Holy Marriage

Holy Marriage
Memata-matai s2



Penasaran, Anna akhirnya bangkit bangun dan berjingkat mendekati pintu balkon. Ia ingin mendengarkan perbincangan Alan. Namun ia terkejut saat berpapasan dengan Alan teat di pintu balkon.


“Eh, Mas Alan, kamu rupanya udah pulang? Aku lihat pintu balkon terbuka, kirain aku lupa menutupnya. Rupanya kamu yang ada di luar.” Anna ngeles. “Kamu ngapain di balkon malem-malem begini?”


“Nggak apa-apa. Lagi pengen ngeliat langit aja.” Alan menutup pintu dan berjalan menuju kasur.


Nah, bohong!


“Mukamu aja keliatan lelah gini loh, Mas Alan. Bukannya langsung istirahat dan tidur malah sempet-sempetnya ngeliatin langit.” Anna berusaha menyelidiki.


“Ah, iya aku kecapean.”


“Kamu tadi nelepon? Kenapa mesti sampe harus ke balkon segala?” tanya Anna sembari mengikuti Alan dan duduk di sisi pria itu. ia berusaha menangkap ekspresi wajah Alan dengan cermat. Namun ia tidak mendapati ekspresi apapun di wajah Alan. Pria itu tampak tenang.


“Iya, aku tadi telponan.” Alan meletakkan ponsel ke nakas. Kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Anna yakin Alan akan lama berdiam di kamar mandi. Anna menyambar ponsel Alan dan melihat riwayat panggilan terakhir. Nama terakhir di panggilan masuk adalah Dani. Siapa Dani? Itu nama laki-laki. Ah, bagaimana bisa Anna mencurigai pria bernama Dani memiliki hubungan dengan Alan? Itu mungkin urusan bisnis. Anna kemudian mengecek private chat dan sms, namun ia tidak menemukan apa-apa.


Ya ampun, sesungguhnya Anna merasa bersalah dan merasa sangat kejam dengan memata-matai suami begitu. Menandakan ia tidak mempercayai Alan. Namun sikap Alan akhir-akhir ini berbeda, memaksanya bersikap demikian. Anna buru-buru meletakkan ponsel Alan ke tempat semula saat pintu kamar mandi terbuka dan Alan menyembul ke luar.


Alan yang tampak letih itu mendekati ranjang dan berbaring.


Anna masih duduk di tepi ranjang. “Mas Alan mau kubikinin teh?”


Alan menggeleng. “Enggak. Aku mau tidur.” Alan memejamkan mata.


Anna akhirnya menysuul berbaring di sisi Alan. Biasanya setiap pulang kerja, Alan selalu nyosor memeluk Anna dan minta jatah bercinta karena mengaku rindu sudah seharian tidak bertemu. Namun akhir-akhir ini pria itu tidak melakukannya. Alan yang dulunya seperti pria hipersex karena tidak puas melakukan hubungan dua kali yaitu malam dan pagi setiap hari, kini tidak lagi demikian.


Bunyi ponsel membuat Alan meraba nakas lalu melihat pesan masuk.


Dari Naga.


Gimana, bro?


Nggak penasaran sala Alta?


Rasanya pasti lebih legit dari Anna.


Next, masih pesan dari Naga.


Nggak akan ada cewek yg menolak pesonamu meski kau udah punya istri


Cobain aja dulu.


Alta nggak akan mungkin nolak kamu.


Alan mendelete pesan dan meletakkan ponsel kembali ke nakas. Ia mengubah posisi tidur menghadap Anna dan memeluk wanita itu.


***


Anna menatap Aldi yang tengah memberi materi. Cara Aldi menyampaikan materi benar-benar menyenangkan, mudah dipahami, tak ada istilah dosen dan mahasiswa, tapi lebih kepada persahabatan.


“Baiklah. Saya sudahi materi hari ini. Kita bertemu dua hari ke depan.” Aldi menuju mejanya. Ia ingat sesuatu dan mengangkat wajah. “Serahkan catatan nama-nama yang ikut dalam acara seminar yang dimentori oleh dosen dari Universitas Indonesia dan UGM.”


Seorang mahasiswa menyerahkan catatan nama dan Aldi beranjak keluar.


Anna berdiri meninggalkan meja. Ia termasuk di salah satu daftar nama dalam catatan itu. Senang sekali rasanya bisa mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh para dosen. Pasti akan bermanfaat untuknya.


“Anna, kamu ikut seminar? Namamu ada di daftar.” Aldi yang berjalan sambil membaca daftar nama catatan, terhenti ketika menoleh dan mendapati Anna melintasinya.


“Iya. Aku ikut.” Anna menjawab sumringah. Semangatnya luar biasa.


“Bagus. Bagaimana kalau aku memintamu menjadi bagian di acara ini?”


“Maksudnya?”


“Jadi MC. Aku yang akan membimbingmu.”


“Setuju.”


“Kita bertemu di seminar.”


“Siap, pak Dosen.”


Aldi tersenyum dan berlalu pergi.


***


TBC