Holy Marriage

Holy Marriage
Khawatir



Anna berdiri di lantai balkon sesekali menatap layar ponsel melihat jam. Sudah jam satu malam dan Alan belum pulang. Ia bingung mengartikan perasaannya sekarang. Perasaannya sedang cemas. Tapi tidak tahu cemas kenapa. Antara cemas jika ketahuan kalau Alan keluar rumah secara diam-diam, atau cemas jika Alan bermesraan dengan Cintya? Anna menggigit ponsel untuk mengurangi kecemasan yang melanda.


“Aw!” Anna memekik saat sadar sudah menggigit ponsel terlalu keras. Bisa ompong giginya jika keterusan.


Senyumnya melebar saat melihat mobil Alan memasuki pintu gerbang. Ia langsung meninggalkan balkon dan berlari menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Senyum Anna lenyap begitu membuka pintu dan melihat Alan berada dalam dekapan seseorang. Pria itu terlihat sempoyongan, dipapah menaiki teras.


“Ya ampun. Ada apa ini?” Anna menjemput Alan ke teras dan meraih lengan Alan, mengalungkannya ke lehernya.


“Alan mabuk,” jawab Colin.


Serentak Anna dan Colin menganga kaget saat saling tatap. Mereka baru menyadari bahwa mereka sudah saling kenal.


“Kak Colin?” Anna girang bukan main.


“Anna? Kok, kamu di sini?” Colin tersenyum menatap calon adik iparnya.


Anna baru ingat kalau Colin belum tau tentang pernikahannya. “Anna ini istrinya Alan. Kak Colin bisa tanya banyak soal Anna ke Kak Angel, Kak Angel pasti bisa ceritain panjang lebar ke Kak Colin. Sekarang lebih baik Anna bawa Alan cepat masuk ke dalem.”


“Oke. Kakak langsung balik. Kakak pamit dulu, ya.”


“Makasih, Kak.”


Anna memapah Alan memasuki rumah. Anna ikut sempoyongan memapah tubuh berat itu. Ia kesulitan menuntun tubuh itu menaiki anak tangga. Hampir saja keduanya menggelinding di anak tangga yang meliuk ketika kaki Anna tersandung, tapi untung saja Anna masih kuat mempertahankan kakinya.


Begitu menapak di lantai dua, Alan yang berada di pelukan Anna itu muntah mengenai baju Anna, sisanya berserak di lantai.


“Ya ampun, Alan.” Anna mempercepat langkah kaki dan otomatis tubuh Alan mengikuti masuk ke kamar. Anna meletakkan tubuh Alan pelan-pelan ke ranjang. Setelah itu, Anna keluar kamar dan membersihkan lantai bekas muntahan Alan.


Selesai dengan pekerjaan itu, ia pun kembali ke kamar. Pertama-tama, ia membuka kemeja serta celana Alan yang kecipratan muntahan.


Berikutnya, Anna masuk ke kamar kecil, mandi. Usai mandi, Anna mengenakan pakaian tidur dan bersiap hendak bobok syantik. Tapi niatnya urung saat menoleh ke ranjang, ia baru sadar sejak tadi Alan ditinggalkan dalam keadaan tidak berpakaian. Gimana jika masuk angin? Anna tersenyum geli. Alan terlihat seperti bayi gede hanya dengan mengenakan segitiga biru itu.


Anna memasangkan pakaian ke tubuh Alan setelah membersihkan tubuh itu dan mengelapnya dengan kain basah. Cukup kesulitan Anna membolak-balikkan tubuh itu karena bobotnya berat. Kemudian Anna menyelimuti tubuh Alan hingga ke dada. Sejenak Anna menatap wajah tampan Alan. Lelaki itu tampak pulas.


“Hah?” Anna memekik terkejut saat menyadari bibirnya sudah melekat di bibir Alan. Cepat-cepat Anna menarik mundur wajahnya. Bagaimana ia bisa khilaf? Tanpa sadar tadi ia memajukan wajah dan mencium lelaki itu.


Cepat-cepat Anna menarik kasur lipat di kolong ranjang yang biasanya Alan pakai untuk tidur dan menggelarnya di dekat ranjang. Ia membaringkan tubuh di kasur itu, menyelimuti tubuhnya dengan selimut dan bibir menyungging senyum.


***


TBC