
“Mas Alan!” Anna berusaha mencegah aksi pukul tersebut, tapi terlambat, kepalan tangan Alan sudah lebih dulu mendarat di pipi Naga.
Tinjuan itu meninggalkan bekas merah di pipi Naga hanya dalam hitungan detik.
“Kurasa itu saja belum cukup untuk memberi hukuman pada penjahat kelamin sepertimu,” geram Alan dengan raut tenang namun sorot mata membunuh.
“Alan, aku sahabatmu, bukan?” Naga memperlihatkan ekspresi mengiba.
“Lupakan istilah sahabat, karena sahabat adalah orang terbaik yang memberikan kebaikan, bukan petaka,” sahut Alan dengan nada dingin.
Naga diam saja, menatap Alan sambil mengusap pipi yang sakit dengan telapak tangannya.
“Stefi hamil!’ tegas Alan. “Satu-satunya pria yang menyentuhnya adalah kau.”
Naga tidak terkejut mendengar kabar itu, sudah beberapa kali ia melakukan hubungan dnegan Stefi, tentu tidak mustahil jika Stefi akan mengandung benih yang dia tanam.
“Kami melakukannya suka sama suka,” jawab Naga dengan entengnya, tanpa beban.
“Dan kau tidak merasa bersalah sudah menyentuh gadis sampai membuatnya hamil sementara sudah ada wanita-wanita lain yang menjadi istrimu?”
“Alan, kita bisa bicarakan masalah ini di luar. Tidak enak rasanya jika kita bicara di sini.” Sesekali Naga menoleh ke arah pintu ruangan lain seperti tidak ingin ada yang mendengar perbincangan mereka.
“Kau harus mempertanggungjawabkan masalah ini.”
“Ya, aku akan bertanggung jawab dan menikahi Stefi.”
“Tidak. Aku tidak mau Stefi menjadi istrimu. Kau carikan saja satu pria yang bisa menikahi Stefi. Minimal Stefi memiliki suami sampai bayinya lahir nanti, dan setelah itu, terserah, berpisah atau diteruskan.” Suara Alan penuh dengan penekanan.
“Kau tahu kalau bayi dalam kandungan Stefi adalah anakku, tapi kau memintaku supaya laki-laki lain yang menikahinya? Ini lucu, Alan.” Naga tampak tidak terima.
“Lebih lucu lagi jika kau memiliki puluhan istri. Aku tidak mau tahu, pokoknya dalam waktu satu minggu, kau harus sudah menemukan calon pengantin untuk Stefi, jika kau tidak menemukannya, maka aku sendiri yang akan menikahkan Stefi dengan pria pilihanku.”
Naga menghadang langkah Alan saat pria itu akan beranjak pergi.
Dengan wajah mengiba, Naga berkata, “Alan, aku mohon, jangan pisahkan anak dan bapaknya, aku harus menikahi Stefi.”
Dari sudut mata Anna, ia melihat sesosok wanita berdiri di pintu ruangan lain sambil terisak menangis.
Alan segera menjalankan mobil meninggalkan rumah naga.
“Mas Alan, Naga tinggal bersama siapa di rumah itu?” Tanya Anna yang merasa penasaran pada sosok wanita yang sempat dia lihat tadi.
“Naga tinggal bersama istrinya.”
Oh… Tidak salah, berarti istrinya baru saja mendengar perbincangan antara Aland an Naga. Itulah alasan yang membuat Naga merasa takut jika Alan membicarakan masalah Stefi di rumah, karena dia takut perbincangannya didengar oleh istrinya.
“Apa kamu yakin akan menikahkan Stefi dengan pria selain Naga?” Tanya Anna lagi.
“Tentu. Stefi tidak boleh menikah dengan Naga. Aku haramkan dia menikah dnegan penjahat kelamin itu.” Alan merasa terhina atas perlakuan Naga terhadap adiknya.
Tiba-tiba deringan ponsel memutus perbincangan.
Alan meraih ponselnya dari kantong jasnya. “Alta, ada apa? Oh, baik aku segera ke kantor sekarang.”
Anna menatap Alan. “Sekretarismu?”
“Ya.”
“Apa ada pekerjaan penting?”
“Aku harus ke kantor sekarang. Kamu boleh menemaniku.”
Anna tersenyum dan mengangguk.
***
TBC
Siapa di sini yang rela kalau Stefi menikah dengan Naga? yuk cung ☝️☝️