
“Asal kamu tau, dulunya Rafa itu kakak kelasku, kami beda dua tahun. Dia dulu kelas dua belas dan aku kelas sepuluh. Dulu dia yang ngejar-ngejar aku, bahkan nembak berkali-kali, dia juga sering ngelakuin hal-hal konyol di depan banyak orang demi mengambil hatiku. Dari situ, aku yakin banget dia sayangnya Cuma sama aku. Hanya aja, dia tuh keblinger godaan Joli. Sekarang Rafa udah kuliah. Tapi aku yakin, dengan Rafa ngeliat aku nikah secepat ini setelah putus dari dia, tentu itu berpengaruh besar untuknya.”
Bukannya mendapat sambutan iba, Alan malah tersenyum.
Anna merasa kesal disenyumin begitu, artinya Alan sedang meledeknya, atau bahkan menertawainya. Lelaki yang terlihat sulit untuk melontar senyum itu pun akhirnya tersenyum begitu mudahnya setelah mendengar kisah sedih Anna yang sudah dua kali Alan dengar.
Alan kembali membaringkan tubuh.
“Jangan tidur dulu, kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Alasan apa yang membuatmu menerima perjodohan ini, plis jawab jujur. Jangan Cuma aku doang yang mesti jujur ke kamu.” Anna kembali mengguncang lengan Alan yang mulai memejamkan mata.
“Besok aja. Aku capek.”
“Sekarang!”
Rengekan Anna membuat Alan terpaksa membuka mata. “Oke, oke. Sebenarnya aku punya pacar. Tapi Papaku nggak setuju kalau aku nikah sama dia. Sebab Papa penginnya punya menantu cewek yang kalem, sopan, dari kalangan keluarga alim, dan nggak suka pamer aurat. Dan menurut kaca mata Papa, putri dari keturunan Haji Herlambang adalah pilihan yang tepat. Sementara pacarku itu ciri-cirinya jauh dari yang diinginkan Papa. Sewaktu aku ketahuan jalan sama dia, Papa langsung ngotot ngejodohin aku sama keturunan Pak Herlambang.”
“Trus kenapa kamu nggak ngotot aja untuk pertahanin cintamu itu? Kenapa ngalah dan ngikutin kemauan orang tuamu?”
“Udah kucoba, tapi Papa punya cara untuk membuatku takluk dengan kemauannya. Papa mengancamku.”
“Papa akan ngejadiin aku miskin kalau aku nggak mengikuti perjodohan ini. Aku boleh menikahi perempuan seksi pilihanku itu dengan syarat keluar dari rumah tanpa membawa sepeser uang. Tapi kalau aku nurut, aku akan mendapat separuh dari saham perusahaan. Realistis aja, pacarku nggak mau hidup miskin.”
Anna mengesah. Ternyata Alan memiliki kisah cinta yang jauh lebih rumit. Lalu sekarang bagaimana nasib kekasihnya yang ditinggal nikah?
“Sabar, ya. Kamu mesti terpisah dari cewek yang kamu cintai gara-gara pernikahan konyol ini. Semoga suatu saat nanti kamu bersatu dengan orang yang kamu sayangi.” Anna mengelus punggung tangan Alan demi menghiburnya, membuat Alan menarik sudut bibirnya. “Trus gimana sama pacarmu itu? Emangnya dia ngerestuin kamu nikah sama cewek laen?” Anna menatap Alan prihatin.
“Mau gimana lagi? Tanpa menikah denganmu, aku akan jadi miskin. Itu artinya dia akan berdampingan dengan lelaki yang nggak punya apa-apa. Itu sebabnya dia ngijinin aku nikah. Dengan catatan, suatu saat nanti aku akan menikahinya setelah urusan saham selesai.”
“Maksudnya kamu mau poligami? Kamu mau punya istri dua, gitu?” Anna membelalakkan mata. Ia tidak mau dimadu. Itu bayangan mengerikan dalam hidupnya. Walaupun ia tidak menginginkan pernikahan itu, tapi jika diduakan, tetap saja menakutkan. Dimadu adalah istilah paling menyakitkan bagi kalangan kaum hawa.
“Yang bilang begitu siapa?”
“Kamu ngelarang aku minta cerai, tapi kamu bilang akan menikahi pacarmu itu. Berarti kamu mau punya istri dua. Jangan gila!”
TBC