
“Pa, udahlah, percayakan sama Alan. Dia pasti bisa jagain Anna,” sahut Laura berusaha memberi kesempatan pada putra sulungnya.
Mendengar nada bicara istrinya yang meyakinkan, Wiliam akhirnya mengangguk. Jika bukan istrinya yang bicara, tentu ia tidak akan membiarkan Alan menjaga Anna sendirian. William meminta agar tidak ada yang memberitahukan kejadian itu pada Herlambang supaya Herlambang tidak cemas.
Semuanya sepakat.
Wiliam, Laura dan Stefi pergi setelah setengah jam mereka berbincang di sana.
Alan menarik kursi dan mendekatkannya ke ranjang lalu duduk di sana. Tangannya menyentuh dagu Anna membuat wajah Anna menghadap ke arahnya.
“Anna, aku mencintaimu.” Alan mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Anna, namun sedetik saja karena Anna menolak dada Alan.
“Jangan mesum, ini di rumah sakit.” Mata Anna melebar.
Alan tersenyum dan kembali ke posisi semula. Sengaja ia lakukan hal tadi karena menurut rumus cinta, perempuan akan hilang ngambeknya jika diberi sentuhan cinta seperti yang Alan lakukan tadi. Bahkan perempuan juga cepat luruh amarahnya kalau dicium. Itu sebabnya Alan berniat hendak meraup bibir Anna.
Delapan puluh persen dunia rumah tangga membuktikan, pertengkaran suami istri akan kelar ketika penyelesaiannya berujung di ranjang. Dan itu sudah sering Alan lakukan ketika Anna merajuk kecil-kecilan di saat ada masalah-masalah ringan. Artinya survei tidak salah.
“Masih marah?” tanya Alan.
“Aku nggak marah, cuma kesel.”
“Jangan kelamaan dong keselnya. Kasian calon anak kita. Dia akan ngerasain apa yang kamu rasakan.”
Anna tidak lagi menjawab.
Alan membuka selimut dan menurunkannya sampai ke paha Anna, lalu menempelkan pipinya ke permukaan perut istrinya. Meski terhalang lapisan pakaian, namun Alan dapat merasakan detakan jantung Anna yang mengalir melalui kulit. “Tong, jadi anak yang soleh, ya. Papa menyayangimu, juga menyayangi Mamamu.” Alan mengelus-elus permukaan perut Anna.
“Kok, tong?”
“Entong,” sahut Alan.
Alan tersenyum tanpa berkomentar.
Anna membiarkan suaminya mengelus perutnya sambil bicara banyak hal. Janin di rahimnya pasti mengerti bahasa kasih sayang yang orang tua berikan melalui kata-kata. Dan Anna ingin calon bayinya mengenal Papanya.
“Anna, maafin aku.” Alan kemudian menatap mata Anna. “Aku terlalu egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Terlalu menuntut untuk dihargai tanpa bisa memikirkanmu, bahkan dalam kondisi darurat pun aku nggak bisa mengerti. Tapi sesungguhnya aku begini karena ingin memonopoli dirimu.”
Hati Anna tersentuh mendengar kata-kata itu. Akhirnya suaminya menyadari kesalahannya. Ternyata butuh waktu, kesabaran dan ujian untuk bisa menjadi lebih baik, untuk bisa melunturkan keegoan dan kerasnya hati.
Anna mengangguk menatap mata Alan yang teduh. Salah satu yang membuat orang lain menghargai adalah karena Allah masih menutupi aib dan kekurangan manusia, tidak perlu ia mencari-cari kesalahan dan kekurangan Alan yang dirinya sendiri belum tentu lebih baik. Inilah saatnya saling koreksi diri, memperbaiki diri demi menuju keikhlasan.
Ketika Allah memaafkan dan mengampuni dosa-dosa besar yang hamba-Nya lakukan, kenapa Anna tidak bisa memaafkan Alan? Ia tidak lebih dari manusia biasa, yang berkewajiban memaafkan orang lain, apalagi ini suaminya yang terlihat tulus meminta maaf. Sudah sewajarnya ia memberi kesempatan pada suaminya.
“Kamu ingin kita memulai lembaran baru bukan? Kau ingin kita hidup dalam rumah tangga yang sesungguhnya bukan? Aku akan wujudkan itu.” Alan mengelus pucuk kepala Anna. “Seharusnya aku yang membimbingmu. Imamlah yang tau kemana arah rumah tangganya dibawa. Karena pada hakikatnya, suami istri itu seperti tubuh dan bayangannya, dan aku harus melangkah ke arah yang benar karena bayangan selalu mengikuti langkahku.”
“Baru kali ini aku denger kata-kata bijak itu dari bibirmu.”
“Collin yang ajarin.”
“Dia kakak ipar yang baik.”
Alan membantu Anna ketika istrinya itu hendak bangkit dan duduk.
Anna bersyukur, akhirnya permasalahan yang timbul memberikan banyak pelajaran untuk mereka, mendewasakan mereka, mematangkan pikiran mereka, dan menjadikan mereka semakin mengerti bagaimana caranya mengambil sikap dalam menghadapi masalah. Ia juga bersyukur akhirnya Alan menunjukkan perhatian dan keperdulian terhadapnya. Semoga saja itu bukanlah hanya sekedar rasa tanggung jawab semata, tapi juga atas alasan cinta.
Yang jelas, saat ini Alan menghormati Anna lebih dari kata wanita.
***