
“Sengaja, supaya ada nilai komedinya. Ngeliat dia nyengir saja, kalian tertawa, bukan?” jawab Alan.
“Hahaaaa...”
Gemuruh tawa semakin riuh.
“Ada lagi yang mau bertanya?” tanya Alan lagi.
Banyak yang mengangkat tangan, mayoritas cewek.
“Wah, mayoritas penanyanya cewek, ya?” Alan kemudian menunjuk seorang cewek dan mempersilahkannya.
“Sekarang udah punya calon jodoh belum?”
Gelak tawa pecah membuat ruangan menjadi gaduh. Alan kembali tersenyum, senyuman manis yang memikat mata yang memandang.
“Kenapa pertanyaannya nggak ada yang berbobot?” Alan balik nanya, masih dengan seulas senyuman yang membuat ketampanannya naik beberapa kali lipat.
“Kita jangan lari dari pokok pembahasan, ya!” lanjut Alan tak ingin menjawab pertanyaan.
“Kemarin Anda sendiri yang mengumumkan belum dapet jodoh, dan sekarang Anda tidak mau menjawab. Anda sendiri loh yang memulai rasa penasaran kami.”
Alan kalah telak. Gadis penanya itu ngotot sekali, sampai nekat bicara begitu.
“Oke, tidak masalah jika kalian ingin tahu status saya. Saya masih singel, belum menikah dan belum punya pasangan,” jawab Alan akhirnya.
Deg. Jantung Anna mulai terobrak-abrik. Jadi dia tidak diakui? Kenapa Anna merasa gerah dengan pengakuan Alan? Anna jadi merasa seperti calon rahasia bagi Alan. Anna hanya ingin pengakuan. Tapi apa pantas ia mengharap diakui oleh pria sesempurna Alan? Tidak.
“Pst, lo nggak ada niatan buat ngajuin pertanyaan? Calon suami lo, tuh,” bisik Arini sembari menyenggol lengan Anna.
Anna menggeleng dengan muka cemberut.
Anna terkesiap menyaksikan seorang cewek yang tiba-tiba mendaratkan kecupan singkat di pipi Alan. Ia terpaku melihat Alan yang melayani cewek-cewek alay tersebut.
“Ya ampun, gila ya pake cium-cium segala,” komentar Arini gedeg. “Dasar gatel! Lo nggak marah, Ann?”
“Kenapa mesti marah? Emangnya apa alasan gue buat marah? Apa gue mesti ngaku-ngaku kalo gue ini calonnya Alan? Sementara gue sendiri nggak mau ada yang tau kalo gue ini mau dikawinin, jadi nggak ada yang boleh tau kalo gue ini calonnya Alan.”
“Trus lo nggak sebel gitu negeliat calon lo ditempelin cewek-cewek gitu?”
“Alan sendiri yang bilang dia jomblo, nggak punya pasangan. Kenapa gue yang sebel? Rin, hubungan kami terjalin atas ikatan perjodohan, itu pun gue Cuma peran pengganti. Nggak ada hak gue di sini.”
Arini hanya bisa mengelus lengan Anna. Andai dia yang berada di posisi Anna, pasti ia akan sangat patah hati.
Anna berlari mengejar Alan ketika pria itu berhasil meloloskan diri dari kerumunan para cewek alay. Ia berjalan dengan langkah lebar menuju lamborghini yang terparkir di samping gedung sekolah.
“Tunggu!” teriak Anna membuat Alan menoleh.
“Maaf, aku nggak punya waktu,” ucap Alan selayaknya menghadapi para cewek lainnya. Dia tidak seperti sedang menghadapi Anna. Pria itu melanjutkan langkah kakinya.
Alan berubah dingin ketika berada di lingkungan umum.
“Aku Cuma mau ngucapin makasih. Kamu udah mengabulkan keinginanku untuk dateng ke sekolah,” seru Anna.
Alan hanya menoleh sekilas dan mengangguk. Kemudian masuk ke mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh supirnya.
***
TBC