Holy Marriage

Holy Marriage
Segalanya Mendadak



“Selamat pagi Tuan Alan, klien dan rekan sudah berkumpul dan menunggu untuk pertemuan di ruang meeting,” seseorang menyambut Alan di koridor dengan membungkukkan setengah badan sebagai tanda hormat.


“Hm.” Alan terus berjalan dnegan langkah lebar, gerakannya tergesa-gesa karena sadar sudah terlambat beberapa menit. Semua orang pasti sudah menunggu.


Alta muncul dari ruangan saat dari kaca bening yang menjadi pembatas ruangan, dia melihat Alan melintas. “Pak Alan, pertemuan ini sangat mendadak dan Bapak tidak memberitahukan kepada saya sebelumnya. Alhasil perubahan jadwal pun juga mendadak.”


Alan tidak merespon ucapan sekretarisnya. Dia mendengarkan saja tanpa harus menjawabnya.


“Bapak yang telah mengubah jadwal dan sekarang Bapak terlambat hadir,” lanjut Alta.


Alan masih tidak merespon. Sekretarisnya itu memang banyak bicara. Sekarang pun dia terlihat menyalahkan Alan. Berani sekali dia.


“Ini mengenai kedisiplinan dan komitmen kerja, pak. Meski perusahaan ini adalah milik keluarga William, tapi tidak etis jika peraturan hanya berlaku untuk bawahan saja. Saya pikir, atasan yang komitmen adalah atasan yang smart dan luar biasa. Inilah yang dibutuhkan oleh seluruh karyawan. Seorang pemimpin yang smart dan bijak adalah yang…”


“Kau tidak tahu apa yang terjadi!” potong Alan membuat Alta membungkam.


Alta sadar tadi sudah kelepasan bicara. Mungkin Alan tidak menyukai perkataannya. “Maaf jika saya terkesan menggurui, Pak.” Alata mengikuti langkah Alan melintasi koridor.


“Lalu bagaimana dengan jadwal di Yogyakarta, Pak? Hari ini Bapak ada undangan di UGM? Seharusnya Bapak sudah berangkat sekarang, tapi Bapak sekarang justru membuat pertemuan dadakan begini.”


“Soal itu sudah aku bicarakan dan acaranya diundur satu minggu lagi.”


“Baik, kalau begitu nanti saya catat jadwal pengundurannya, Pak.”


“Ikut aku ke ruangan meeting!”


“Siap, Pak!” Alta mengikuti bosnya memasuki ruangan meeting.


“Selamat pagi!” sapa Alan dan dijawab oleh semua yang hadir dengan salam pagi juga.


Pandangan Alan mengedar ke sekeliling. Ada Reno yang duduk di sisi kirinya.


“Maaf, saya terlambat karena sesuatu hal yang sangat mendesak dan tidak dapat dituda,” kata Alan mendominasi. Suaranya yang tegas dan penuh wibawa membuat seisi ruangan mendengarnya dengan khidmat. Ruangan benar-benar hening.


Bahkan suara pena terjatuh pun terdengar cukup keras saking heningnya. Seseorang yang menjatuhkan pena tidak berani membungkukkan badan untuk memungut pena yang terjatuh. Mereka semua tahu etika saat berada di ruangan meeting. Tenang, banyak diam, dan tidak bergerak jika bukan untuk keperluan yang sangat dibutuhkan. Dan pena jatuh bukanlah hal urgent.


“Pada intinya saya mengadakan pertemuan dadakan ini karena sesuatu yang juga mendesak.” Alan kembali bersuara dengan tegar dan tatapan setajam elang. “Baik, langsung pada intinya, mulai hari ini saya akan mengangkat jabatan seseorang yang sangat saya percaya untuk mengelola perusahaan ini. Reno, kau menjadi wakilku sekarang.”


Reno, sahabat Alan terkejut mendengar penjelasan Alan. Sebelumnya, Alan bahkan tidak pernah membicarakan hal itu.


“Saya yakin Reno memiliki kemampuan yang baik dalam memimpin perusahaan. Intinya, mulai saat ini segala sesuatunya harus melalui Reno terlebih dahulu,” lanjut Alan membuat seisi ruangan tercengang. “Segala kepentingan dan kerja sama dengan perusahaan lain bisa dibicarakan dengan Reno. Renolah yang akan menghandle segalanya di perusahaan ini.”


“Sungguh penghargaan yang luar biasa bagi saya,” komentar Reno yang tidak menyangka akan mendapat kabar baik tersebut.


“Setelah ini, Reno yang akan mengatur siapa yang akan menggantikan posisi sebelumnya,” tukas Alan.


TBC


.


.


.