memerintah supir seperti yang ia rencanakan. Disaat supir melaksanakan perintah, menyetir mobil keluar garasi, Anna mendekati kedua mertuanya dan bertegur sapa sebentar mengecohkan perhatian mereka supaya tidak mendengar suara deru mesin mobil melintasi depan rumah. Untung saja suara mesin mobil Alan halus, sehingga tidak terdengar sampai ke dalam rumah. Setelah itu Anna kembali ke atas.


Begitu memasuki kamar dan tidak mendapati Alan, rasanya ada yang berbeda. Seperti ada yang lolos dari hatinya. Terlalu sulit bagi Anna mengartikan apa yang ia rasakan. Ada cemas, sedih, tapi juga ada sepercik kegembiraan. Dan mendadak saja ia berpikiran cabul, ia mengijinkan suaminya pergi menemui perempuan lain. Tujuan pertemuan mereka adalah untuk berpacaran. Apa yang akan mereka lakukan? Ini sama saja ia memberikan peluang pada suami untuk bermesraan dengan gadis lain.


Tidak. Yang ia rasakan itu tidak benar. Seharusnya ia membiarkan Alan memilih kebahagiaan, bukan malah cemas ketika Alan berduaan dengan perempuan lain. Bukankah ia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Alan? Bukankah ia yang membantu keberhasilan Alan menemui Cintya? Lalu kenapa ia harus tidak rela?


Seandainya saja Alan menikahi Cintya secepatnya, tentu Anna tidak akan dililit dosa karena membiarkan suaminya berzina dengan perempuan lain. Tapi sulit bagi Anna menjelaskan perasaannya sendiri, ada sisi lain yang tidak rela jika Alan menikah dengan perempuan lain.


***


TBC