
Ya, Alan tidak ingin Anna merasa repot, atau bahkan merasa capek. Alan hanya akan membolehkan Anna olah raga ringan, senam atau jalan pagi. Sudah, itu saja.
Begitu banyak peraturan yang Alan terapkan untuk Anna. Semuanya supaya Anna tidak kelelahan. Rasanya berlebihan, tapi tidak bagi Alan. Dia ingin yang terbaik untuk perempuan yang sudah sejak remaja, dia idamkan. Sudah terlalu banyak air mata yang Anna habiskan untuk ujian yang baru saja berlalu. Alan ingin menebus kesalahannya yang selama ini tidak bisa menjaga istrinya hingga akhirnya masalah demi masalah membuat istri kecilnya tertekan.
“Jangan kebanyakan makan sambel! Sayurnya dilebihin kalau makan! Jangan cepet-cepet kalau jalan. Jangan suka mikir yang macem-macem. Selesai shalat isya langsung tidur aja kalau nggak ngaji! Perbanyak sujud biar posisi bayinya sempurna! Jangan kerja apapun, aku marah kalau kamu sibuk ngurusin rumah! Jangan keluar rumah tanpa suami. Aku nggak mau ada lelaki yang genit sama kamu. Kamu itu cuma milikku. Pokoknya punyaku.”
Dan masih banyak lagi peraturan-peraturan yang Alan lontarkan. Semakin kesini, Alan semakin protektif. Hidup Anna kini bak permaisuri, sangat dimanja. Anna senang diperlakukan begitu. Tapi terkadang jengah juga jika perhatian Alan terlalu berlebihan. Sampai-sampai, urusan mandi pun dipersoalkan.
“Nggak boleh berendam terlalu lama, nanti kedinginan!”
Untuk yang satu itu, Anna suka ngomel karena dia paling suka berendam di bathtub kalau mandi.
Alan juga lebih sering pulang jam tiga sore hari, tidak seperti dulu yang terkadang pulang malam. Alan juga jarang ke luar kota. Dua bulan terakhir, Alan standby di Jakarta. Tugas ke luar negeri atau ke luar kota dia serahkan kepada Collin. Dia harus menemani istrinya. Begitu pikirnya.
Pagi ini, Alan tidak berangkat kerja. Dia malah menemani Anna di rumah sampai jam sepuluh. Perusahaan punya nenek moyang, buat apa dia repot-repot, mendingan direpotin istri.
Alan lebih sering berada di sisi Anna di saat Anna sedang sangat membutuhkannya. Alan sering merasa kasihan melihat Anna yang kemana-mana membawa beban bayi di perutnya. Terkadang Alan membayangkan rasa letih yang dialami Anna, sampai-sampai ia jadi sesak sendiri. Karena hamil itu tidak mudah menurutnya.
Hari itu, Alan mengajak Anna jalan-jalan menuju ke tempat-tempat yang Anna sukai. Sekarang mereka berada di mol setelah tadi ke restoran langganan.
“Mau beli apa, Mom?” tanya Alan sembari menunjuk-nunjuk perlengkapan bayi yang terpajang.
Anna mengernyit. “Mom?” tanyanya heran dengan panggilan barusan.
Anna tersenyum. Harapan Alan tinggi sekali. Tapi Anna suka.
Alan mengambili tempat tidur bayi, setumpuk celana bermerek yang masih dalam kemasan, baju-baju, tempat jemuran, selimut bayi dan satu set bedak bayi. Serta masih banyak lagi perlengkapan bayi lainnya. Alan sangat mendetail membelanjakan keperluan bayinya.
Anna malah terbengong melihat Alan sibuk mengumpulkan barang-barang yang akan dibeli. Anna tidak pernah menunjukkan barang-barang apa saja yang dibutuhkan bayi, tapi Alan terlihat memahami kebutuhan bayi.
“Apa perlu kita beli semua itu, Mas? Banyak banget?”
“Untuk anak pertama kita, kenapa enggak?” Alan percaya diri.
“Dari mana kamu bisa tahu sampe sedetail ini barang-barang yang dibutuhkan bayi baru lahir?” Pandangan Anna mengedar ke setumpuk barang yang membukit.
“Dari youtube. Aku telusuri semuanya. Aku nggak mau jadi ayah yang gagal perhatian pada anak.”
“Owalah.” Anna tersenyum.
Pelayan di sana tersenyum melihat sikap Alan, Bapak super perhatian itu.
TBC