
Alan sedang bertelfonan dengan sekeretarisnya, di ruang utama. Sudah beberapa minggu ia mulai bekerja. Pembicaraan tampak serius hingga Alan tidak menyadari Anna sudah berdiri di sisinya. Untuk beberapa menit, Alan membahas berbagai hal penting di telepon dan cukup membuat Anna menyabarkan diri berdiri di sana. Tas punggung menggayut manis di sebelah bahunya. Alan berjanji akan mengantar Anna ke kampus.
Alan menutup telfonnya dan menoleh ke samping, tepat di wajah istrinya. Untuk sesaat ia terpaku melihat pemandangan baru. Anna mengenakan hijab.
“Katanya mau nganterin aku. Ayuk!” Anna tersenyum percaya diri.
Alan masih terpaku hampir tidak percaya. Sekarang istrinya memakai kerudung.
“Kenapa ngeliatin aku kayak gitu? Aku keliatan aneh?” Anna menatap penampilannya sendiri dari ujung kaki ke dada.
“Amazing!”
“O ya?” Anna tersenyum sipu, suaminya mengaguminya. “Ini adalah pemberian Kak Angel.” Anna menyentuh ujung kerudungnya. Seperti yang ia ketahui, Tuhan menurunkan pakaian untuk menutup aurat, dan itu menjadi hal utama yang mendorong niatnya berhijab. Seperti yang dikatakan Ayahnya, perempuan akan lebih terhormat bila mengenakan kerudung.
“Wow… Aku hampir nggak percaya yang di depanku sekarang adalah Anna Salsabila. Kamu cantik.” Alan terpukau menatap wajah istrinya yang menggemaskan.
Kalimat terakhir yang terdengar membuat hati Anna bersorak. Ya ampun, Alan benar-benar mampu membuatnya gembira hanya dengan kalimat pujian. Setelah tadi Anna mendapat pujian dari kedua mertuanya, juga Clarita dan Stefi, kini suaminya yang memuji. Rasanya berbeda saat pujian itu terlontar dari suaminya. Siapa yang tidak bahagia dibanggakan suami sendiri?
“Kak Anna, kita berangkat ke kampus barengan, yuk!” ajak Stefi yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
“Anna akan pergi bersamaku,” sahut Alan sebelum Anna menjawab. “Nanti pulangnya baru bisa bareng kamu. Soalnya aku belum tentu bisa jemput.”
Stefi menyenggol bahu Anna. “Cie ciee. Seneng ni yeee… Diperhatiin suami siaga. Siap anter jemput, udah kayak ojek aja. Heheeee…”
Alan dan Anna sudah berada di dalam mobil yang bergerak meninggalkan pekarangan rumah. Untuk beberapa saat keduanya diam membisu. Masing-masing sibuk dengan pemikiran yang mengisi kepala. Anna masih memikirkan mobil yang sampai saat ini belum ia dapatkan. Dan Alan? Entahlah, lelaki itu memikirkan apa.
Lama berdiam, akhirnya Anna bosan juga. Ia merasa perlu memulai pembicaraan.
“Mas Alan, kenapa sih kamu nggak kasih aku satu mobil? Dengan begitu, kamu nggak perlu repot-repot nganter jemputin aku tiap hari.”
“Jadi kamu mau mobil?”
Anna mendengus. Astaga, Alan sungguh tidak peka. Kenapa harus Anna yang meminta barulah Alan menyadarinya?
“Kalau kamu nggak mau ngasih, aku mau jemput motorku aja di rumah Ayah. Jadi aku nggak ketergantungan sama kamu kayak gini. Kemana-mana mesti minta dianterin, atau naik taksi. Kan repot.”
Alan menoleh dan tersenyum. “Aku bukannya nggak mau ngasih kamu mobil, tapi aku nggak mau kamu jadi keluyuran kalo bawa mobil sendiri. Nanti aku juga yang repot kalau kamu kenapa-napa. Jakarta ini rame, loh.”
“Lah, kamu pikir aku anak kecil? Aku tau kemana aku harus pergi. Kendaraan itu kebutuhan primer.”
“Ya udah, nanti tunggu aku ada mood, baru kukasih satu mobil untukmu.”
Anna malas menjawab lagi. Tunggu mood baik? Sampai kapan?
TBC