
Alan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu kemudian keluar dan berjalan kaki menyeberangi jalan untuk membeli cendol.
“Taraaa… Ini dia cendolnya!” ucap Alan sekembalinya ke kamar dan langsung memberikannya kepada Anna.
Anna tersenyum dan menyeduh cendol dengan sedotan yang tersedia.
“Kok, satu aja? Untukmu mana?” tanya Anna.
“Aku nggak mau minum itu.”
“Kamu belom ngerasain. Kalau ngerasain pasti ketagihan. Cobain, deh!” Anna menyodorkan gelas kemasan berisi cendol ke arah Alan.
Alan memajukan kepala dan menyedotnya. Kepalanya mengangguk. Manis. Pikirnya.
“Heei…!” Anna menoyong kening Alan ketika Alan terus menyedotnya hingga habis separuh. “Jangan dihabisin, dong!”
“Maaf. Keenakan, sih.”
Anna kembali menyedot cendolnya. Saat sedotannya tersumbat oleh cendol, Anna membuang sedotan dan meminumnya langsung dari gelas.
“Ups, apa ini?” Anna mengambil benda yang menyelinap masuk ke mulutnya. “Hah? Cincin? Ada berliannya. Iya, ini cincin berlian.” Anna memperhatikan cincin dengan seksama. Kemudian pandangannya tertuju ke wajah Alan. Pria itu tersenyum.
“Untukmu,” tukas Alan.
Anna tersenyum, terharu. Cara Alan meletakkan cincin ke dalam cendol dan cincin tersebut masuk ke dalam mulut Anna membuatnya mendapat kejutan. “Kamu memberikan ini untukku? Indah banget, makasih.”
Alan mengambil cincin dari tangan Anna dan menyematkannya di jari manis wanita itu.
“Cocok banget di jarimu.”
“Kamu tanu banget ukuran jari manisku.”
“Semua ukuran di tubuhmu, aku tau.”
“Mulai, deh.” Anna mencubit ujung hidung Alan.
Alan tertawa.
“Tapi kalau cendol aja nggak sreg. Aku kepengen risoles,” ucap Anna.
“Mm… Itu nyarinya dimana?” terbayang di kepala Alan bagaimana ia harus berputar-putar lagi mencarikan makanan untuk istrinya.
“Ya udah, biar kucariin. Ada lagi?”
“Enggak. Itu aja.”
Alan kembali turun ke lantai bawah. Untung saja di kantin rumah sakit tersedia yang namanya risoles. Memang harganya dua kali lipat dari risoles di luaran sana. Tidak masalah. Mencari uang bukan hal sulit baginya.
Alan membawa setenteng risoles dan memberikannya pada Anna penuh kebanggaan. Kini ia bisa menjadi suami siaga.
Anna terkejut melihat risoles yang jumlahnya begitu banyak.
“Banyak banget? Kamua juga mau?” tanya Anna sembari membuka plastik.
“Itu buat kamu aja. Aku udah kenyang.”
“Loh, cabenya mana?”
“Mesti pakai cabe, ya?” Alan balik tanya.
“Mana enak makan risoles tanpa cabe. Bisa ambilin cabenya, kan?”
Astaga, hukuman apa yang diberikan Anna pada Alan? Alan mengangguk meski tulang kakinya sudah mulai hampir copot dari persendian. Ia turun lagi ke lantai bawah dan kembali ke kantin dimana tadi ia membeli risoles.
“Nggak ambil cabe tanpa beli risolesnya dong, Mas.”
Begitu keterangan pelayan kantin ketika Alan meminta saus yang diminta Anna.
“Aku tadi udah beli di sini tapi nggak dikasih cabenya,” protes Alan.
“Kurang tahu ya, Mas. Itu mungkin pelayan yang lain yang jualin. Saya mah nggak bisa kasih cabe kalau Mas nggak beli risolesnya,” tutur si pelayan sopan.
Alan sadar pelayan yang sekarang melayaninya bukanlah pelayan yang tadi. Mau bagaimana lagi, terpaksa Alan membeli risoles lagi demi mendapatkan cabe yang diinginkan.
Sebelum kembali ke kamar Anna, Alan mengantisipasi kejadian bolak-balik yang lumayan membuat kakinya pegel. Ia terlebih dahulu menelepon Anna dan menanyakan apakah ada lagi yang diinginkan Anna, dan Anna menjawab tidak ada.
Alan kembali ke kamar dengan lega dan memberikan risoles pada Anna.
TBC