Holy Marriage

Holy Marriage
Sayang Anak s2



Anna menatap koper, mengecek isinya. Pakaian renang, tas renang, pampers, dan semua perlengkapan untuk jalan-jalan sudah lengkap. Hari ini Alan menjanjikan akan liburan bersama keluarga kecilnya. Alan mengaku akan mengambil libur kerja selama sehari dan menghabiskan waktu bersama Anna dan Azzam tepat weekend hari ini.


Anna tersenyum membayangkan, bermain di waterboom, mandi dan berenang bersama Alan dan Azzam. Itu pasti sangat menyenangkan.


Oh iya, Anna lupa membawa bola kesukaan Azzam. Anna tersenyum menatap Azzam yang sedang merangkak mengejar mobil mainannya.


“Tunggu di sini sayang, Mama ambil dulu bola kesukaanmu.” Anna mengelus kepala Azzam yang rambutnya masih sangat sedikit. Ia menuju ke kamar sebelah, kamar bayi yang cat dindingnya bergambar mickey mouse serta bola-bola salju, nuansa hijau menambah kesan mewah. Mulai dari dinding, ranjang, alas kasur, serta lemari tampak elegan dengan warna hijau. Meja dan rak dipenuhi dengan mainan anak-anak.


Anna mengambi bola berwarna zebra di rak mainan lalu kembali ke kamarnya.


“Astaghfirullah…!” Anna memekik histeris melihat Azzam menelungkup dengan pipi menyentuh lantai. Anna menghambur mengambil tubuh kecil Azzam dan menggendongnya sesaat setelah melempar bola di tangannya ke sembarang arah.


“Ya ampun Azzam. Pipimu merah. Maafin Mama, seharusnya Mama nggak ninggalin kamu.” Anna menyesal menatap pipi gemil Azzam yang sudah memerah.


Hebatnya, Azzam tidak menangis. Bocah itu terlihat asik memainkan bros jilbab Anna.


Anna berlari menuju ke lemari dan tangannya meraih kotak obat, tangannya membuka kotak dengan gerakan sulit karena harus bekerja satu tangan. Tangan lainnya memegangi tubuh Azzam.


Alan keluar dari kamar mandi. Handuk melilit pinggangnya. Tangannya mengusap rambut yang masih basah setelah keramas. Ia tersenyum menatap Anna.


“Sayang, main, yuk!” Alan memeluk Anna dan mengecup punggung Anna yang berlapis kain. “Aku masih ingin.”


“Mas Alan liat deh, aku bawa Azzam.”


“Azzam tadi jatuh. Liat pipinya memerah.” Anna masih terlihat sibuk mencari obat oles. Ia mengambil obat itu setelah menemukannya.


Penjelasan Anna membuat Alan terkejut. Sontak ia langsung menatap Azzam. Dengan segera, ia meraih tubuh kecil Azzam dan menggendongnya.


“Ya ampun, sayang. Pipinya lebam. Pasti sakit.” Alan memeprhatikan pipi gemil puteranya yang semakin lama semakin membiru. “Bukannya tadi Azzam bersamamu?”


“Aku tinggal sebentar tadi ngambil bola ke kamar Azzam.” Anna mengolesi obat ke pipi Azzam. Bocah itu menggeliat seperti kesakitan akibat sentuhan Anna. Wajahnya menghindari tangan Anna.


Alan menatap Anna penuh penyesalan. “Untung Azzam celaka di tanganmu, kalau di tangan Arni, aku udah habis-habisan memarahinya.”


“Ya udah, marahin aja aku.” Anna manyun. “Aku nggak bisa ngejagain Azzam.”


Alan hanya melirik sebentar ke wajah Anna yang manja. Pandangan Alan beralih ke wajah Azzam. “Liat deh, Azzam sama sekali nggak nangis meski mukanya belur gini. Dia akan jadi anak kuat. Sama kayak papanya.” Alan mencium kening Azzam cukup lama. Yang dicium menggeliat sebentar merasakan sentuhan bibir papanya.


Anna tersenyum melihat sikap Alan yang menyayangi anaknya. Ia bersyukur memiliki suami yang perduli pada anak dan istri.


“Ya udah,sekarang kamu pegang Azzam dulu. Aku mau pakai baju.” Alan menyerahkan Azzam pada Anna yang langsung disambut oleh istrinya itu.


.


TBC