Holy Marriage

Holy Marriage
Selingkuhan



Alan merasa cemburu melihat pandangan lelaki di sampingnya itu yang mengarah ke ibu-ibu hamil. Entah siapa yang menjadi objek pemandangan lelaki itu, mungkin istrinya sendiri. Tapi Alan merasa tidak rela jika lelaki itu menatap Anna, meski hanya sekilas. Anna hanya miliknya, tidak ada yang boleh menatap Anna apalagi Anna dalam keadaan senam. Meski Anna mengenakan jilbab dan berpakaian tertutup, namun pakaiannya itu sedikit pas di badan. Berkeringat lagi. hal itu membuat Anna terlihat semakin seksi. Sejak tadi Alan merasa terganggu dengan rasa yang menjalar dalam tubuhnya, jangan sampai lelaki itu merasakan hal yang sama saat melihat Anna.


Lagi pula kenapa tempat senam itu menyediakan tempat tunggu di sana? Si penunggu akan dengan mudah menjangkau pemandangan di ruangan senam melalui kaca bening yang menjadi pembatas.


Jika Alan yang menjadi penonton di sana, tidak apa-apa. Alan sama sekali tidak tertarik dengan ibu-ibu hamil lainnya yang berpakaian senam dengan seksi. Dia hanya fokus pada Anna, tidak pada yang lain. Istrinya itu sangat menarik di matanya hingga ia sama sekali tidak berminat walau hanya sekedar melirik sebentar pada yang lain. Anna saja sudah cukup mewakili segalanya. Lebay. Tapi itu fakta yang Alan rasakan. Tapi kalau lelaki lain yang duduk di sana, tentu Anna akan menjadi pemandangan menarik bagi mereka.


Entah bagaimana pula Alan sempat berpikir ingin menegur pemilik tempat senam itu agar merubah posisi ruangan senam, atau setidaknya kaca pembatas supaya dibikin gelap. Ya ampun, kenapa Alan malah sibuk memikirkan posisi ruangan senam itu?


“Mas, mau jemput istri, ya?” tanya Alan berusaha mengalihkan perhatian lelaki itu.


Lelaki itu hanya menoleh dan tersenyum, kemudian pandangannya kembali ke arah ibu-ibu senam.


Alan bangkit berdiri di hadapan lelaki itu. Tujuannya hanya satu, berusaha menghalangi arah pandang lelaki itu ke para bumil.


“Yang mana istrinya, Mas?” tanya Alan sok kenal.


“Bukan istri kok, Mas.”


“Jadi nungguin siapa?” Alan pura-pura ingin tanya banyak, padahal dia juga sebenarnya malas sok kenal begitu.


“Loh?” Alan mengerutkan dahi bingung.


Lelaki berpenampilan kelemis itu tersenyum lagi. “Itu yang lagi senam tuh temen saya.”


“Jadi maksudnya Mas nungguin istri dari temen Mas?”


“Bukan. Selingkuhan, Mas. Biasalah, laki-laki,” bisik lelaki itu seakan sedang curhat.


Kenapa mau ngaku lelaki peselingkuh mesti ngajak-ngajak? Alan hampir menyangkal ucapan lelaki itu. Karena secara tidak langsung, kata-kata lelaki berkemeja biru itu mengajak-ajak dirinya untuk berstatus sebagai lelaki mata keranjang. Tidak. Alan tidak seburuk itu. Alan hanya menyukai Anna. Titik.


“Dia nggak lagi hamil sih, tapi ikutan senam di sini karena tempat senam yang dia suka ya di sini. Kebetulan saya pulang kerja ngelewatin tempat ini, jadi temen saya itu berniat pulang numpang saya. Istri saya nggak pernah tahu soal ini. Kalau tahu, bisa dijewer telinga saya.”


Alan terpaku mendengar kisah si lelaki kelemis. Beginikah kehidupan manusia jaman now? Memang istri pria langka itu tidak melihat, tapi Allah pasti melihatnya. Sedangkan Alan yang kemarin sempat pura-pura berpacaran dengan Cintya dan tiba-tiba Cintya beneran jatuh cinta saja membuat hidupnya cukup rumit, bahkan sempat menyesal telah membuat skenario hidup yang akhirnya dikabulkan oleh Tuhan, lalu bagimana dengan lelaki itu yang memang sengaja selingkuh? Serumit apa hidupnya nanti? Ah, kenapa Alan malah memikirkan semua itu?


TBC