
Alan duduk di sofa dengan posisi tubuh setengah berbaring. Kepalanya menyandar di sandaran sofa dan matanya terpejam, tangan kanannya menyentuh kening dan memijitnya pelan.
“Woi, Alan! Jangan stres gitu, dong!” Reno menatap Alan iba. Tidak pernah sahabatnya itu sefrustasi sekarang, tapi yang terlihat kini Alan jauh lebih menderita dari narapidana yang diarak menuju tiang gantungan. Reno menepuk paha Alan cukup keras namun tidak dihiarukan. Alan tampak betah dengan posisinya dan mata terpejam erat.
Berkali-kali Alan mengacak rambutnya frustasi, berkali-kali pula Alan mengusap wajahnya kasar. Raut mukanya jelas memperlihatkan frustasi yang mendalam.
“Gue tersiksa, Mbet.”
“Cuma gara-gara cewek, lo sedepresi ini? Ayolah, Alan! Tunjukin kalo lo strong.” Reno memukul lengan Alan supaya Alan bangkit, tapi tetap saja Alan diam. “Lemah lo. Melempem. Lo bisa kok bikin tuh cewek ngerti kalau sebenernya lo terlalu berharga buat dia. Pasti bisa. Hanya butuh keyakinan, sebentar lagi aja, Alan. Jangan nyerah. Ayolah!”
Alan masih diam.
Mulai kesal, Reno berpikir sebentar. Kemudian ia ke belakang dan kembali membawa beberapa botol minuman beralkohol, membuka tutupnya dan menuangkannya ke gelas. Tak perduli busa meluap tumpah dan mengotori meja yang terbuat dari kaca.
Reno menyerahkan gelas ke tangan Alan dan menuntunnya ke mulut Alan. Reno paham betul, selama ini Alan tidak mengenal minuman keras kecuali ketika ada pesta atau acara resmi kantor yang menyediakan minuman beralkohol. Hanya Reno yang kerap menyentuh minuman itu. Dan Reno ingin Alan melupakan masalahnya untuk sejenak dengan cara minum. Reno tidak punya cara selain merekomendasikan minuman, cara terburuk yang harus Alan kenal.
Perlahan Alan meneguk minuman tersebut meski meringis saat menalannya.
“Lupakan masalah lo. Gue yang depresi ngeliat lo sedih.” Reno kembali menuang minuman ke gelas dan meminumkannya kepada Alan.
Reno lega, melihat Alan sudah tidak sadarkan diri, artinya Alan sudah lepas dari beban. Ya, Reno gila yang kerap membawa Alan ke jalan yang salah. Semua masalah selalu diselesaikan dengan minuman keras. Menurutnya, jika sudah teler dan lupa ingatan, maka masalah selesai. Padahal tidak, ketika sadar, masalah tetap memberondong. Dan ini adalah pertama kalinya Alan merasakannya. Reno beranggapan, lebih baik Alan tidak sadarkan diri dari pada harus bersedih hati.
Reno mendengus saat mendengar suara bel pintu rumahnya berbunyi. Ia bergegas membuka pintu. Terkejut saat melihat sahabatnya berdiri di depan pintu.
“Colin? Hei hei, kapan lo dateng?” Reno memeluk pria bertubuh tinggi di hadapannya itu erat-erat. Disambut tawa bahagia oleh Colin dan pelukan yang tak kalah hangat.
“Gue baru pulang. Boleh nginep di rumah lo dulu? Mau pulang ke rumah tapi jarak masih jauh, capek banget gue.”
“Tentu. Kenapa enggak? Mana mungkin gue tolak lo nginep di sini, jauh-jauh dari Kalimantan, loh.” Reno menarik koper yang tergeletak di sisi kaki Colin dan membawanya masuk. “Ini ceritanya lo berenti kerja di Kalimantan apa gimana?”
“Nggak. Cuti aja.”
Mereka kemudian masuk.
TBC