
“Ya ampun, ternyata aku baru tidur setengah jam.” Alan menatap jam di pergelangan tangannya. “Ngantuk banget. Badanku capek, astaga.” Alan menggerak-gerakkan kedua lengannya ke udara untuk membuat rasa lelah sedikit memudar.
“Maaf aku pulang pagi. Tadi malem adalah malam pertamaku dengan Cintya, kamu pasti paham bukan?” Alan tersenyum mengenang sesuatu.
Anna membeku menatap senyuman itu, senyuman mengerikan yang membuat Anna merasa patah semangat. Alan mengingat-ingat sesuatu yang ia lakukan bersama Cintya. Ah ya ampun, mereka pasti pengantin bahagia. Anna memalingkan wajah membayangkan apa yang Alan kenang.
Alan melepas tuxedo dan meletakkannya ke sembarang arah, teronggok di sisi bantal.
“Anna, terimakasih. Kamu udah membuat semuanya berjalan lancar. Aku janji, secepatnya akan kuurus semuanya supaya kamu bisa lepas dari hidupku. Percayalah.”
Anna tidak tahu harus menanggapi apa.
“Aku mandi dulu. Tadi malem nggak sempet mandi. Nanti nggak sah shalatnya kalau nggak mandi.”
Anna diam menatap punggung Alan yang kemudian hilang di balik pintu kamar mandi. Hatinya mencelos menatap warna merah tertinggal di lengan tuxedo. Noda lipstik itu memanjang empat centi tak beraturan.
Sekarang Anna sadar, dalam kamus percintaan, segunung cinta akan dengan mudah dileburkan oleh setetes kebencian, tapi sebutir kebencian akan sulit dilarutkan oleh lautan cinta. Jika sudah membenci, sebesar apapun kebaikan yang diberikan, tetap akan terlihat buruk. Tapi jika sudah mencintai, seburuk apapun yang dilakukan, akan tetap terlihat baik. Kamus itu benar-benar pas untuk Alan yang memandang Cintya begitu istimewa. Apa itu yang dinamakan cinta buta? Terdengar berlebihan memang, tapi kenyataannya benar begitu. Kenapa rasanya sakit sekali?
Iya, Anna tersakiti karena jatuh cinta. Andai saja tidak ada istilah cinta diantara dirinya dan Alan, pasti ia tidak akan sepedih ini. Sepele memang, tapi tidak bisa dibohongi, bahwa perasaan perempuan itu halus.
Ya Tuhan, inikah hukuman-Mu untuk Anna yang sudah menjalankan sunah Rosul dengan niat main-main? Pernikahan yang begitu sakral yang seharusnya diniati untuk ibadah, justru ia permainkan, membiarkan suaminya melakukan perbuatan-perbuatan haram dengan mendekati perempuan bukan muhrim karena tidak ada rasa cinta dalam hati Anna hingga ia tidak perduli dengan apa yang dilakukan suaminya. Kini pernikahannya bukan lagi menyempurnakan agamanya, tapi justru merusak agamanya. Inikah hukuman-Mu? Anna terduduk di lantai meratapi sakit di hatinya. Memohon ampunan atas kesalahan yang sudah ia lakukan dalam pernikahannya.
Perhatian Anna tertuju ke punggung tangannya yang basah. Entah sejak kapan air matanya menetes-netes membasahi kulit halusnya itu.
“Anna, kamu nggak wudhu?” Alan kembali dari kamar mandi mengenakan handuk yang hanya membelit pinggang sampai lutut. Memperlihatkan badannya yang bersih dan bulu dada menghiasinya. Tetes-tetes air mengalir dari rambutnya yang basah.
Klek.
Lampu menyala dan ruangan seketika terang benderang sesaat setelah Alan menekan tombol sakelar lampu.
Anna memalingkan wajah, menyembunyikan air mata dan sembab wajahnya.
“Ayolah, Anna. Tadi kamu yang membangunkanku, sekarang malah kamu yang bengong. Waktu subuh hanya singkat.”
“Ya, aku akan wudhu.” Sekilas Anna melirik ke bawah saat pemandangan di depan matanya berubah, dan ia tidak bisa berkata banyak, hanya dua kata saja, “Handukmu melorot.”
Spontan Alan langsung melihat ke bawah dan mendapati handuknya sudah jatuh ke lantai. Agak malu-malu, Alan meraih handuknya dan kembali membelitkan ke pinggang.
TBC